"Pak, saya sudah berhasil mendapatkan Permata," kata Raka langsung menemui Rangga di ruang kerjanya.
Raka memberikan berkas perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Ibu Pemilik. Samar, tersungging senyum tipis di wajah Rangga saat melihat tanda tangan tersebut.
"Bagus..." Rangga mengangguk.
"Sekarang kirim seseorang untuk menjemputnya dan bawa dia ke sini," perintahnya.
"Baik, Pak. Segera akan saya jemput Permata," jawab Raka sambil mengangguk patuh.
Raka pun meninggalkan ruang kerja Rangga dan segera berangkat bersama sopir pribadi untuk menjemput Laras di alamat tempat ia tinggal bersama keluarga angkatnya.
Sementara itu, Laras yang baru tiba di rumah kembali mendapatkan permintaan mendesak dari ibu angkatnya.
"Laras... Kamu punya uang? Berikan padaku," pinta Sumiati.
"Bukannya kemarin sudah kuberikan uang?" tanya Laras heran sekaligus kesal karena setiap kali pulang, hanya uang yang selalu mereka tanyakan.
"Sudah habis, cepat berikan ke sini," desak Sumiati.
"Sepuluh juta, Bu... Dan habis hanya dalam semalam?" Laras tak habis pikir; keluarga angkatnya tak pernah berubah.
Mereka yang merusak hidupnya, namun tak pernah merasa bersalah. Sebaliknya, mereka semakin berani dan tak lagi mempedulikan keselamatan Laras, yang utama bagi mereka hanyalah uang dan kesenangan sendiri.
"Yang kemarin untuk melunasi utang ayahmu! Cepat berikan, jangan banyak tanya. Kali ini untuk kebutuhan dapur yang sudah habis, kami lapar, sekaligus membayar uang kuliah adikmu," ucap Sumiati sambil mengulurkan tangan memaksa.
"Tidak ada, uangku sudah habis. Semua yang kumiliki sudah kuserahkan padamu," tolak Laras.
"Apa?! Jangan berbohong, Laras. Ingat, kamu bisa tumbuh besar begini berkat kami! Ingatlah utang budimu, jangan pelit pada kami!" Sumiati kesal karena tak mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Pelit katamu?! Lagi pula sejak dulu aku tak pernah meminta untuk diadopsi. Aku justru lebih senang tetap tinggal di panti asuhan jika tahu akhirnya akan begini," jawab Laras.
"Dan Sandi sudah dewasa, ia mampu bekerja memenuhi kebutuhannya sambil kuliah. Kenapa semua harus aku yang menanggung?" tambahnya meluapkan kekesalan.
"Eh Mbak, ini sudah jadi tanggung jawabmu! Kamu anak tertua di rumah ini, jadi semua beban ada padamu. Aku tahu, dalam satu malam kamu pasti bisa dapat puluhan juta. Masa memberi sedikit saja berat bagimu? Lagipula kalau aku lulus nanti, kamu pun ikut merasakan manfaatnya," sela Sandi.
"Itu bukan uangku! Semua milik Mami dan sudah kuserahkan padanya. Jika kamu butuh uang, carilah sendiri! Lagipula aku hanya anak angkat, rasanya tak ada kewajiban memenuhi kebutuhan kalian," jawab Laras tenang.
PLAAKKK
"Kamu bodoh sekali!" Sumiati menampar pipi Laras.
"Kamu cukup ambil beberapa lembar saja, Mami Mamimu itu takkan tahu! Aku memasukkanmu ke sana agar jadi sumber uang kami untuk memenuhi segala kebutuhan! Mengerti kamu?!" bentak Sumiati sambil menunjuk ke arah Laras.
Laras hanya memegangi pipi yang terasa panas. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi rasa takut. Kini hanya kelelahan yang Laras rasakan yang terus dijadikan sapi perah oleh mereka. Ia menatap tajam ke arah ibu angkatnya.
"Cepat! Berikan uangmu!" desak Sumiati lagi sambil menyambar tas milik Laras.
