"Silakan cicipi kuenya." kata Cempaka pada beberapa pelayan yang di mintanya berkumpul di dapur. Mereka begitu antusias mengambil kue bikinan dari majikannya, kue bolu lembut dengan toping coklat stoberi sangat menggugah selera.
"Wah ini sangat enak Nyonya." puji Mutia dengan senyum semringah.
"Benar Nyonya, anda memang sangat pandai membuat kue." Timpal salah satunya.
"Rasanya sangat pas,"
"Kue ini paling enak pernah kumakan."
"Siapa dulu yang buatnya, Nyonya cantik kita bukan."
Cempaka tersenyum mendengar lontaran pujian dari para pelayannya, ia senang kuenya di sukai di lidah mereka hingga Cempaka tidak merasa sia-sia membuat kue. Tatapan mata Cempaka tertuju pada dua pelayan yang hanya bergeming berdiri tanpa berniat mendekat ke meja untuk mengambil kue.
"Kalian tidak ikut mencicipinya, Fitria, Devi?" tanya Cempaka hingga keduanya tersentak.
Devi terlihat salah tingkah melirik pada Fitria yang memasang wajah masam.
"Saya tidak begitu suka kue Nyonya, maaf. Bukan begitu Devi?" kata Fitria angkuh menoleh pada Devi yang menggigit bibir.
"Benarkah Devi kamu tidak suka kue juga?" tanya Cempaka meneliti wajah Devi yang memucat.
Devi tertawa samar, menggerakan kedua tangannya cepat, ke kiri dan ke kanan.
"Tidak benar Nyonya, saya... sangat suka sekali kue." katanya pelan mendelik sekilas pada Fitria yang memias.
"Kalau begitu cicipilah, jangan sungkan." tawar Cempaka lantas Devi langsung mendekat mengambil piring dan sendok kecil untuk mencicipi kue buatan Cempaka.
Raut wajah Fitria semakin mengeras saat melihat Devi begitu menikmati, menyuap kue ke dalam mulutnya dengan senyum mengembang mengagumi rasanya. Ekor mata Fitria beralih pada Cempaka yang sedari tadi tanpa mengalihkan tatapannya padanya.
"Saya permisi Nyonya, tugas saya lebih penting dari pada berkumpul seperti ini." kata Fitria merunduk memberi hormat.
"Silakan." sahut Cempaka menghela nafasnya saat Fitria berbalik dan semakin menjauh.
Sampai detik ini Cempaka belum bicara empat mata dengan Fitria dengan kelancangannya mematai dan melaporkan hal tidak benar pada Elang. Belum saatnya, biarkan pelayan itu bermain dan Cempaka akan buat pelayan itu menyesali perbuatannya.
Cempaka hanya tidak mengerti kenapa Fitria seakan menaruh kebencian padanya, padahal Cempaka tidak pernah memperlakukannya buruk, Cempaka selalu berusaha berbaur dengan para pelayan seperti saudara sendiri tapi ternyata kebaikannya tidak pernah di terima dan malah di salah artikan, bahkan Fitria dengan teganya menusuk Cempaka dari belakang.
Tuhan tidak akan pernah tidur, bukan, Cempaka yakin Tuhan akan melindungi dirinya beserta ibunya.
Kue ludes di habiskan para pelayan, hanya tinggal beberapa potong yang Cempaka sisihkan untuk ibunya. Hari sudah malam, Cempaka membawa kue ke kamar ibunya untuk di cicipi. Setiap saat ia selalu berkunjung ke kamar ibunya, di saat ibunya bangun mereka akan berbincang hal yang membuat Cempaka tersenyum. Cempaka tidak pernah berkeluh kesah pada sang Ibu, ia lebih memilih memendam beban hatinya yang penting Ibu sehat dan selalu ada di sisi Cempaka.
"Kue buatanmu selalu enak sayang." puji Niar mengelus rambut ikal Cempaka.
"Bukankah Cempaka banyak belajar dari Ibu," kata Cempaka meraih tangan ibunya dan mengecup punggungnya.
"Ibu rindu di saat kita dulu masih mengontrak di rumah kecil, kita selalu bersama-sama membuat kue dan menjualnya, tapi sekarang semua sudah berbeda, ibu sakit- sakitan tidak berdaya dan Tuhan telah mengubah hidupmu lebih baik lagi, sebentar lagi kamu akan menikah, sampai detik ini Tuan Elang belum menemui Ibu. Ibu hanya ingin bicara, bagaimanapun Tuan Elang akan menjadi suamimu."
Cempaka tercekat dan terdiam, meletakan sisa piring bekas kue di atas meja nakas, Cempaka tersenyum kecut, menatap wajah ibunya yang teduh.
