Sesampai di kantor, Gray melihat Fred yang juga baru datang. Dia berdiri di depan kafe yang ada di lantai satu kantor. “Gray, apa yang kau beli?” tanya Gray menyapa Fred.
Fred mengangkat minuman miliknya dan berkata, “kopi pagi.”
Mereka berjalan bersama menuju kantor yang ada di lantai dua. Dalam perjalanan, Gray menceritakan tentang yang terjadi padanya. Tentang keberadaan Iris.
“Apa kau yakin dia tidak menipumu?” tanya Fred pada Gray. Fred menjabarkan hal yang terasa aneh saat dia mendengar cerita dari Gray. “Pertama, kenapa dia sangat mudah mempercayaimu dan mau saja ikut denganmu? Padahal dia kemungkinan sedang diikuti seseorang. Apa dia tidak curiga bahwa kau adalah orang yang mengikutinya?”
“Mungkin karena dia melihat kebaikan dari wajahku?” kata Gray bercanda. Akan tetapi, Fred menatapnya sinis. Kemudian Gray memperbaiki jawabannya dengan tersenyum. “Mungkin karena aku sudah menjelaskan bahwa aku polisi,” jawab Gray. Tapi Gray juga berpikir aneh. Dia mengatakan identitasnya pada Iris setelah Iris menelepon dan meminta tolong padanya. Kenapa dia mau-maunya menelepon Gray yang orang asing.
“Yang kedua, apa benar dia benar-benar diikuti seseorang?” tanya Fred.
“Hal itu juga belum bisa kupastikan,” jawab Gray lamban.
Gray mengerutkan dahinya. Dia mulai merasa khawatir karena perkataan dari Fred. Akan tetapi, bagaimanapun juga, dia tetap merasa tidak tega untuk meninggalkan Iris begitu saja. Dia tidak ingin terjadi sesuatu karena sesuatu yang dilewatkannya.
“Yang pasti, aku ingin kau membuat laporan tentang hal ini. Jika memang sesuatu berbahaya mengancam gadis itu, kita dapat memiliki wewenang untuk menindak lanjutnya,” perintah Gray.
Gray langsung mengangguk dan membuat laporan tentang kasus itu. Tentu saja atas namanya sendiri.
Tidak lama setelah itu, terdengar bunyi telepon berdering. Telepon yang berada di atas meja Albert. Dia mendapatkan laporan sebuah kasus. “Terima kasih atas laporannya,” kata Albert sambil menutup panggilan itu.
“Fred, Gray! Ada kasus perampokan di sebuah toko perhiasan yang ada di Golden Plaza,” kata Albert pada mereka.
Fred dan Gray langsung bergerak setelah mendapatkan perintah. Mereka langsung menuju lokasi perampokan yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari kantor. Jarak yang cukup dekat.
Toko perhiasan yang dirampok bernama Platina Jewelry. Sebuah toko antik dan berumur cukup tua. Tentu saja penghasilan mereka tidak sedikit. Toko itu terletak di lantai satu dari Golden plaza.
Sesampai di sana, suasana heboh terlihat. Kerumunan orang berkumpul membuat suasana menjadi ribut. Fred langsung mendatangi petugas yang berada di lokasi. Dia menanyakan kondisi yang dihadapi mereka saat ini.
“Di dalam toko, terdapat tiga orang perampok bersenjata. Mereka menggunakan pistol jenis handgun dan juga shotgun. Terdapat dua orang pegawai toko dan empat orang pelanggan. Mereka dijadikan sandera saat ini. Lalu satu orang penjaga toko yang kondisinya tidak diketahui,” jelas petugas itu.
“Tidak diketahui?” sela Gray.
“Ya, saat kami menanyakan keadaan sandera, mereka tidak mengatakan tentang petugas yang seharusnya ada bersama mereka,” jawab petugas itu.
Setelah mendengar penjelasan tentang sandera, Fred menanyakan permintaan tersangka. Mereka menginginkan jalan keluar tanpa diikuti oleh polisi. Mereka akan melepaskan sandera saat sudah jauh dari tempat ini.
“Kalau begitu, mereka akan membawa sandera pergi?” tanya Fred.
Petugas itu mengangguk perlahan. Dia tidak tahu harus melakukan tindakan apa saat ini. Kemudian Gray mendekat pada Fred. Dia berbisik, “aku akan menjadi sandera mereka.”
