Kedua mata Elang dan Cempaka terbelalak bersamaan, terlalu syok mendengar wasiat yang di tinggalkan.
Apa? Menikah? kekonyolan macam apa ini atau ayahnya selagi menulis surat wasiat itu dalam keadaan labil.
Oh Tuhan, tamat riwayat Elang kali ini, mana mungkin ia menikah dengan janda binal suka menggoda pria tua untuk di kuras hartanya.
Lihatnya dirinya dan Cempaka sangat jauh berbeda antara bumi dan planet Mars. Dia pria suci yang di akui dari langit ke tujuh karena sampai detik ini ia tidak pernah menjamah tubuh wanita seinci kuku pun. Catat baik- baik. Meski ia pernah mencium bibir Cempaka, itu pun sebagai memberikan hukuman tidak lebih.
Bukan Elang tidak menyukai jenis mahluk Tuhan paling seksi yang memang di ciptakan untuk kaum adam, di usia 27 tahun dengan kemapanan serta gila kerja, Elang tidak berniat main-main dalam suatu hubungan, ia begitu selektif menentukan pasangan hidup karena jaman sekarang tidak hanya pria di cap b******n oleh banyak wanita, hal serupa pun sama, di luar sana banyak wanita terlihat polos namun rela mengangkang demi uang 80 juta, ck….. bukankah itu nominal sangat sedikit rela mengadaikan harga diri untuk satu malam.
"Aku menolak tegas surat wasiat itu, ini tidak masuk di akal, dia istri mendiang ayahku." kata Elang mendelik sengit pada Cempaka yang hanya diam, entah apa yang di pendam wanita itu. Jangan katakan dia menyetujui pernikahan ini, semoga penilaian Elang salah, kalau memang benar Ibu sambungnya ini lebih rendah dari wanita 80 juta dan mungkin jauh sangat pintar untuk menguasai harta mendiang ayahnya.
"Maaf Tuan Elang, anda tidak bisa menolak, sampai pernikahan ini tidak terjadi maka harta akan di serahkan pada pihak ketiga."
"Maksudmu?"
"Bisa saudara atau sepupu Tuan Abian."
Shit! Elang mengepalkan tangannya, ia lebih ikhlas harta di serahkan ke panti asuhan dari pada pihak ketiga, siapa lain sepupu mendiang ayahnya yang masih menghirup udara di dunia meski memiliki tabiat yang sangat buruk, Paman Gibran yang sering bermain picik untuk menguras harta ayahnya. Sebab itulah kenapa Elang tidak kembali saat ayahnya di kebumikan, ia tidak sudi bertemu dengan para manusia penjilat yang tertawa di atas kematian ayahnya.
Si pengacara melirikan matanya pada Elang dan Cempaka yang terdiam, ia menganggap keputusan ini di setujui dan menutup map menyimpannya kembali ke dalam tas dan berdiri mohon undur diri.
Selepas pengacara pergi, Cempaka beranjak, sama sekali tidak menatap pada Elang, ia berlalu begitu saja keluar dari ruang kerja Elang.
Elang bersandar lelah di kursi memijat keningnya. Pusing menerpanya, ia tidak habis pikir kenapa ayahnya tega melemparnya pada si janda binal itu. Sungguh menyedihkan. Elang mendelik pada foto sang Ayah terpajang di dinding. Ia berdiri menghela nafas lelahnya menghadap foto tersebut.
"Apakah kamu ingin balasan dengan rasa kebaikanmu membesarkanku, aku tahu Ayah orang yang bijaksana, meski aku bukan putra kandungmu tapi kenapa harus dia, kalau dengan matipun aku sanggup lakukan demi baktiku tapi tidak dengan menikah." gumam Elang memejamkan matanya sejenak.
Cempaka kembali ke kamar, ia duduk di tepi ranjang dengan perasaan gelisah menatap pada foto pernikahannya dengan Mas Abian membuat hati Cempaka teriris pilu.
Kenapa mendiang Mas Abian malah menuliskan surat wasiat yang sangat mustahil Cempaka lakukan. Atas kebaikan Mas Abian selama ini dengan ibu dan dirinya, apapun Cempaka rela. Saat Mas Abian melamarnya pun Cempaka dengan ikhlas menerima beliau sebagai suami meski cinta tidak di rasakan Cempaka. Tapi selama menikah ia selalu menjalankan perannya sebagai istri yang baik.
