Suara alarm mengejutkan Adam dari tidur lenanya. Dengan gerakan malas, tanggannya meraba-raba nakas mematikan jam yang terus berbunyi.
Adam bangun handuk menutupi bahagian badannya yang tidak memakai sebarang kain, memasuki kamar dan bersihkan diri bagi permulaan hari dengan mood yang ceria.
Sesaat keluar dari kamar, poselnya berdering. Melihat nama Mili pada layar ponsel. Pagi ini, dia ada pertemuan dengan salah satu kantor cabangnya. Namun jadual telah meleset jauh dari rencana.
"Aku kesiangan, Mili."ujarnya lansung setelah sambungan telefon tersambung.
Dari seberang, Mili terdengar tenang tapi sudut bibirnya senyum nipis. "Lena tidur, ngak papa tuan yang pimpin meeting-nya. Aku mampir selepas ini. Aku tunggu di kantor" ujarnya. Sebelum Adam memutuskan panggilan.
Begitu telefon itu berakhir, fikiran Adam melayang. Ini kali pertama setelah bertahun, dia tidur tanpa memerlukan ubat tidur atau ketiduran setelah penat berkerja dengan sendiri.
"Gara-gara aroma tubuhnya, aku dapat tidur dengan lena." Badannya cukup terasa ringan Segera dia memakai pakaian kantornya dan bersarapan pagi yang telah disediakan oleh pelayan mansion. Dan memulakan hari kerjanya denga mood yang ceria.
Seharian fikirannya, dipenuhi oleh sosok seorang wanita. Dan wanita itu bernama Anna. Tapi seolah dia sangat mengenali wanita tersebut.
Adam mengusap wajahnya dan menyandarkan tubuhnya di tempat duduk, menatap luar tingkap kereta bergerak menuju ke mansion pulang setelah lewat bekerja.
Wajahnya dan aromanya..... batin Adam.
Sementara ditempat lain.
"Miss A, harini tempahan overdose gara-gara pesta kemarin. Aku sama karyawan tidak sempat menghantar satu pesanan petang ini" Muka lelah Sam timbul bersama suaranya disebalik pintu bilik gubahan.
Aku membuka apron yang dipakai, merapikan pakaian dan ikat rambutku dilepaskan terurai kembali. "Siapkan pesanannya dan bagi maklumat. Aku bisa menghantarnya"
"Miss A bisa pergi sendirian? tanya Sam
"Bisa, selepas hantar aku segera pulang ke apartment" jawabku sambil mengambil tas.
"Ok baik, aku segera siapkan dan langsung isikan dalam mobil. Miss A a boleh tunggu di dalam mobil dahulu" kata Sam. Terus langkahku maju
*
Selesai aku menghantar dan memperkemaskan gubahan dan vas yang tersedia. Aku melangkah menuju taman mini yang berada di dalam mansion. Tidak lama pelayan menyediakan secawan kopi bersama camilan untuk dirasai.
"Usah repot bukk, aku selalu siap terus aku beransur pulang"kataku kepada buk yati separuh baya yang mempelawakan agar aku rehat sebentar
"Tidak repot, sila diminum nona. Bu kebelakang dahulu"
Aku minum dengan perlahan. Melihat kepada dekorasi taman dengan bangunan mansion yang gaya klasik. Mencetus beberapa idea bagi projek untuk masa hadapan.
"Selfie yuk" aku mengambil ponsel lalu mengatur sudut yang pas.
Jepretan pertama berhasil, aku tersenyum lebar didalam gambar. Jepretan kedua diambil dengan gaya yang berbeda. Saat hendak mengambil foto, senyumanku memudar. Dilayar ponselku menangkap sosok lelaki bertubuh tinggi muncul dalam bingkai fotoku. Senyuman nakal disudut wajah lelaki tersebut.
Cepat-cepat aku berbalik dan berdiri mengadap lelaki tersebut. Mataku langsung bertemu dengan tatapan lelaki tersebut.
