“Bagaimana keadaan di sana?” tanya Albert melalui telepon pada Fred.
Fred menjelaskan keadaan toko setelah perampok meninggalkan lokasi. Tentang Gray yang menawarkan diri menjadi sandera. “Yah, tapi perampok itu tidak terlalu jeli. Dia bahkan tidak memeriksa sepatu milik Gray,” kata Fred melihat ponsel milik Gray yang ditinggalkannya. Dia melihat sebuah peta dengan titik merah yang bergerak menjauh dari lokasinya saat ini. “Kalau begitu aku akan bergerak menuju tempat Gray berada,” jawab Fred sambil memutuskan panggilan tersebut.
Sebelum berangkat mengejar Gray, Fred memerintahkan anggota kepolisian yang lain untuk mengurus tempat ini. Hanya dalam beberapa menit, Fred selesai memberikan perintah dan langsung menaiki mobil untuk mengejar Gray bersama beberapa polisi lainnya.
Sementara itu, Gray masih dengan tenang menunggu celah untuk melakukan p*********n. Dia hanya duduk sambil menatap ke depan. Lelaki itu duduk berseberangan dengannya dengan mengarahkan pistol pada Gray.
Tiba-tiba mobil melambat dan berguncang. Mobil melewati jalan yang sedikit jelek. Gray langsung mendapatkan celah. Dia segera melepaskan ikatan dari kakinya dengan mudah dan langsung menendang pistol yang ada di tangan lelaki itu. Di saat itu, wanita yang ada di sebelahnya langsung mengambil pistol itu dan mengarahkan pistol ke kepala lelaki itu. Wanita itu menatap pria itu dengan sangat dingin dari balik matanya yang cantik.
“Ke-kenapa?” tanya lelaki itu dengan suara bergetar.
“Lebih baik kau tidak bersuara jika kau tidak ingin kepalamu berlubang,” kata wanita itu dengan suara yang indah namun terdengar kasar.
“Hei! Ada apa?” teriak seseorang dari bangku depan.
Wanita itu langsung menekan pistol yang dipegangnya dan menatap lelaki itu. “Jawab mereka dengan baik. Katakan tidak ada apa-apa,” kata wanita itu pelan. Lelaki itu langsung menjawab pertanyaan sesuai perintah wanita itu karena takut.
Gray langsung tertawa kecil dan menyumpal mulut lelaki itu dengan sapu tangan miliknya. Dia juga mengikat tangan dan kaki lelaki itu dengan menggunakan tali yang digunakan untuk mengikatnya tadi. Akan tetapi, lebih kuat dari ikatan yang didapatnya.
“Kau tahu, ikatan menggunakan tali seperti itu sangat mudah dilepaskan oleh orang yang memiliki skill dan pengalaman seperti kami,” kata Gray pada lelaki itu.
“Tapi, aku tidak menyangka saat melihatmu berada diantara sandera tadi, Amanda,” tambah Gray sambil melihat ke arah wanita itu.
Amanda Morgan adalah salah satu polisi dengan jabatan cukup tinggi dari Gray. Seorang wanita berumur 27 tahun yang merupakan kerabat jauh dari Gray. Seorang wanita dengan rambut pendek dan bergelombang berwarna coklat. Matanya berwarna hijau dan sangat cantik. Tubuhnya langsing dan cukup tinggi. Meskipun begitu, dia sangat kuat sebagai wanita.
“Aku juga tidak menyangka kau menawarkan diri sebagai sandera pada mereka. Yah, itu lebih baik daripada sandera lain tidak dapat diajak bekerja sama,” kata Amanda duduk sambil menyilangkan kakinya.
“Hmm … hmmm …,” gumam perampok yang telah ditahan mereka.
“Apa yang dibicarakannya?” tanya Amanda.
“Mungkin dia tidak menyangka bahwa kau adalah kenalanku, lebih tepatnya juga seorang polisi,” kata Gray.
Amanda tersenyum licik dan mendekatkan kepalanya pada perampok itu. “Kalian pasti berpikir bahwa aku hanyalah wanita lemah yang ketakutan hingga tidak berani menatap bahkan bicara pada kalian,” kata Amanda.
“Oi oi … kau tidak perlu bertingkah menakutkan seperti itu,” kata Gray pada Amanda.
