Dari jendela kamarnya Elang mengawasi seorang tukang kebun yang sedang beraktifitas, namanya David usianya lebih muda dari Elang. Sekitar 23 tahun. Badannya yang tegap dan rupa yang bagus. Elang meneliti tajam dengan hatinya semakin bergelut dengan pertanyaan.
Mungkinkah benar apa yang di katakan Fitria sebenarnya Cempaka dan David mempunyai hubungan terlarang, bahkan sebelum ayahnya meninggal?
Sungguh binal ternyata wanita itu haus dengan pria lebih muda, tidak mustahil apa di katakan Fitria suatu kebenaran.
Hari ini rencananya surat wasiat akan di bacakan, sabarlah maka saat semua beres Elang pastikan Cempaka dan ibunya akan terusir dari sini dan kehidupan mereka kembali pada kodratnya.
Saat Elang ingin beranjak namun terhentikan melihat sosok Cempaka melangkah mendekati David, senyum wanita itu merekah memberikan bibit tanaman pada David.
Mata Elang tajam, tangannya mengepal, lihatlah mereka begitu mesra bicara dan tersenyum bersama layaknya pasangan kekasih.
Sial, sepertinya wanita itu harus di peringatkan.
Elang berbalik, langkahnya lebar menyusuri lorong rumah sampai ia melihat Cempaka sudah memasuki rumah, hanya menatapnya sekilas Cempaka seakan enggan menyapa. Wanita itu melenggang melewati Elang yang bergeming berdiri di tempat.
Cih, sangat sombong.
Hati Elang semakin panas, ia menyambar tangan Cempaka hingga wanita itu memekik saat Elang memojokannya ke dinding.
"Apa yang kamu lakukuan!" desis Cempaka dengan mata melotot, ia tidak takut dengan Elang sama sekali. Cempaka memang menjaga jarak dengan Elang setelah kejadian Elang berlaku kurang ajar padanya padahal jelas siapa yang salah. Cempaka pun belum bicara dengan Fitria yang suka mengadu hal tidak benar pada Elang.
"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Elang tanpa sekejappun mengalihkan tatapannya pada Cempaka.
Mengerutkan keningnya heran, Cempaka tidak mengerti dengan apa yang di maksud Elang.
"Kamu dengan David," jelas Elang akhirnya membuat Cempaka terbelalak.
"Maksudnya kamu mengira aku ada hubungan dengan David, pikiran konyol apa itu." kata Cempaka mencoba mendorong tubuh Elang, sialnya Elang malah semakin merapat menahan kedua tangan Cempaka hingga tidak mampu berontak.
"Lepaskan aku, sudah berapa kali kamu bersikap tidak menghormatiku, bagaimanapun aku Ibu sambungmu."
"Entah sudah berapa kali juga kamu mengingatkan, Ibu yang binal." cibir Elang membuat Cempaka semakin kesal, ingin sekali ia meminta tolong tapi tidak ada satupun pelayan terlihat.
"Kuperingati kamu Cempaka Reysakilla, ayahku memang sudah tiada tapi kupastikan kamu tidak akan bisa menjalin hubungan dengan lelaki manapun, kamu seharusnya sadar dengan statusmu seorang janda dari pria terhormat bukan malah melakukan s*x dengan si tukang kebun."
Plak!
Nafas Cempaka terengah -engah setelah ia bersusah payah melepaskan diri dan menampar wajah Elang. Air mata Cempaka menetes, ia tidak pernah sekeji ini di rendahkan begitu nista.
Elang menyentuh pipinya, mendelik nyalang pada Cempaka.
"Cukup kamu merendahkanku, aku sekarang tidak peduli kamu tidak menghormatiku, tapi jangan sesekali kamu mengatakan hal buruk, aku tidak mungkin mengkhianati Mas Abian." kata Cempaka lantas mendorong d**a Elang agar menjauh memberi jarak.
Cempaka ingin beranjak dan lagi Elang menahannya, menyudutkannya kembali ke dinding, pergerakannya sangat cepat hingga Cempaka tidak mampu melawan. Kedua tangan Elang menangkup paksa pipi Cempaka dan bibirnya menyapu kasar bibir Cempaka hingga kedua pupil mata Cempaka membulat lebar.
Kenapa dia menciumku?
Air mata Cempaka semakin deras, sekuat apapun ia melawan keberingasan Elang semakin menjadi.
Elang menyudahi ciumannya, memberi jarak menatap lekat pada wajah Cempaka yang memejamkan mata penuh air mata.
Ibu jari Elang menyapu lembut bibir Cempaka yang basah, ia merunduk kembali mencium bibir Cempaka saat wanita itu tidak lagi brontak, hanya ciuman singkat sembari berbisik di telinga Cempaka.
