Segala persiapkan pernikahan akan segera di rampungkan, undangan pun telah di cetak. Kabar pernikahan Elang dengan Cempaka telah tersebar di beberapa kalangan, banyak yang syok tidak percaya dengan semua ini. Karena Tuan Abian baru saja meninggal beberapa bulan lalu. Tapi mereka tidak berani mengutarakan pendapat mereka secara blak-blakkan mengingat pengaruh Tuan muda Elang. Mungkin mereka hanya tidak berani dengan Elang berbeda dengan Cempaka, tidak segan segelintir orang berbisik negatif tentang dirinya saat ia berbelanja ke supermaket atau ke manapun ia pergi. Untunglah Cempaka tidak memiliki akun media sosial sudah pasti mereka akan menyerang Cempaka dengan umpatan kotor.
"Apa dia tidak malu dia baru saja di tinggal suaminya meninggal?"
"Apa dia tidak punya muka dan serakah baru menikahi tuannya, sekarang putra tuannya di embat."
"Memang p*****r dia."
"Memang sangat jalang."
"Dasar gila harta."
"Wanita rendah."
Meletakan kantong belanjaan di atas meja dapur, Cempaka duduk letih di kursi, tatapannya kosong bersama ingatan bergelut dengan sekumpulan ibu-ibu membicarakannya di supermaket barusan.
Sakit, sangat jelas lontaran itu Cempaka dengar. Seenaknya mereka menilai Cempaka buruk padahal mereka tidak tahu apa yang terjadi.
Air mata Cempaka ingin tumpah namun ia tahan saat langkah seseorang mendekat menyapanya lembut.
"Nyonya baru pulang?" seru Mutia dengan senyum semringah menatap banyak kantong belanja di atas meja.
"Iya Mutia." Cempaka menoleh dengan senyum samarnya.
"Potongkan buah dan bawa ke kamar Ibu, aku ingin menemui beliau." kata Cempaka berdiri berlalu dari Mutia yang memeriksa isi bungkusan.
"Baik Nyonya."
Cempaka melangkah menuju kamar ibunya. Pintu di buka, senyum Cempaka melengkung menatap ibunya yang duduk di kursi roda menghadap luar jendela menikmati sinar mentari.
"Bu," sapa Cempaka hingga wanita tua itu menoleh padanya.
Cempaka menghampiri, memeluk ibunya dari belakang. Sangat bersyukur kesehatan ibunya semakin membaik.
"Sebaiknya Ibu baringan dulu." kata Cempaka mendorong kursi roda dan membantu ibunya berbaring di ranjang.
Meneliti seksama, mata Niar tidak pernah lepas dari wajah Cempaka.
"Kenapa wajahmu terlihat muram sayang, apa kamu habis menangis?" tanya Niar membuat Cempaka bergeming.
"Ti..dak Bu, Cempaka baik-baik saja." kata Cempaka dengan senyumnya mengembang ia tidak ingin ibunya mencemaskannya.
Niar mendesah, meraih tangan Cempaka dan menggenggamnya.
"Apa kamu yakin dan sudah siap nak dengan keputusanmu, karena Ibu berpendapat berbeda akan hatimu."
Semakin terdiam, tenggelam dalam kubangan dilema, Cempaka memang telah meminta restu pada ibunya untuk menikah dengan Elang putra angkat dari Mas Abian, atas surat wasiat di tinggalkan mendiang Mas Abian. Ibunya selalu mendukung Cempaka dan menghormati keputusannya.
"Cempaka yakin Bu."
"Ibu harap itu benar, sebenarnya tidak harus kamu selalu mengorbankan hidupmu, Ibu tahu saat kamu menikah dengan Tuan Abian hanya sebatas hutang balas budi dan sekarang haruskah kamu melakukan hal sama, hanya karena wasiat kamu harus menikah dengan putranya, Ibu tidak ingin kamu di rendahkan di luar sana nak." nasehat ibunya memang benar, Cempaka seakan mengabaikan hak hidupnya demi orang lain, bahkan ia rela menikah dengan Elang hanya demi amanat mendiang Mas Abian.
"Cempaka bisa melewatinya, Ibu yakinlah." kata Cempaka hingga ibunya mengangguk.
"Ibu selalu mendoakanmu terbaik sayang."
Pintu terbuka menampakan Mutia yang membawa sepiring buah-buahan yang sudah di potong.
"Hayo ngomongin Mutia ya." kata Mutia dengan tawa kecilnya menghampiri majikannya.
"Dasar kamu Mutia." kata Cempaka menyambut piring buah yang di serahkan Mutia.
