Laras turun dari mobil setelah tiba di depan kontrakan yang ditempati Sari, sahabatnya. Kedatangannya yang turun dari mobil mewah tentu saja mengagetkan Sari yang kebetulan hendak membuang sampah di depan pagar.
“Terima kasih, Pak…” ucap Laras lalu menutup pintu mobil itu.
“Laras…” panggil Sari, membuat Laras tersentak.
“Sari, astaga… kamu mengejutkanku…” ucap Laras setelah menoleh ke arah sahabatnya.
“Justru kamu yang bikin aku kaget. Pulang‑pulang turun dari mobil mewah begini. Punya siapa? Pelanggan? Jarang‑jarang lho…” tanya Sari penuh rasa ingin tahu.
Laras hanya menghela napas. Sebenarnya belum ingin bercerita, tapi takdir membiarkan Sari melihatnya turun dari mobil milik pria itu.
“Nanti kuceritakan di dalam. Tapi aku sudah lapar…” keluh Laras seraya mengusap perutnya.
“Nanti aku pesan makanan lewat layanan antar, mau?” tawar Sari.
“Boleh…” angguk Laras.
Keduanya masuk ke dalam kontrakan.
Sementara itu, tak jauh dari sana, Rangga diam‑diam mengamati Laras bersama Raka di dalam mobilnya.
“Bagaimana, Pak?” tanya Raka saat menyadari bosnya terus menatap ke arah itu.
Rangga menoleh dengan tatapan kesal, seolah tahu asistennya sedang menggodanya.
“Siapkan saja surat perjanjiannya. Tuliskan semua aturan yang harus ia patuhi, nanti aku kirimkan rinciannya kepadamu. Dan jangan lupa persiapkan rumah di kawasan City Land untuk dia tinggali,” perintah Rangga.
“Jadi Bapak benar‑benar setuju?” tanya Raka lega.
Dengan begitu satu urusannya selesai, tak perlu lagi melihat bosnya marah‑marah di kantor saat ibunya terus mendesak untuk segera menikah.
“Lalu? Mau apa lagi? Bukankah ini yang kamu inginkan?” jawab Rangga dingin.
“Pulang sekarang…!” perintahnya lagi.
Ia sedikit merosotkan tubuhnya, bersandar karena terasa lelah. Matanya menatap ke luar jendela. Ia diam, meski sudah menuruti saran Raka, bukan berarti pandangannya tentang perempuan berubah begitu saja. Baginya wanita tetaplah sama, merepotkan dan mementingkan harta.
“Saya melakukan ini semata‑mata demi Bapak…” ucap Raka pelan.
Rangga menoleh dan menatap tajam ke arah asistennya.
“A‑ah baik, Pak… mengerti…” jawab Raka seraya menggerakkan tangan seolah menutup resleting mulutnya.
Mobil pun melaju membelah kegelapan malam yang hampir beralih menjadi pagi. Sesampainya di kediaman Rangga, sebelum turun ia sempat berhenti sejenak.
“Urus tempat kerja wanita itu sampai tuntas, bagaimana pun caranya mereka harus melepaskannya. Berapapun yang mereka minta, berikan.” ucap Rangga.
“Lalu bagaimana dengan keluarga angkatnya?” tanya Raka.
“Mereka biarkan saja dulu, lihat saja nanti.” jawab Rangga lalu turun dan menutup pintu mobil.
#####
“Apa? Melepaskan Permata?” seru Mami terkejut mendengar ucapan Raka.
“Benar. Kami bersedia membayar berapapun yang Ibu minta agar dia dilepaskan sepenuhnya, atas perintah bos saya,” ucap Raka setelah berhasil bertemu langsung dengan Mami.
Raka mengeluarkan sebuah cek kosong di hadapan wanita itu.
"Anda bisa mengisinya sendiri berapapun agar anda bisa melepaskan Permata kepada kami" ucap Raka tenang.