"Pernikahan ini tidak ada unsur keterpaksaan, kan, Ibu tidak ingin kamu tidak bahagia nak." kata Niar.
"Tidak Bu, Cempaka ikhlas, pernikahan ini atas kehendak kami, Elang belum menemui Ibu karena dia terlalu sibuk, menjelang hari pernikahan nanti Elang pasti meminta restu pada Ibu." kata Cempaka meski ia sadar seorang Elang tidak akan sudi menemui ibunya, Cempaka terpaksa berbohong agar ibunya tidak bersedih dan berpikiran.
"Sekarang Ibu beristirahatlah, sudah sangat malam." Cempaka membantu ibunya berbaring dan menyelimuti tidak lupa ia mengecup kening ibunya yang mulai memejamkan mata. Barulah Cempaka keluar membawa piring sisa kue dan menutup pintunya.
Langkah Cempaka menuju dapur, sepi sekeliling dapur, Cempaka mengambil sekaleng minuman di dalam lemari pendingin dan duduk di kursi menghadap meja bercorak putih gading. Menikmati minumannya sendiri dengan cahaya lampu temaram, tatapan Cempaka terfokus pada bunga mawar putih yang sudah ia letakan di vas berisi air.
Cempaka masih ingat kejadian sore barusan saat Elang memberikan bunga itu padanya, atas permintaan maaf telah berani menciumnya.
Cempaka mengulum bibirnya, masih ia ingat dan rasakan jejak bibir lelaki itu di permukaan bibirnya. Cempaka mendesah mendongakan kepalanya ke atas sejenak. Ia sadar menikah dengan Elang keputusan paling buruk ia ambil tapi semua demi amanat mendiang suaminya Mas Abian, setelah menikah Cempaka akan meminta perceraian dan permainan ini selesai, hak waris sepenuhnya nanti di miliki Elang, sedikitpun Cempaka tidak ingin mengambilnya. Ia hanya tidak ingin wasiat jatuh di tangan yang salah, meski pihak ketiga adalah sepupu Mas Abian sendiri namun Elang lebih mampu menjalankan bisnis dan mengelola harta peninggalan Mas Abian.
Elang memang putra angkat Mas Abian dan mendiang Nyonya Risma, banyak hal Mas Abian ceritakan padanya, selama berumah tangga Mas Abian dan nyonya Risma tidak punyai keturunan, salah satu sahabat Mas Abian bernama Adelio mengalami kecelakaan pesawat hingga seluruh anggota keluarga tewas. Keajaiban saat itu Elang berusia tiga tahun selamat meski mengalami masa kritisnya yang bisa terlewati. Menurut Mas Abian Ibu kandung dari Elanglah memberikan pengasuhan Elang pada beliau sebelum menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit.
Elang sendiri dari keluarga terpandang, dia satu-satunya pewaris tunggal dari wasiat Adelio, beberapa perusahaan ia mulai pimpin dari usianya 22 tahun di Korea Selatan yang semakin berkembang pesat. Entah selama Elang di sini mungkin perusahaan di sana di serahkan sementara waktu pengelolaannya pada orang kepercayaannya.
Cempaka tersenyum getir menyentuh helaian kelopak bunga mawar putih, dulu hanya mendengar sekilas dongeng Cinderella dan pangeran, namun Cempaka tidak tahu ending cerita itu, yang hanya ia tahu Cinderella seorang yang miskin bertemu dengan si kaya pangeran tampan. Banyak orang lain menyamakan nasibnya dengan dongeng Cinderella tanpa tahu sebenarnya, Cempaka sama sekali tidak bahagia. Status sebagai istri pria kaya dan di panggil Nyonya besar menjadi beban sendiri untuknya. Ibu benar, Cempaka pun sama rindu kehidupannya yang dulu, setidaknya ia tidak di kelilingi para manusia munafik yang siap menikamnya dari belakang.
"Tidak adakah kue tersisa untukku?" suara berat mengejutkan Cempaka yang berbalik mendapati Elang berdiri tidak jauh, lelaki itu mengenakan baju kaus bergaris legan panjang dan celana panjang kasual bercorak hitam. Mata tajamnya mendelik pada piring bekas kue dan sekaleng minuman di atas meja. Tatapan Elang beralih pada Cempaka lagi.
"Tidak ada, lagian kamu tidak akan menyukainya."
"Kamu benar." sahut Elang angkuh lalu hening sesaat.
"Minum sendirian di jam seperti ini?" Elang mengangkat alisnya tanpa di jawab Cempaka yang memalingkan wajahnya.
"Aku akan temani kamu." kata Elang melangkah ke lemari dan mengambil sebotol minuman serta dua gelas kaca, ia duduk di kursi kayu menepuk permukaan kursi yang ada di sampingnya.
