“Kalila?”
Kalila tersentak karena Matteo yang keluar dari ruangan rawat Anna secara tiba-tiba. Tidak langsung Matteo melihat ekspresi Kalila yang menahan tangis—oh, gadis itu sudah menangis dan kini dia sedang berusaha untuk tidak kembali menumpahkan air matanya. Matteo mengeryitkan dahinya. Dengan segera, ia menghampiri Kalila dan membawa gadis itu untuk duduk di kursi tunggu yang ada di koridor lantai tersebut.
“Ada apa? Kenapa kamu menangis?” Matteo mengusap pipi Kalila yang masih terdapat air mata mengering di sana. “Kalila, apa kamu menangis karena aku?” tebaknya yang dijawab gelengan oleh gadis itu.
Kalila menarik napas dalam-dalam. Diangkatnya kepala yang sedari tadi ia tundukkan. Dia menatap Matteo dengan penuh perhatian, dengan senyuman tipis terpatri juga di wajahnya. Matteo t