"Tidak ada!" Laras segera menarik tas itu hingga sobek.
"Kalau begitu, lebih baik kamu melayani Om Suryo. Ia bersedia membayar mahal, sebentar lagi ia datang menjemputmu," ucap Sandi sambil tersenyum puas.
"Tidak, aku sudah lelah. Jika mau, kamu saja yang melayaninya," tolak Laras lalu berniat pergi.
Namun tangannya ditahan oleh Sandi yang menariknya cukup kasar agar tak beranjak sampai orang yang menginginkannya itu tiba.
"Tak bisa, aku sudah terima uang muka dari Om Suryo. Jadi kamu harus melayaninya hari ini juga," ucap Sandi.
"Tak mau, aku hanya melayani orang lewat perantara Mami. Aku milik Mami...!" tolak Laras berusaha melepaskan diri.
Jantungnya berdebar kencang, rasa takut mulai merayap. Ia tak ingin kesucian yang dijaga mati‑matian selama ini hilang begitu saja di tangan keluarganya sendiri.
BRAAKKKK...
Laras didorong cukup keras oleh Sandi hingga tubuhnya menabrak meja dan kepalanya terbentur ujung kursi, meneteskan sedikit darah.
"Tak bisakah kamu menurut saja, Mbak? Aku takkan bersikap kasar jika kamu tak melawan. Hanya lima juta untuk melunasi uang kuliahku, apa begitu beratnya? Kamu hanya perlu melayaninya di atas ranjang," bentak Sandi dengan wajah memerah menahan amarah.
"Benar kata Sandi, kamu masih beruntung dulu aku mengangkatmu. Tunjukkan rasa terima kasihmu dengan menuruti segala keinginan kami," tambah Sumiati.
Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu. Sandi segera membukakan pintu, tampaklah seorang pria paruh baya bertubuh agak gemuk, perut buncit, mengenakan kemeja tak berkancing yang memamerkan tato di dadanya sambil tersenyum serakah.
"Di mana wanita yang kamu tawarkan itu..." ucapnya.
"Itu dia, Om... Bagaimana menurutmu?" jawab Sandi sambil menunjuk ke arah Laras dengan wajah puas.
"Hahaha, boleh juga. Sudah kukirimkan uang mukanya, jika ia memuaskanku akan kutambah lagi," ucap pria itu sambil menatap Laras penuh nafsu.
"Aku jamin, Om. Takkan kecewa dengan pelayanannya. Ia sangat mahir dalam hal ini," bisik Sandi meyakinkan Suryo yang tampak semakin tak sabar.
"Hahaha baguslah kalau begitu. Aku tak sabar lagi. Ayo ikut bersamaku, cantik. Om janji akan berikan pengalaman yang berbeda," ucap Suryo sambil mendekati Laras.
"Tidak, aku tak mau. Lepaskan..." Laras berusaha menepis tangan pria itu.
"Tak bisa, kamu harus ikut. Aku sudah membayarmu cukup mahal kepada mereka," Suryo memaksa menarik tangan Laras.
"Tidak, jangan, aku mengidap penyakit menular," ucap Laras lantang hingga mereka seketika diam.
Mereka menatap Laras dengan terkejut. Tangan yang memegang Laras segera dilepaskan lalu dikibas‑kibaskan seolah takut tertular.
"Apa katamu? Ulangi sekali lagi," tanya Sumiati tak percaya.
"Ya, aku dinyatakan mengidap penyakit menular. Siapa saja yang menyentuhku bisa langsung tertular," jawab Laras, merasa akal-akalannya ini seketika berhasil.
Ia menatap Suryo lalu berjalan mendekat, membuat pria itu mundur beberapa langkah menjauh.
"Bagaimana Om? Masih mau?" tantang Laras meski di dalam dadanya masih tersisa ketakutan.
Ia khawatir mereka tak percaya, terlebih ia tak memiliki bukti benar‑benar mengidap penyakit yang seperti itu.
