Nick memulakan kerjanya sebagai director di hospital warisan keluarganya. Ditemani dengan seorang assitant dan suster yang keduanya lelaki. Bertahun berada di paris tidak mengubah perwatakan Nick sepenuhnya. Masih tidak bergaul bebas walaupun di sana terbuka peluang untuk menjadi casanova. Hanya ramah dengan para pesakit dan ahli keluarga.
Di sebuah rumah sakit mewah, Dr. Nick melangkah dengan penuh semangat menuju kamar VIP tempat kakek Anna, Pak Cakra, dirawat. Senyum terukir di wajahnya, hatinya penuh harapan untuk bertemu dengan Anna. Nick berjalan diiringi sekumpulan doktor bergerak menuju ke kamar VIP.
Sambil berjalan, kali pertama para karyawan melihat Dr Nick tersenyum.
"Wahh pede bangat senyuman Dr kali ini. Harini aku baru lihat dr nick tersenyum tampan"
"Apa yang membuat Dr Nick mood ceria pagi-pagi lagi?"
"Kalau dapat jadi pasangan Dr nick pasti beruntung bangat, hari-hari mewah dengan senyuman tampannya'
Bisik-bisik karyawan wanita disekeliling namun diabaikan oleh Nick. Yang pasti langkahnya semakin laju menuju ke tempat yang ingin dia lihat "wajah cantik gadisnya".
Namun, saat membuka pintu kamar, senyumnya sedikit memudar. Hanya ada Pak Cakra yang duduk bersandar di tempat tidur, mengenakan piyama rumah sakit, dengan selang infus masih terpasang di tangannya.
"Nick, kau datang," suara tua Pak Cakra terdengar hangat.
"Ya, Kek. Aku ingin menjenguk Kakek… dan juga bertemu Anna," ucap Nick dengan nada ceria, sambil melirik sekeliling ruangan.
Pak Cakra tersenyum tipis. Ia sudah menduga bahwa pemuda ini ingin bertemu dengan cucunya. Dengan suara pelan namun tegas, ia berkata,
"Anna tidak ada di sini, dia masih di tokonya. Tapi, Nick... ada yang ingin Kakek bicarakan denganmu."
Nick menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur, menatap Pak Cakra dengan penuh perhatian.
"Kakek sangat menghargai perasaanmu pada Anna," lanjut Pak Cakra, suaranya mengandung nada harapan.
"Kakek juga ingin melihat Anna bersama seseorang yang bisa menjaganya. Kau pria baik, dokter yang sukses, dan Kakek yakin kau bisa membahagiakannya."
Nick tersenyum kecil, mendengar pujian itu membuat hatinya menghangat.
"Aku memang menyukai Anna, Kek. Aku ingin mengenalnya lebih jauh dan membuktikan kalau aku bisa menjadi pasangan yang baik untuknya."
Pak Cakra menarik napas panjang sebelum melanjutkan,
"Tapi Anna… dia menolak perjodohan ini. Dia ingin memilih pasangannya sendiri."
Nick terdiam. Sejak awal ia tahu bahwa Anna tidak menyukai ide perjodohan ini, tapi mendengarnya langsung dari kakeknya tetap terasa menyesakkan.
"Aku mengerti, Kek," ucapnya pelan, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. "Tapi… apakah Kakek ingin aku menyerah begitu saja?"
Pak Cakra menatap Nick dengan lembut.
"Tidak, Nak. Jika kau benar-benar mencintainya, berjuanglah dengan caramu sendiri. Bukan karena perjodohan ini, tapi karena kau ingin memenangkan hatinya."
Nick mengepalkan tangannya di pangkuan. Tekadnya semakin kuat. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Jika Anna ingin mencari pasangannya sendiri, maka ia akan memastikan bahwa pria itu adalah dirinya.
Yang tidak disadari Nick, jauh di luar sana, seseorang telah lebih dulu mencuri hati Anna—seorang pria berbahaya dengan tatapan dingin dan dunia yang kelam. Namun disisi kejam bagi orang lain, namun dengan cinta anna pria itu bisa tunduk.
**
Aku melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit, berusaha mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Ia terlambat. Pasti Nick sudah ada di kamar kakeknya. Hospital ini milik warisan Nick. Pikirannku dipenuhi dengan berbagai kemungkinan tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
Begitu sampai di depan pintu kamar VIP, Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mendorongnya perlahan. Mataku langsung menangkap pemandangan di dalam—Nick duduk di samping tempat tidur kakeknya, tampak berbicara dengan penuh kesungguhan.
"Tentu saja… mereka sedang membahas perjodohan ini." bisik hatiku
Pak Cakra menoleh ketika melihat cucunya masuk. "Ah, Anna, kau datang."
Nick juga menoleh, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan—seolah ada harapan, tapi juga sedikit ragu. Aku tersenyum kecil ke arah kakek sebelum mendekati tempat tidur.
“Maaf aku terlambat, tadi ada urusan di toko,” kataku singkat, mencoba mengalihkan kegugupan.
Pak Cakra hanya mengangguk pelan, lalu menatap Nick. “Nick, mungkin kau bisa bicara sebentar dengan Anna. Aku ingin beristirahat.”
Nick langsung paham maksud dari kata-kata itu. Dengan sopan, ia mengangguk dan berdiri. “Baik, Kek.”
Aku menatap Nick sejenak sebelum memberi isyarat agar mereka berbicara di luar. Tanpa sepatah kata pun, mereka berjalan keluar menuju balkon kecil di ujung koridor rumah sakit.
Suasana hening sejenak. Hanya suara angin yang berhembus lembut di antara mereka. Aku akhirnya menarik napas sebelum berbicara, suaranya terdengar tenang namun tegas.
"Nick," panggilnya pelan, menatap pria itu dengan mata yang penuh kejujuran.
"Aku tahu kau pria yang baik. Kau tampan, berwibawa, dan aku sangat menghargai perasaanmu."
Nick menatapku tanpa berkedip, menunggu kata-kata selanjutnya.
"Tapi… aku belum bisa menerima perjodohan ini. Aku ingin membiarkan waktu yang membentuk semuanya sendiri," lanjut ku dengan suara lirih.
Nick menghela napas, lalu tersenyum kecil. Senyum itu tidak menyembunyikan kekecewaannya, tapi ada kehangatan di sana.
"Aku mengerti, Anna," katanya lembut.
"Aku tidak akan memaksamu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku serius. Aku tidak akan menyerah begitu saja, tapi aku juga tidak akan memaksamu menerima sesuatu yang belum kau inginkan."
Aku sedikit terkejut dengan sikapnya yang begitu dewasa. Nick bukan tipe pria yang mendesak atau menuntut. Ia menerima keputusan Anna dengan lapang d**a, meskipun jelas ada kekecewaan dalam matanya.
Angin kembali berhembus, membuat rambut aku sedikit berantakan. Dalam hati, ia merasa lega bisa mengungkapkan semuanya dengan jujur. Namun, satu hal yang masih mengganggu pikiran ku…