Kamar di tempati Cempaka jauh lebih kecil dari kamar utama, sebenarnya di peruntukan untuk kamar pelayan, memang ada beberapa kamar tamu namun Cempaka enggan menempatinya, ia berpikir Elang pasti akan mempermasalahkannya lagi. Menyusun pakaian ke dalam lemari yang di bantu Mutia akhirnya semua sudah beres menjelang malam hari.
"Terima kasih Mutia." kata Cempaka pada gadis belia itu yang memindai sekeliling ruangan.
"Apa Nyonya bisa tidur nyenyak di kamar ini?" tanya Mutia mengingat kamar sebelumnya sangatlah luas di sertai kamar mandi yang lengkap. Sedangkan kamar ini memang lumayan bagi Mutia ada tempat tidur empuk dan lemari serta televisi, tapi tidak di lengkapi dengan kamar mandi. Persis kamar dirinya tapi kan dia seorang pelayan berbeda dengan Nyonya Cempaka adalah majikan rumah ini.
"Kenapa kamu bertanya demikian, kamu lupa aku dulunya siapa." kata Cempaka duduk di pinggir ranjang menyesap teh berada di meja nakas yang baru di bikinkan Mutia.
"Tapi sekarang kan Nyonya bukan pelayan lagi, Nyonya adalah istri Tuan Abian, Nyonya berhak mengatur rumah ini. Tuan muda Elang sungguh keterlaluan." keluh Mutia menyayangkan sikap Tuan muda Elang yang berbanding terbalik dengan sikap mendiang ayahnya yang sangat baik.
"Sudahlah Mutia tidak perlu di bahas, lebih baik kamu kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah."
Mutia mengangguk, ia undur diri keluar meninggalkan kamar Cempaka.
Tinggal Cempaka sendirian, mengerakan lehernya yang terasa kaku, ia sebenarnya ingin tidur karena sangat lelah tapi ia perlu mandi, sayangnya di kamar ini tidak ada kamar mandi, tapi Cempaka bersyukur jarak kamar ini ke dapur tidak jauh maka dari itu ia memilih kamar ini untuk di tempati.
Cempaka mengambil handuk dan beberapa perlengkapan mandinya, membuka pintu dan melangkah di lorong menuju kamar mandi. Dapur terlihat sepi karena mungkin penghuninya sudah terlelap. Cempaka masuk ke dalam kamar mandi, menghidupkan shower membiarkan tubuhnya basah. Rasanya sangat segar dan rileks, menyabuni tubuhnya dan membilasnya lagi. Setelahnya Cempaka keluar dari kamar mandi untuk kembali ke kamarnya, namun di tengah jalan ia memperhatikan seorang pelayan tidak salah Fitria memasuki kamar Elang.
Karena penasaran Cempaka mendekati kamar Elang yang ternyata pintunya tidak tertutup rapat, bisa Cempaka dengar sayup-sayup suara Fitria yang membuatnya semakin mengerutkan kening. Cempaka bukan tipikal penguntit, entah kenapa langkah kakinya membawanya ke sini karena mencurigai gerak gerik Fitria.
"Saya berani sumpah Tuan, mana mungkin saya berbohong, saya sangat lama bukan, ikut Tuan."
Elang yang duduk santai di sofa besarnya menganti chennel televisi, terlalu jengah dengan informasi di bawakan Fitria padahal ia tidak meminta. Pelayan ini mendatanginya dan mengatakan hal membuatnya semakin kesal dengan keberadaan Nyonya baru itu di rumah ini.
"Lalu Tuan akan lakukan apa dengan Nyonya?" tanya Fitria ragu karena sedari tadi ia memberikan informasi sikap Elang sangat datar tidak mengucapkan sepatah kata.
"Lebih baik kamu keluar, aku sedang malas membicarakannya." kata Elang dingin membuat wajah Fitria lesu.
"Baik Tuan." Fitria memberi hormat, ia keluar dari kamar Elang memanyunkan bibirnya kesal.
Cempaka yang masih bersembunyi di balik dinding menatap pada Fitria yang semakin melangkah jauh tidak menyadari keberadaannya, Cempaka mendelik pada pintu kamar Elang. Hatinya panas rupanya pelayan itulah seolah mengadu domba dirinya dengan putra sambungnya, entah kejelekan apa yang Fitria katakan. Besok pagi Cempaka akan memanggil Fitria dan bicara empat mata dengan pelayan itu. Cempaka berbalik ingin kembali ke kamar namun tidak sengaja ia menyenggol vas bunga berada di meja hingga vas itu jatuh ke lantai menimbulkan suara keras.