Di saat mereka sedang bicara, tiba-tiba mobil mulai bergerak dengan lambat. Mereka berhenti di suatu tempat. Gray dan Amanda langsung memasang wajah serius. Amanda langsung bersiap dengan pistol di tangannya. Sedangkan Gray mendekat ke arah pintu keluar untuk menyerang perampok lain yang akan membuka pintu.
Sesaat pintu mobil terbuka, Gray langsung menyerang lelaki tersebut. Amanda juga mengikuti dari belakang sambil menembak pistol yang ada di tangan lelaki yang lainnya. Mereka langsung bergerak untuk menahan dua perampok tersebut.
“Pukul 10.43 AM, tiga pelaku berhasil ditangkap,” seru Gray. Gray langsung menyeret dua orang tersebut dan mendudukkannya di dekat mobil.
Gray langsung melihat sekelilingnya. Mereka berada di dekat laut, sebuah pondok dekat menara pengawas. “Apa mereka akan membuangku ke laut? Ha ha ha,” kata Gray memandang lautan biru yang sangat luas itu. Gray terdiam dan hanya menatap lurus.
“Gray!” panggil Amanda yang melihat Gray melamun.
“Ya?” seru Gray sambil berbalik arah menghadap Amanda.
“Apa kau akan membawa mereka ke kantor segera?” tanya Amanda.
“Hmm … tunggu sebentar. Mungkin dia akan segera datang sesaat lagi,” kata Gray.
Sesuai perkataan Gray, dua buah mobil polisi muncul dan mendekati tempat mereka berada. Fred keluar dari mobil dan segera menghampiri mereka.
“Gray! Apa kau baik-baik saja?” tanya Fred.
Gray segera menunjukkan pelaku yang telah ditangkapnya. Dia segera memerintahkan polisi lain untuk segera membawa mereka ke kantor polisi untuk segera ditangani.
“Bagaimana dengan sandera yang lain?” tanya Fred.
“Kalian sangat lamban hingga membiarkan sandera untuk mengerjakan tugas kalian ha? Dasar!” seru Amanda keluar dari dalam mobil. Fred sangat terkejut melihat keberadaan Amanda. Dia tidak menyangka sandera lain adalah Amanda.
“Kenapa kau ada di toko itu?” tanya Fred saat mereka berjalan menuju mobil yang dikendarai oleh Fred. Mereka menaiki mobil dan segera mengikuti mobil lain yang telah bergerak terlebih dahulu.
“Aku hanya datang untuk membeli sesuatu. Kebetulan aku sedang meminta izin, jadi aku hanya memakai pakaian biasa,” kata Amanda menjelaskan. Amanda bertingkah seperti wanita lemah dan memperlihatkan ketakutan agar perampok tersebut lengah. Alhasil, mereka juga menunjuk Amanda sebagai sandera.
“Oh iya, Gray. Aku lupa mengembalikan ponselmu,” kata Fred. Dia mengambil ponsel dari saku jasnya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap berada di setir mobil.
“Oh iya, aku lupa. Terima kasih Fred,” kata Gray meraih ponselnya.
“Ada beberapa pesan masuk,” kata Fred. Gray langsung memasang wajah cemas dan bertanya apakah Fred membuka pesan tersebut. Fred segera menjawab bahwa dia tidak membuka pesan apapun. “Aku tidak memiliki hobi seperti itu,” jawab Fred.
Gray langsung melihat pesan tersebut. Pesan dari beberapa orang. Dari orang tuanya dan juga Iris. Gray mengabaikan pesan dari orang tuanya dan langsung membaca pesan dari Iris. Di dalam pesan itu, Iris menyampaikan bahwa dia akan menyelesaikan kelasnya sekitar pukul tiga sore.
Gray langsung membalas pesan dengan berkata agar Iris hati-hati dan menghindari jalanan sepi sendirian.
Bzzz bzzz.
Tidak lama setelah mengirim pesan tersebut, ponsel Gray bergetar. Sebuah pesan balasan dari Iris masuk.
[ Ya, aku mengerti. Terima kasih banyak.]
Pesan singkat itu membuat Gray tersenyum hingga membuat Fred dan Amanda memandanginya dengan aneh.
“Kenapa kau senyum-senyum?” tanya Amanda.
“Ha? Tidak ada,” jawab Gray sambil menyimpan ponselnnya.