Mutia menatap pada Nyonya Cempaka dan Nyonya Niar bergantian.
"Bagaimana Nyonya Niar, apakah hari ini lebih semangat?" tanya Mutia pada wanita paruh baya itu.
"Tentu, ini karena semangat putri Ibu dan kamu yang setia merawat Ibu."
"Syukurlah Nyonya. Kalau begitu saya pamit dulu ada pekerjaan di dapur yang harus di bereskan." Mutia undur diri berbalik keluar dari kamar.
"Sekarang makan buahnya ya Bu, terus Ibu bisa istirahat." kata Cempaka menyuapkan buah pada ibunya.
***
"Aku ingin menemui Tuan Elang." kata seorang wanita menatap tajam pada seorang sekretaris pribadi Elang.
"Maaf Nona, Tuan tidak bisa di ganggu saat ini."
Wanita itu berdesis, ia terus melangkah tanpa mengubis panggilan si sekretaris.
"Nona anda mau ke mana?" seru sekretaris mengejarnya yang sudah di depan pintu dan membukanya tanpa permisi.
"Nona anda tidak bisa masuk seenaknya saja."
Elang yang sedari tadi sibuk di depan layar laptopnya mengangkat wajahnya menatap kehadiran seorang wanita yang tidak asing baginya di halangi sekretaris pribadinya.
"Aku ingin bertemu Elang. Kenapa kamu harus menghalangiku, kamu tidak tahu siapa aku heh!" bentak di wanita pada si sekretaris, matanya mendelik ke arah Elang yang berdiri membenarkan jasnya.
"Tinggalkan kami." titah Elang pada si sekretaris yang memberi hormat dan undur diri.
Pintu di tutup, Elang memperhatikan si wanita yang masih berdiri menatap jutek padanya.
"Kenapa kamu ke sini Nila?" tanya Elang melangkah ke sofa panjang bercorak hitam dan duduk santai di sana.
"Apakah itu benar kamu dan wanita itu akan menikah?"
"Ya...sesuai wasiat ayahku." jawab Elang enteng.
"Kenapa, bukankah kamu membencinya? Tidak ingatkah kamu dengan sepak terjangnya merayu ayahmu, aku selalu menginformasikan kebusukannya padamu tapi kenapa sekarang kamu malah menikahinya." kata Nila tidak habis pikir dengan keputusan Elang. Hampir saja ia mau pingsan mendengar kabar pernikahan Elang dengan wanita jalang itu.
"Aku tidak butuh informasimu lagi, karena aku telah di sini, keputusanku tidak bisa di ganggu gugat, busuk atau tidaknya Cempaka kelak pasti ketahuan dan aku sendiri akan memberikannya pelajaran." kata Elang santai.
"Apa kamu katakan," Nila mendengus kasar ia tidak percaya Elang tidak memerlukannya lagi. Padahal selama ini ia dengan rela menjadi mata- mata Elang, mengkhianati papanya untuk lebih dulu menjatuhkan Paman Abian.
"Kamu bisa keluar, aku sedang sibuk." kata Elang berdiri melangkah ke kursi kerjanya.
Nila memejamkan matanya sejenak, hatinya panas karena Elang telah mengusirnya seperti sampah. Tapi Nila tidak perlu meluapkannya, ia sangat tahu watak keras Elang, perlu kelembutan meluluhkan lelaki ini.
"Baiklah, aku akan pergi, kalau begitu selamat dengan pernikahanmu, kuharap nasibmu tidak seperti Paman Abian." Kata Nila berhasil memancing Elang yang mendelikkan matanya tajam.
Nila malah tersenyum, mendekat ke meja kerja Elang.
"Saat nanti resepsi pernikahanmu apakah aku bisa menginap di rumah?" tanya Nila manja.
"Silakan, sudah selesai bukan, keluarlah." usir Elang dua kali.
"Oke, sampai jumpa." Nila berbalik dengan wajah masamnya membawa hatinya yang kecewa setengah mati.
Langkahnya laju tidak memperdulikan seorang karyawan wanita yang ia tabrak bahunya hingga berkas di tangan si karyawan terhambur ke lantai.
Karyawan itu hanya melirik kesal pada Nila yang terus melangkah tanpa mau membantunya, apa lagi minta maaf.
Nila memasuki mobilnya yang terpakir, ia menggenggam kemudi stir sampai jari jemarinya memutih.
"Kamu lihat Elang, kamu salah menikahi wanita itu. Papa ternyata benar kamu memang pria bodoh." geram Nila.
Tbc