"Ayolah duduk di sini. Apakah kamu terlalu sungkan berdekatan denganku, sedangkan kita sebentar lagi akan menikah." kata Elang membuka tutup botol minuman dan menuangnya ke dalam gelas.
Seharusnya Cempaka berbalik dan pergi ke kamar, tapi ia malah mendekat dan duduk di kursi melirik pada minuman berwarna merah di gelas kaca barusan di tuangkan Elang.
"Silakan di minum."
"Aku tidak mengkonsumsi minuman beralkohol." kata Cempaka mengambil sekaleng minumannya dan menegaknya, sementara Elang hanya terkekeh kecil menyesap gelas minumannya.
"Ternyata kamu wanita keras kepala, tidak terbayang selama ayah menikah denganmu, dia mampu bertahan." siindir Elang menyesap minumannya lagi.
"Sekeras kepalanya aku, tidak pernah sedikitpun aku membangkang dengan Mas Abian, beliau selalu memperlakukanku dengan baik."
"Dengan baik?" Elang mengerutkan keningnya dengan bibir mengecut. "Pasti ada timbal baliknya atas kebaikan ayahku. Apakah kamu melayaninya dengan baik di ranjang." kata Elang menatap tajam dengan kilatan di manik matanya pada Cempaka.
Wajah Cempaka memias tidak lama senyumnya mengembang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Tentu, kami sangat panas dalam melakukan percintaan, meski ayahmu sudah berusia 50 lebih dia seperti aktor bollywood Shah Rukh Khan, kamu pasti berpikir demikian." Kata Cempaka berhasil mengeraskan rahang Elang yang menuang kembali minuman dari botol ke gelas kemudian menegaknya sekali tandas.
"Lalu kamu pikir aku tidak sehebat ayahku heh?" tanya Elang menyipitkan matanya.
Cempaka tertawa kecil, entah kenapa tangannya meraih gelas berisi minuman dan menyesapnya.
"Bukankah kamu pria suci, seorang pria suci sangat minim pengalaman, kamu pasti belum pernah menyentuh wanita, tentu kamu kalah jauh dengan ayahmu."
's**t,'
Elang menarik kursi kayu di duduki Cempaka hingga menimbulkan suara decitan keras di permukaan lantai, kini jarak Cempaka lebih mendekat padanya, Cempaka membeku tenggelam di manik mata hitam Elang.
"Jadi kamu pikir aku lelaki yang tidak pandai memuaskanmu."
"Kamu bicara apa heh, soal ciuman kemarin, yah...aku tidak merasakan apapun, tidak menantang sama sekali." tawa Cempaka, menegak habis minuman di dalam gelas.
"Apa kamu bilang!" marah Elang mencengkram pergelangan tangan Cempaka kuat.
"Lupakan, aku ingin tidur," Cempaka menepis tangan Elang berniat beranjak dari tempat duduknya namun Elang tidak membiarkan tetap menahan Cempaka bahkan tubuh Cempaka di angkat dan di dudukan di atas meja.
"b******k apa yang kamu lakukan!" kata Cempaka dengan suara cegukan dan mata meredup.
Elang tidak berucap sepatah kata, wajahnya lebih mendekat ke wajah Cempaka yang memerah, sedikit memiringkan kepalanya Elang menempelkan bibirnya di bibir Cempaka.
Kedua mata Cempaka membulat, tubuhnya terasa kaku yang perlahan memanas saat ciuman bibir Elang semakin menekan bibirnya. Mata Cempaka mulai terpejam, ia tak tahu kenapa ia membalas ciuman Elang, sementara tangan kekar Elang semakin merengkuh pinggang Cempaka.
"Tidak!" bisik Cempaka menyadari berusaha mendorong Elang.
"Lepaskan aku!" Cempaka mengeluarkan semua tenaganya hingga memberi jarak sedikit antara ia dan Elang. Penuh kabut gairah Elang menatapnya, sesaat hanya bergeming dalam senyapnya dapur, Elang ingin menyerang Cempaka lagi namun satu tamparan dari tangan Cempaka melayang di pipi Elang hingga wajahnya terpental ke samping.
"Aku membencimu." Cempaka mendorong Elang mundur saat ia turun dari meja, dengan langkah terhuyung Cempaka beranjak pergi tanpa pedulikan Elang yang terpaku di tempatnya.
Dari kejauhan seseorang mengarahkan ponselnya, seringaian licik terlihat di sudut bibirnya, ia menyimpan ponselnya ke dalam saku bajunya.
"Dasar murahan," gumamnya melirik ke arah Cempaka yang semakin jauh.
Tbc