"Kamu bohong! Kamu sengaja mengatakannya agar tak melayaninya, bukan?" tuduh Sandi tepat sasaran.
Namun Laras berusaha tetap tenang menutupi kegugupannya. Bagaimanapun caranya ia harus menolak, atau segala usahanya selama ini akan sia‑sia — satu‑satunya harta berharga yang dimilikinya ada di dalam dirinya sendiri.
"Jika tak percaya, ayo kita coba. Tapi jika Om Suryo sampai tertular, kau bersedia bertanggung jawab?" tantang Laras dengan jantung yang terus berdebar.
"Tak mau, aku yang tak mau. Mana mau aku tertular penyakit semacam itu! Cepat, kembalikan uangku!" Suryo membatalkan niatnya dan menuntut uang kembali dari Sandi.
"Om, percayalah. Ia berbohong. Lihat saja, tubuhnya masih tampak sehat bugar," bantah Sandi tak mau kehilangan uang yang sudah di tangannya.
"Percayalah, Om. Penyakitku ini masih tahap awal, jadi belum terlihat gejalanya secara fisik. Jika mau bukti, ayo ke kamarku akan kutunjukkan seperti apa penyakitku itu," jawab Laras meyakinkan pria tua itu meski tindakan ini cukup berisiko.
"Ahh tidak... tidak... Sudah, kembalikan uangku. Aku tak mau ambil risiko! Cepat, mana uangnya!" ucap Suryo menarik baju Sandi dengan kasar.
"Be... besok kukembalikan..." jawab Sandi ketakutan.
"Tak bisa, harus sekarang! Segera transfer kembali uang itu!" desak Suryo.
"Akan kukembalikan, tapi besok. Aku janji," mohon Sandi.
Sebab uang itu sudah langsung dipakai melunasi tunggakan uang kuliahnya, sebagian lagi sudah dikirimkan ke kekasihnya.
"Tak bisa, kembalikan sekarang! Kamu sudah menipuku dan membuang waktuku sia‑sia hanya demi wanita penyakitan sepertinya! Cepat!" bentak Suryo tak sabar lagi.
Sandi merogoh saku mengambil ponsel dengan tangan gemetar. Ia tak tahu cara mengembalikan uang itu saat ini.
"Lama sekali..." Suryo kesal lalu menyambar ponsel Sandi.
"Aku bawa ponsel rusakmu ini! Besok harus lunas sisa uangnya, atau rumah ini kujadikan jaminan..." ancam Suryo lalu bergegas meninggalkan rumah.
Melihat pria tua itu pergi, Laras menghela napas lega. Namun menghadapi ibu dan adik angkatnya tentu belum berakhir begitu saja.
"Kamu bohong kan Laras... Kamu sengaja mengatakannya agar Pak Suryo membatalkan niatnya," tunjuk Sumiati penuh kekesalan.
"Ya... Memang kusengaja. Cukup sudah kalian menjualku!" jawab Laras tegas.
PLAAKKK...
Satu tamparan kembali mendarat di pipinya. Kali ini Sandi yang menamparnya hingga meneteskan darah segar di sudut bibir Laras. Telinganya berdengung, pandangan sesaat menjadi kabur akibat kekuatan pukulan itu.
"Gara‑gara kamu ponselku dirampas, dan kami terancam kehilangan rumah ini," tunjuk Sandi dengan kemarahan yang meledak‑ledak.
"Itu salahmu sendiri, kenapa kamu lemparkan padaku!" sanggah Laras tak mau terus menjadi kambing hitam.
Sandi hendak melayangkan pukulan kembali, namun terdengar suara ketukan yang menghentikan niatnya.
Tok... Tok...
Sandi dan Sumiati saling bertukar pandang.
"Apakah Pak Suryo kembali?" bisik Sumiati, membuat Sandi kembali tersenyum berharap.
Sementara Laras langsung merasa was‑was, berniat melarikan diri namun Sumiati melihat gerakannya dan segera menahannya. Sandi pun berjalan ke arah pintu utama dan membukanya dengan perasaan penuh harap.