"Ini seperti jejaka yang kemarin" detik haritu mengingat kembali paras wajahnya.
Pandangan mata Adam menatap Anna begitu lekat seraya tersenyum nipis. Tangannya terhulur pelan hemdak menyentuh pipi Anna bagi membuktikan ini bukan bayangan semata-mata.
Adam terpaku pabila tangannya ditepis oleh Anna.
"Hey, Sopan dikit" kataku seraya tangan lelaki tersebut semakin dekat. Kutepis dengan tegas.
Terlihat lelaki itu tersenyum kecil, tidak terpengaruh. Sorot matanya tak beralih dari pandangan wajahku.
Tiba-tiba lelaki tersebut menarik tanganku dan membawaku kedalam pelukannya,
"Si cantik"lirih suaranya terdengar pelahan. Pelukan tidak kiat namun terasa hangat badannya. Jantung ku terasa berdebar laju.
Aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi tenagaku tidak cukup kuat hingga aku memutuskan untuk menginjak kakinya. Seketika pelukannya terlepas. "Jangan m***m sesuka hati memeluk!" ketusku sambil merapikan pakaianku kembali
Adam mengadu sakit sambil melocat dengan sebelah kakinya. Tidak lama Adam kembali tersenyum dengan lebih lebar menemukan kembali wanita yang seharian menati dalam fikirnya. Tidak salah, wanita ini memang berada dihadapan bukan bayangan. Dalam pelukan terhidu kembali aroma yang membuat jantungnya berdegup kencang.
"Maaf, aku hanya pastikan kamu nona wujud dihadapanku. " kata Adam. Aku hanya berdegus perlahan.
"Perkenalkan, aku Adam Rafeal. Dan kamu? tangan Adam terhulur kepada Anna.
"Aku anna, penghantar bunga ke mansion ini" tanganya ku sambut sambil perkenalkan diri lalu segera ku tarik kembali huluran tanganku. Aku memandang lelaki tersebut yang hanya memgenakan kaosnsan celana pendek paras lutut. Sepertinya dia tinggal di mansion ini.
"Sebaiknya aku pergi, Aku akan melupakan kesalahpahaman tadi" kataku sebelum melangkah meninggalkan Adam. Bagai magnet, Adam mengikuti langkahku.
"Heh mahu apa lagi? jangan ikut aku" tegasku melihat adam masih mengikut hingga ke parkiran.
Melihat adam berhenti mengikut, aku melanjutkan langkah sambil berbalik memastikan adam tidak mengikutiku. Hingga aku memasuki mobil.
Sebelum pintu kereta ditutup, tangan adam singgap memegang lalu merendahkan kepalanya dekat dengan wajahku. Kedut sudut bibirnya terangkat melihat tingkah anna yang gemas dipandangan mata Adam.
Jelas dapat ku lihat wajah maskulin tampannya tersenyum namun mata tetap hitam garang berkilat
"Cuppp" pipiku diciumnya. Terkejut dan bola mataku membulat, Kali pertama seorang lelaki asing berani menciumku.
"Tanda perkenalan dariku, kita pasti bertemu lagi" Tangannya menarik seatbelt dan memasangkan ke tubuhku lalu menutup pintu mobil
Belum sempat aku membalas kalimatnya kerana pintu mobil ditutup segera. Aku memberi jelingan mata lantas gas mobil bergerak laju meninggalkan sosok adam yang sedang melambai tangan dilihat dari cermjn sisi mobil.
"Gila banget " desis hatiku. ku pegang dadaku berdegup laju.
"Si cantik ku" adam menyeka bibirnya yang mengecup pipi wanita yang membuat jantungnya berdegup yang masih belum terhenti.
Ponsel menekan mesej kepada Assistant Mili.
"Selepas ini aku mahu seminggu 3 kali bunga ditukar dan hanya Nona Anna yang siapkan kemasannya di mansion" - Adam
Tanpa menunggu balasan, Mili akan mengabulkan arahanku tanpa cela.
***