Suara itu tertangkap di pendengaran Elang, sudut matanya memicing pada pintu, tanpa basa basi ia berdiri melangkah keluar membuka pintu untuk memastikan suara itu. Keningnya mengerut menatap seorang wanita yang berlari kecil hanya mengenakan baju handuk, tangan Elang mengepal tatapannya beralih pada vas bunga yang pecah berserakan di lantai.
"Penguntit." geram Elang, langkahnya lebar mengejar wanita itu sampai ia melihat wanita itu memasuki sebuah pintu kamar, Elang menahan pintu hingga wanita itu sedikit menjerit. Tatapan mereka bertemu, Elang tercekat ternyata si penguntit adalah si Nyonya besar, istri mendiang ayahnya.
Pintu semakin terbuka, Cempaka mundur saat Elang melenggang masuk menatapnya bagai predator mangsa yang siap di lahap habis.
"Apa yang kamu lakukan di depan pintu kamarku?" tanya Elang serak menyipitkan matanya tajam melihat betapa pucatnya wajah Cempaka.
"Aku tidak melakukan apapun." kata Cempaka mengangkat dagunya, ia tidak gentar dengan aura menakutkan dalam diri Elang.
"Pembohong, inikah tabiat si Nyonya besar bisanya hanya menguntit pembicaraan orang lain." sindir Elang angkuh memasukan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Setidaknya aku tahu kebusukan kalian, Fitria pelayan itu, kamu kerjasama dengannya untuk memataiku kan." kata Cempaka lantang.
"Kalau memang iya lalu kenapa? aku harus tahu ketidak beresan terjadi di rumah ini selama si Nyonya besar berkuasa."
"Aku akan memecatnya dan aku tidak akan tinggal diam kamu selalu memojokanku, aku istri ayahmu," tekan Cempaka menunjukan jarinya ke wajah Elang yang marah padam.
Elang menyambar tangan Cempaka dan memelintirnya ke belakang hingga Cempaka menjerit kesakitan.
"Berapa kali aku katakan, di sini aku yang berkuasa karena aku sudah kembali, selama surat wasiat belum di bacakan kamu hanya bagian kecil dari simpanan ayahku, jaga sikapmu baik-baik, bukankah ibumu terbaring lemah dan perlu pengobatan." desis Elang di telinga Cempaka. Sudut mata Elang meneliti tonjolan urat kecil di leher putih Cempaka, sekejap tubuhnya terasa aneh ia lekas mendorong Cempaka menjauhkan dari dirinya hingga Cempaka terjerembab ke tempat tidur.
Sesaat Elang terpaku pada kemulusan paha Cempaka di mana baju handuk itu tersingkap, di perhatikannya dari kaki sampai ke wajah Cempaka yang menoleh sengit padanya. Rambut yang basah, wajah yang pucat tanpa riasan dan mata yang sembab membuat aliran darah di tubuh Elang semakin berdesir.
Ada ada dengan dirinya? sebelumnya ia tidak merasakan hal aneh ini. Tanpa berucap lagi Elang berbalik keluar dari kamar Cempaka.
"b******k!" umpat Cempaka kesal, ia berdiri menutup pintu kamar. Cempaka bersandar di daun pintu, air matanya menetes ancaman Elang masih sangat nyata terngiang di telinganya. Mungkinkah Elang tega menggunakan ibunya yang sakit untuk membuat Cempaka tidak berkutik?
Cempaka tahu Elang tidak akan main-main dengan ancamannya, lelaki itu tidak mempunyai hati terlebih pada Cempaka yang sangat di benci.
"Aku tidak boleh menyerah, Elang harus bisa menerimaku," gumam Cempaka.
Tertatih Cempaka melangkah ke lemari mengenakan pakaian piyamanya. Niat untuk beristirahat terurungkan, rasa lelah lenyap, Cempaka memutuskan ke kamar sang Ibu, sesampai di depan pintu Cempaka membukanya, ia masuk ke dalam menatap ibunya yang damai dalam tidur. Cempaka luruh duduk di lantai di samping ranjang, membaringkan kepalanya di sana dengan air mata mengalir deras.
Tbc