Elang menyetir mobil dalam keadaan letih, beberapa hari terakhir jadwal pekerjaan Elang di kantor sangat padat hingga ia harus berangkat pagi sekali dan pulang sangat larut malam. Meski pernikahannya sudah di depan mata, Elang tidak terlalu memikirkan akan segala persiapannya. Karena semua persiapan telah ia serahkan pada beberapa orang kepercayaannya, ia juga tidak terlalu antusias layaknya pernikahan para pasangan lain memang di landasi dengan suka saling suka yang sering di katakan cinta. Pernikahannya berbeda, tidak ada rasa cinta malah hanya kebencian, semua hanya status demi mendiang ayahnya agar tenang di surga sana. Kalau bukan karena surat wasiat itu tentu Elang tidak akan sudi mengadaikan harga dirinya demi status seorang suami dari wanita jalang.
Mengingat statusnya sebentar lagi berubah membuat Elang tidak percaya, bahkan ia mengira semua ini hanya mimpi buruk dan ia akan terbangun setelahnya.
Mobil berjalan semakin lambat saat Elang memperhatikan seorang Bapak tua penjual bunga di pinggir jalan. Perlahan Elang memarkirkan mobilnya di tepi, ia keluar mendekati si penjual bunga, tatapannya terfokus pada bunga mawar putih yang sangat indah sekali.
"Aku ingin beli bunga itu." kata Elang pada si penjual bunga yang melayani dengan ramah.
Setelah menerima sebuket bunga dari si penjual dan membayarnya, Elang memasuki mobil dan menjalankannya kembali. Mobil telah sampai di kediamannya, memasuki gerbang yang di bukakan oleh penjaga, Elang memarkirkan mobil di garasi dan keluar dari mobil membawa bunga di tangannya. Sesaat ia bergeming memperhatikan bunga mawar putih itu, mengangkat alisnya sekilas, Elang melenggang masuk ke dalam rumah.
Di awasinya sekeliling rumah terlihat sepi, matanya terfokus pada pintu kamar Cempaka, melangkah ke sana dan berhenti di depan pintu, tangan Elang terulur ingin mengetuk namun terurungkan. Elang mendengus berbalik melangkah ke dapur karena rasanya tenggorokannya sangat kering dan ia perlu air minum.
Langkah Elang terhenti saat menatap seorang wanita sendirian berkutat dengan mixer di dapur. Wanita itu terlihat sibuk dengan pekerjaannya tanpa menyadari kehadiran Elang.
'Seorang Nyonya rumah memasak di dapur?' batin Elang bertanya tidak menyangka apa yang ia lihat. Memang beberapa kali ia menangkap kegiatan Cempaka yang tidak sungkan membersihkan rumah bahkan berkebun bunga di taman belakang.
Cukup lama Elang hanya memperhatikannya dari jauh hingga tatapan Cempaka tidak sengaja mengarah padanya yang sontak membuat Elang terkejut, menyembunyikan sebuket bunga mawar putih di belakang tubuhnya.
Kening Cempaka mengerut, saat Elang melangkah lebih mendekat dan berhenti di hadapannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Elang basa basi, menyapu pandangannya pada meja pantry yang sedikit berantakan dengan berbagai bahan makanan.
"Bikin kue." jawab Cempaka lugas.
"Kamu membikin kue? kamu seorang Nyonya besar kenapa tidak suruh saja pelayan."
"Pelayan lain sedang sibuk dengan tugas mereka, lagian memasak adalah kegemaran ku, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya."
'Dan merayu para pria kaya juga, bukan,' batin Elang yang enggan ia utarakan.
Beberapa saat hening di antara keduanya, Cempaka mengabaikan Elang memilih berkutat kembali dengan adonan kuenya, meski ia tidak nyaman menyadari manik mata milik Elang yang sangat tajam memperhatikan gerak geriknya.
"Ini untukmu," Elang menyodorkan sebuket bunga yang ia sembunyikan sedari tadi di balik tubuhnya pada Cempaka.
Cempaka mengejapkan matanya, saat menatap pada bunga mawar putih yang sangat cantik sekali. Ia herankan kenapa Elang memberikannya sebuket bunga?