“Apa kau yakin?” tanya Fred.
“Ya,” jawab Gray percaya diri. “Lagipula, mereka hanya menggunakan sebuah pistol,” gumam Gray dengan suara pelan.
Setelah itu, petugas melakukan negosiasi dengan para perampok. Mereka menerima dengan rasa curiga tawaran tersebut dan menyuruh Gray untuk masuk ke dalam toko.
Gray memasuki toko dengan mengangkat tangannya. Para perampok memeriksa tubuh Gray dan yang lainnya menodongkan pistol ke arah Gray. Mereka mengenakan masker yang menutupi sebagian wajah mereka. Dua diantara mereka terlihat kurus dan satu orang terlihat berbadan kekar. Dia terlihat seperti pimpinan perampok ini.
Saat diperiksa oleh mereka, Gray memperhatikan sekitarnya. Sesuai yang diinformasikan padanya, terdapat beberapa sandera. Dua wanita yang memakai seragam toko. Tiga orang wanita yang terlihat seperti seorang pelanggan, lalu seorang lelaki yang mungkin datang bersama salah satu wanita itu.
Lalu, seorang lelaki yang tergeletak di lantai. Wajahnya terlihat cukup babak belur. Tangannya diikat dengan tali yang cukup lebar. Ikatannya terlihat cukup kuat. Lelaki itu mengenakan baju hitam, terlihat seperti penjaga toko ini.
“Dia tidak membawa sesuatu yang mencurigakan,” kata orang yang memeriksa tubuh Gray.
“Kalau begitu, ikat tangannya!” teriak pimpinan perampok. Salah satu dari mereka bergerak melaksanakan perintah tersebut.
Kemudian, mereka menunjuk salah satu sandera yang ada. Seorang wanita yang duduk sambil menundukkan kepalanya. “Kau! Ikut dengan kami,” kata pimpinan perampok. Wanita itu berdiri dengan wajah ketakutan. Dia hanya menundukkan kepala dan berdiri mendekat pada mereka.
Gray juga hanya diam mengikuti mereka menuju pintu keluar darurat toko yang terhubung dengan tempat parkir plaza. Mereka terlihat sudah mempersiapkan sebuah van hitam untuk melakukan pelarian.
Gray dan sandera lain disuruh duduk di bagian belakang mobil dengan salah satu dari mereka sebagai penjaganya. Sedangkan dua orang lagi duduk di depan. Bagian depan dan belakang mobil dibatasi dengan penutup hitam. Seluruh kaca mobil juga ditutupi kaca film hitam yang membuat Gray tidak bisa melihat keadaan luar. Akan tetapi, dia mendapat keuntungan dari hal ini. Dia dapat menyerang perampok yang menjaganya saat ini. Dia hanya memiliki satu buah pistol di tangannya. Gray hanya perlu untuk mencari saat yang tepat untuk melakukan p*********n.
“Hei, kalian akan membawaku ke mana?” tanya Gray pada perampok yang mengenakan kupluk coklat dengan masker kain hitam tersebut.
“Ke mana? Kau tidak perlu mengetahui hal itu. Kami akan meninggalkanmu di suatu tempat saat semuanya sudah berjalan lancar,” jawab perampok tersebut.
Gray kemudian mengalihkan pandangannya pada wanita yang ada di sebelahnya. Wanita itu juga diikat sama sepertinya. Wanita itu terlihat tidak berdaya sama sekali. Dia bahkan tidak mengeluarkan suara sama sekali.
“Hei, apa kau baik-baik saja?” tanya Gray pada wanita itu.
Wanita itu mengangguk pelan menjawab pertanyaan Gray. Gray hanya bisa tersenyum menganggapi wanita itu.
Mereka sudah pergi selama sepuluh menit dari pusat kota. Gray memperkirakan kecepatan mobil sekitar 100 kilometer per jam. Sehingga mereka sudah pergi sejauh lima hingga sepuluh kilometer dari toko yang dirampok. “Mereka juga tidak berhenti sama sekali. Bisa dipastikan bahwa mereka tidak melewati jalan besar yang memiliki lampu lalu lintas. Mereka pasti melewati jalan belakang atau jalan lain,” pikir Gray. Gray memperkirakan jalan yang ditempuh oleh mereka dalam pikirannya. Mencoba mencari tahu tujuan dari pelarian perampokan ini.