Mami terdiam sejenak, sejujurnya tawaran itu sangat menggiurkan berapapun nominalnya bebas ia tentukan sesuka hatinya. Namun untuk melepaskan Permata, itu berarti ia akan kehilangan aset paling berharga di tempat itu. Satu-satunya sumber uang terbesarnya.
“Mi, jangan. Saat ini Permata paling banyak pemintanya,” bisik Dika.
“Enak saja mau dibawa pergi. Aku sendiri belum pernah memilikinya sepenuhnya. Dia satu‑satunya yang belum sempat kugunakan sepuasnya,” batin Dika penuh kekesalan.
“Sudah, jangan ikut campur. Lebih baik awasi saja urusan lain,” usir Mami, hatinya masih bimbang.
Dika terpaksa meninggalkan tempat itu. Matanya menatap tajam ke arah Raka seakan tengah menandainya, namun asisten itu tetap tenang tak tergoyahkan.
Di luar ruangan, Intan mencegah Dika, rasa penasarannya memuncak ingin tahu apa yang baru saja didengarnya.
“Mas Dika, benar tidak kabarnya Permata mau dibeli pengusaha kaya?” tanya Intan dengan nada lembut seraya mengusap lengan Dika.
“Dari mana kamu dengar?” jawab Dika dingin.
“Dari sana,” tunjuk Intan ke ruangan tempat Mami berbicara dengan Raka. “Kami semua mendengar percakapan mereka.”
“Kamu tenang saja, Mas. Ada aku kok… aku bisa kembali seperti dulu, bahkan bisa cari uang lebih banyak untukmu dan Mami kalau Permata sudah tak ada lagi,” bujuk Intan, melihat peluang untuk menyingkirkan saingannya.
Dika memegang tangan Intan cukup kuat lalu menghempaskannya cukup kasar untuk menghentikannya yang terus meraba tubuhnya yang kekar.
“Tak ada siapa pun yang boleh mengambil Permata dariku. Dia milikku,” bisiknya tepat di telinga Intan lalu berjalan pergi.
Mendengar ucapan itu, hati Intan makin terbakar rasa iri dan benci. Jelas sekali Dika tergila‑gila pada Laras.
“Takkan kubiarkan ini terjadi begitu saja. Aku akan memastikan Permata lenyap dari sini. Aku tak rela posisiku dulu direbutnya, apalagi dia merebut perhatian Dika. Pengorbananku selama ini dengan merelakan kesucianku, menyerahkan diri untuk Dika, dan rela bekerja di sini demi bisa tetap bersamanya tak boleh sia-sia. Tidak boleh…” batin Intan, matanya penuh kebencian.
Sementara itu, di dalam Mami yang sedang berhadapan dengan Raka menghela napas panjang. Meyakinkan diri dengan keputusannya.
“Maaf, Pak Raka. Bukan tak tertarik tawaran Bapak, tapi melepaskan Permata sepenuhnya rasanya tak bisa. Dia aset paling berharga bagiku. Kalau bos Bapak menginginkannya, boleh saja menyewa jasanya,” ucap Mami berusaha bertahan.
“Sayangnya bos saya orang yang posesif. Apa yang dia sukai tak boleh dinikmati orang lain,” jawab Raka tegas. “Dan dia menginginkan Permata. Artinya dia harus memilikinya sepenuhnya.”
“Tidak bisa. Aku tak bisa melepaskannya. Boleh pilih yang lain, akan kuberikan dengan senang hati,” tolak Mami.
“Baiklah, kalau itu keputusan Ibu… Tawaran baik‑baik dari saya ini ternyata Anda tolak begitu saja,” ucap Raka, wajahnya kini berubah serius.
Ia mengambil kembali cek kosong itu, lalu memberi isyarat kepada anak buah yang menemaninya sebelum menerima berkas yang disodorkan.
“Silakan baca. Kalau ingin usaha ini tetap berjalan, serahkan Permata. Kalau menolak, semua bukti ini kuserahkan ke pihak berwenang sampai seluruh usaha Ibu hancur lebur,” ancam Raka tanpa nada bersahabat.