Cempaka meraih foto di atas meja nakas, mengusapnya dengan pandangan berkaca-kaca, hampir saja air matanya tumpah yang akhirnya jatuh tanpa bisa di cegah tepat membasahi foto wajah mendiang suaminya.
"Apa yang harus Cempaka lakukan Mas, apa kata orang di luar sana andai Cempaka menikah dengan putra Mas meski Cempaka tahu dia hanya putra angkat Mas. Kenapa Mas menjodohkan Cempaka dengan dia yang tidak pernah menyukai Cempaka." lirih Cempaka pilu.
Ingatan Cempaka bergulir ke belakang pada obrolan ringannya selagi suaminya masih hidup, Mas Abian selalu mendoakan Cempaka untuk selalu bahagia dan kelak mendapatkan suami yang terbaik dari pada beliau, Cempaka kadang marah dengan ucapan suaminya namun apakah ini jawaban dari semuanya, sebenarnya Mas Abian memang menjodohkannya dengan Elang.
Cempaka mendekap foto Mas Abian, tidak sanggup ia menjalani pernikahan di landasi kebencian, pastinya pernikahan itu tidaklah bahagia.
Elang bukan Mas Abian yang baik hati. Pria itu memiliki hati yang hitam dan selalu berpikir kotor.
Deru mobil terdengar berlalu, Cempaka beranjak ke jendela kamar mengawasi dari kaca pada mobil sport berwarna hitam milik Elang melaju keluar dari gerbang rumah.
Sudah pasti Elang tidak menginginkan pernikahan ini, tapi kalau pernikahan ini tidak di jalankan maka Tuan Gibran akan menguasai sepenuhnya. Cempaka sangat tahu tabiat sepupu Mas Abian yang tamak. Sering dulu Mas Abian berkeluh kesah bahkan meminta Cempaka untuk mempertahankan harta peninggalan andai Mas Abian tidak di dunia lagi. Kenapa Cempaka baru saja bisa mencerna selama ini dari ucapan dan permintaan Mas Abian sebagai tanda Mas Abian sebenarnya tahu akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
***
"Terima kasih informasimu, bonus akan kuberikan dua kali lipat dari biasanya." kata seorang pria pada si penelpon.
Si pria memutus panggilannya dan meletakan ponselnya di atas meja kerjanya. Senyumnya mengembang bersandar nyaman di kursi kebesarannya.
Surat wasiat telah di bacakan, sudah pasti Elang akan menolaknya begitupun si janda cantik itu dan ia akan berkuasa sepenuhnya.
Gibran tidak menyangka isi surat wasiat malah memuluskan jalannya. Tidak akan ada pernikahan, ia sangat tahu persis Elang sangatlah sombong dengan kedudukan, apa kata orang lain kalau pernikahan ini tetap terlaksana, si putra tiri menikahi Ibu sambung. Hal ini akan menjadi berita panas yang pasti mempermalukan Elang.
Terkekeh geli, Gibran mengambil gelas wiski di atas meja dan menegaknya. Pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita cantik melangkah mendekatinya. Matanya mendelik dengan senyum sinis melengkung di bibir merahnya.
"Papa terlihat senang, apa ada berita menggembirakan?" tanya wanita itu di yakini berusia 22 tahun.
"Nila kamu harus dengar ini, sebentar lagi harta pamanmu Abian akan jatuh ke tangan kita." kata Gibran penuh semangat.
"Benarkah, aku ragu Papa, bukankah Elang sudah kembali, aku belum sempat bertemu dengannya." kata Nila berbinar setiap kali ia menyebut nama Elang.
"Kamu cukup jadi penonton yang baik putriku, dan lihat siapa pemenangnya." kata Gibran menyeringai.
"Oh Papa jangan terlalu tamak." Nila mengambil botol wiski dan menuangkannya ke gelas kosong.
"Bukankah Paman Abian sudah sangat baik memberikan satu perusahaan untuk Papa dan rumah sebesar ini. Lalu apa lagi Papa cari jangan katakan Papa tertarik dengan janda Paman Abian sungguh aku tidak merestuinya, bukan Papa yang menikahi janda itu tapi aku yang akan bersanding dengan Elang. Maka papapun akan berkuasa sepenuhnya. Bukankah putrimu ini lebih pintar dari seekor kancil." kata Nila dengan senyum semringah membuat raut wajah senang Gibran memudar.
Tbc