"Ini hukuman untukmu, Ibu sambung." bisik Elang serak seraya berlalu dari Cempaka yang membuka mata dan tersandar lemah di dinding.
Menangis di kamarnya Cempaka mengutuk dirinya kenapa ia terlalu lemah, Elang seakan berkuasa bahkan lelaki itu melecehkannya dengan menciumnya sangat kasar.
Cempaka sangat berdosa dengan Mas Abian, ia tidak bisa menjaga kesuciannya untuk mendiang suaminya.
Tok tok..tok!
Pintu di ketuk sangat cepat, Cempaka meminta seseorang di luar masuk, terlihat Mutia berlari kecil mendekati Cempaka yang duduk di atas ranjang.
"Ada apa Mutia?" tanya Cempaka berdiri menyentuh pundak Mutia.
"Nyonya ayo ke kamar Nyonya Niar, beliau kesakitan."
Kedua mata Cempaka terbelalak, ia lantas berlari di susul Mutia menuju kamar ibunya.
Cempaka memasuki kamar sang Ibu, mendekati ranjang mendekap sang Ibu yang tidak sadarkan diri.
"Mutia tolong telpon dokter." pinta Cempaka panik.
"Sudah Nyonya, sebentar lagi dokter pasti datang."
Cempaka menggenggam tangan ibunya, tidak sedikitpun ia beranjak, sampai dokter datang memeriksa.
Selesai dokter memeriksa setelah memberi suntikan, menghampiri Cempaka yang berdiri bergeming menatap nanar pada sang Ibu.
"Saya sudah menuliskan resepnya Nyonya, semoga Ibu Nyonya baik-baik saja." kata dokter membenarkan kaca matanya menyerahkan secarik kertas resep pada Cempaka.
"Terima kasih dokter."
"Tidaklah Nyonya untuk membujuk kembali agar Nyonya Niar di rawat di rumah sakit saja." usul dokter beberapa kali ia menyarankan.
"Saya akan bicara pada Ibu." sahut Cempaka.
"Kalau begitu saya permisi." dokter undur diri, ruangan kamar menjadi senyap, Cempakai mendekat duduk di kursi menggenggam tangan ibunya. Sudah berapa kali Cempaka berusaha membujuk ibunya untuk di rawat di rumah sakit tapi ibunya menolak tegas, entah apa yang di dalam pikiran sang Ibu, yang hanya ingin di rawat di rumah.
Ibunya sosok yang mandiri, beliau tidak ingin menyusahkan Cempaka sejak dulu tapi dalam kondisi demikian tentu ibunya perlu penangan extra, Cempaka sama sekali tidak terbebani, ia ikhlas merawat Ibu sampai sehat sedia kala.
"Beristirahatlah Bu." bisik Cempaka mengecup kening ibunya dan berlalu keluar dari kamar.
Melangkah lelah Cempaka ingin memasuki kamarnya, namun terurungkan saat Mutia kembali menghampiri.
"Nyonya maaf, Tuan Elang meminta Nyonya untuk hadir ke ruang kerja beliau."
Kening Cempaka mengerut, untuk apa Elang memintanya ke sana?
Tidak! Pasti lelaki b******k itu ingin melecehkannya lagi.
"Aku tidak berkenan." sahut lugas Cempaka.
"Tapi Nyonya, pengacara mendiang Tuan Abian sudah menunggu." jelas Mutia.
"Secepat ini." kesal Cempaka melangkah lebar melewati Mutia. Sampai di depan pintu ruang kerja Elang tanpa mengetuk Cempaka membuka dan masuk mencuri perhatian Elang dan seorang pria di ketahui pengacara mendiang suaminya.
"Apa kabar Nyonya?" tanya si pengacara menyapa ramah pada Cempaka.
"Baik." sahut Cempaka tanpa berkenan melihat ke arah Elang yang duduk angkuh di sofa.
Cempaka duduk, ia tahu tatapan Elang tertuju padanya bahkan seakan mengulitinya namun Cempaka tidak peduli, ia menegakan dagunya, memasang wajah dingin.
"Saatnya surat wasiat saya bacakan." kata di pengacara membuka map yang tersimpan surat wasiat dari mendiang Tuan Abian.
"Sesuai isi tanpa campur tangan siapapun, Tuan Abian telah menyerahkan sepenuhnya harta warisan, dan perusahaan pada Nyonya Cempaka selaku istri sah beliau dan Tuan Elang selaku putra tunggal. Harta peninggalan harus di kelola bersama dengan baik, maka Tuan Abian meminta Tuan Elang menikahi Nyonya Cempaka sebagai wujud tanggung jawab dan bakti selama ini."
Deg.
"Apa?!" suara Elang dan Cempaka saling bersahutan, mereka saling menatap tidak percaya.
Tbc