"Terimalah." kata Elang kesal karena sedari tadi Cempaka hanya diam tanpa mengulurkan tangan menerima bunga pemberiannya.
"Kenapa kamu memberikanku bunga?" tanya Cempaka, ia tidak ingin menerima bunga itu sebelum mengetahui alasan terselubung Elang.
"Iss... kamu ini, ku kasih ya di terima, sudah untung aku memberikannya secara cuma-cuma." gerutu Elang menggigit bibir bawahnya.
Cempaka mendesah lelah, ia tidak mungkin menerima bunga dari Elang karena sudah pasti pria ini mempunyai tujuan tertentu, bukan rahasia lagi Elang tidak menyukainya, meski dalam waktu hanya sebentar Cempaka akan menjadi istrinya.
"Kamu tidak perlu repot memberikan ku bunga karena di kebun banyak sekali aneka bunga, aku tinggal memetiknya." kata Cempaka membuat raut wajah Elang pias.
"Kamu ini tidak bisa menghargai pemberian orang ya." kata Elang menghela nafas panjangnya.
Membuang pandangannya ke samping, lalu melirik lagi pada tangan Cempaka, refleks Elang menarik tangan Cempaka dan memaksa wanita itu menggenggam sebuket bunga yang sudah beralih dari tangannya.
"Aku memberikan bunga ini karena aku ingin minta maaf atas sikapku yang berani menciummu...dulu, aku...khilaf dan menjadi beban pikiranku, tapi memang berbeda bagimu, bukan. Aku mengerti kamu sudah terbiasa di sentuh pria lain tanpa menjadi bebanmu, tapi tidak aku...aku seseorang yang suci. Jadi..."
"Cukup, aku sudah terima bunga ini jadi kamu bisa meninggalkanku, aku sedang sibuk dan tidak ingin berdebat." kata Cempaka memotong ucapan Elang.
Elang mengerutkan keningnya, tangannya mengepal menatap Cempaka yang begitu saja meletakan bunga mawar pemberiannya di atas meja dan memilih berkutat dengan adonan kue.
"Oh, sial... seharusnya aku tidak melakukan ini." gumam Elang yang tidak bisa di dengar Cempaka karena wanita itu menjauh untuk memasukan adonan kue ke dalam oven.
Tanpa berucap sepatah kata, Elang berbalik melangkah lebar meninggalkan area dapur. Memasuki kamarnya Elang melepaskan jas dari tubuh dan melemparnya asal.
"Kamu mempermalukan dirimu, Elang." kesal Elang berkacak pinggang dengan emosinya yang tinggi.
Seharusnya ia tidak membeli bunga, seharusnya ia tidak menghampiri Cempaka dan meminta maaf, lihat wanita itu sangat angkuh padahal jelas dia hanya keturunan rendahan yang hanya karena nama ayahnyalah derajat Cempaka dan ibunya setara dengan golongan seperti dirinya. Drajat bisa berubah tapi tidak dengan kodrat yang telah melekat, sekali murahan akan selamanya murahan.
Elang juga tidak mungkin membatalkan pernikahan ini, tidak di biarkannya sepupu ayahnya si tamak Paman Gibran berkuasa. Ini adalah amanat mendiang ayahnya dan Elang akan berbakti demi rasa berterima kasihnya telah membesarkan Elang selama ini.
Rencana memang telah di susun matang, setelah pernikahan Elang akan bertahan setahun atau dua tahun baru proses perceraian akan di selesaikan dan Cempaka serta ibunya bisa keluar dari rumah ini. Bukan Elang kejam ia sudah terlalu baik. Bahkan setelah bercerai nanti ia akan memberikan rumah lain serta memberikan hak Cempaka lainnya. Elang pikir Cempaka pun setuju, kalau memang wanita itu menolak berarti informasi yang di berikan Nila dan pelayan Fitria benar, Cempaka tidak hanya murahan tapi juga gila harta.
Elang duduk di tepi ranjang, mengusap rambutnya ke belakang, pandangannya kosong ke udara bersamaan pikirannya yang terus menerus terbayang wajah Cempaka.
"Ada apa denganku?" gumam Elang mempertanyakan apa yang telah di pikirannya.
Tbc
Tbc