Kalila diajak untuk makan bersama dengan kedua orang tua Matteo. Jangan ditanya bagaimana jantungnya bertalu-talu sepanjang waktu itu. Dia tidak bisa bersikap biasa saja. Kecanggungannya terlihat jelas dari sikapnya. Untung saja, Matteo dan ayahnya bisa mencairkan suasana sehingga Kalila sedikit bisa tertutupi. Sayangnya, hal itu hanya sementara, karena selepas makan bersama, Irish mengajaknya untuk berbicara berdua. Entah untuk membicarakan apa, tapi Kalila bisa merasakan aura intimidasi dari Irish.
Mereka kini berada di ruang tengah di rumah itu. Kalila duduk di hadapan Irish. Pandangannya tertunduk sungkan, kedua tangannya tertaut gelisah. Kalila bisa merasakan tatapan tajam Irish padanya yang sangat tajam.
“Bagaimana kabar kamu, Kalila?” Walaupun saat tadi, Kalila tahu kalau Irish be