Satu minggu setelah pertemuan terakhir mereka, Kalila merasa bahwa dirinya harus meminta saran dari orang lain atas apa yang sedang ia rasakan sekarang. Orang lain yang ia pilih adalah ibunya. Hanya Rianna yang bisa ia minta saran atas keadaannya sekarang. Hubungannya dengan ibunya entah bagaimana semakin larut dan tidak canggung lagi—walaupun Kalila masih menyimpan kekesalan pada ibunya sendiri, dan tidak bisa melupakan apa yang sudah Rianna lakukan sembilan tahun yang lalu.
“Halo, Kalila?” Ibunya menyapanya dengan suara yang lembut. Rianna memang terkadang mencoba untuk membuat Kalila semakin membuka diri padanya. Usahanya bisa dibilang tidak sia-sia, karena sekarang, Kalila mulai sering meneleponnya sejak dia tinggal di London.
“Mama, sedang apa?”
“Baru pulang bekerja, kenapa?”
“Tid