Mami segera menyambar berkas itu dan membacanya. Matanya membelalak saat melihat isinya, catatan lengkap seluruh jalur usahanya, termasuk kasus penghilangan nyawa yang disertai bukti foto.
Tangannya gemetar. Selama ini dia merasa semuanya tertutup rapat tanpa jejak, tak menyangka ada yang berhasil mengumpulkan bukti sekuat itu. Mata Mami beralih menatap Raka yang tampak fokus memainkan tangannya dengan wajah tenang, bahkan tersenyum. Senyum itu justru membuat wanita itu semakin tertekan.
“Silakan laporkan saja kalau Bapak mampu membuktikannya…” jawab Mami berusaha menggertak meski hatinya sudah cemas.
Raka tersenyum sinis. “Ini yang Ibu maksud?”
Raka merogoh saku jasnya lalu memperlihatkan rekaman yang menampilkan sosok Bagas, orang yang selama ini melindungi urusan mereka agar tak terendus kini justru terikat di kursi dengan wajah penuh luka dan darah.
Mami semakin panik, tak tahu lagi harus berbuat apa. Satu‑satunya penyangga ternyata sudah jatuh ke tangan lawan.
“Baik… baik… akan kulepaskan Permata. Tapi lepaskan Pak Bagas,” mohon Mami.
“Seharusnya sejak tadi sudah setuju. Tak perlu sampai susah payah begini,” ucap Raka kembali duduk santai. “Tanda tangani surat pelepasan ini, setelah itu urusan kita selesai sepenuhnya.”
Anak buahnya mengeluarkan lembar perjanjian, lalu Raka melemparkannya ke hadapan Mami. Wanita itu membaca sekilas, lalu dengan berat hati menandatangani surat pernyataan melepaskan Permata miliknya dan tak akan pernah mengganggu atau mencarinya lagi.
Setelah selesai, Raka bangkit, mengambil kembali berkas itu, lalu berjalan keluar melewati kerumunan yang mengawasi, termasuk Dika.
Ia tersenyum sinis sambil mengangkat sedikit lembar surat itu tepat di hadapan Dika, seolah memamerkan kemenangannya.
Melihat itu, Dika segera masuk ke ruangan menemui ibunya.
“Mami sungguh melepaskan Permata?” tanyanya dengan nada tinggi.
Mami hanya mengangguk pelan sambil mengisap rokok dalam‑dalam, wajahnya kusut.
“Sial… kenapa dilepaskan begitu saja, Mi?” gerutu Dika kesal.
“Mami tak punya pilihan lain, Dika!” bentak Mami.
“Tak punya pilihan bagaimana? Tinggal menolak saja, apa susahnya?” jawab Dika dengan nada meninggi.
Mami bangkit dan menarik lengan putranya mendekat.
“Mereka tahu segalanya, bahkan soal Pak Bagas. Sekarang dia ada di tangan mereka. Kalau terjadi apa‑apa padanya, seluruh usaha kita runtuh seketika,” bisik Mami menekankan.
Dika terdiam, lalu menggeleng tak percaya. “Mustahil, Mi. Semua yang kita lakukan tersusun rapat tanpa jejak sedikit pun.”
Mami melemparkan berkas itu ke d**a putranya. “Baca saja sendiri.”
Setelah melihat isi berkas itu, amarah Dika meluap semakin tinggi.
“Sial!!! Kenapa bisa begini!!!" Dika melempar berkas itu ke lantai.
Wajahnya memerah karena kesal, tak terima harus kehilangan perempuan yang sedang ia incar saat ini.
"Aku akan mengambil kembali Permata. Dia milikku, tak ada siapa pun yang berhak merebutnya dariku!” teriak Dika.
“Dika, jangan bertindak nekat!” cegah Mami.
“Tak peduli! Permata tetap milikku!” seru Dika lalu bergegas keluar membanting pintu cukup keras.
Mami terus memanggil namanya, namun tak dihiraukan. Ia hanya bisa memejamkan mata, merasa kewalahan menghadapi kelakuan putranya ditambah kehilangan aset berharga yang sudah dibangun bertahun‑tahun.