Nyali Dee mendadak ciut di hadapkan dengan wajah Alex yang dingin. Kata maaf yang telah di rangkai sedemikian rupa di kepalanya terasa tersangkut di tenggorokannya.
“Tuhan…kok wajahnya serem banget, sih?”
Dee meratap dalam hatinya. Saat ini meninggalkan mamanya dan juga dukun yang Tengah menyerbu rumah mereka dengan bau menyan dan juga asap yang pasti akan membuat papanya Jon darah tinggi, saat ini baik Dee maupun Aram saling sikut-sikutan mengantarkan kepergian Alex. Bahkan dengan lutut yang masih sangat sakit, Dee tidak akan bermuka tebal untuk tidak mengantar Alex masuk ke dalam mobilnya.
“Tuan muda anda…”
Nohan langsung menutup mulutnya kembali saat dia melihat Alex memelototinya. Nohan bingung melihat seragam sekolah Alex setengah basah dan bau yang aneh menguar dari arahnya.
“Kak,” Aram menyenggol lengan Dee.
“Apa sih?”
“Itu,” Aram menunjuk ke arah Alex yang sudah memasuki mobil.
Adik macam apa ini? Menumbalkan Kakaknya demi keselamatan sendiri.
Dee sangat menggerutu memikirkan betapa pengecutnya adiknya ini. Tapi saat melihat pintu mobil hendak di tutup, Dee reflek mencegahnya, “Tunggu!”
“Kak Alex,” Dee memanggil.
Alex hanya memandangnya sekilas dengan wajah dingin. Namun bibir pemuda itu masih menjawab dengan nada sama dinginnya, “ Ada hal lain?”
Nada suara Alex sungguh membuat Dee takut. Dia melirik adiknya, namun pemuda itu justru mengalihkan pandangan seolah dia hanya pengganti kruk Dee.
Dasar adik tidak berguna!
“Sepertinya tidak ada. Nohan tutup pintunya,” perintah Alex pada akhirnya saat melihat tidak ada apapun yang dikatakan Dee.
Alex tidak tahan dengan bau antara pencampuran menyan dan entah apa itu. Perasaan air kotor yang merembes pada seragamnya membuatnya merasa tidak nyaman pada bagian tubuhnya dan ingin segera mandi.
“Eh tunggu!” tanpa sadar Dee maju dengan sembrono untuk mencegah Nohan menutup pintu. Jika saja tidak ada Aram yang memeganginya, kemungkinan Dee akan terjatuh ke dalam mobil atau terjepit.
“Cepat katakan,” kali ini nada Alex terdengar tidak sabar. Bau di tubuhnya semakin menyengat, membuat tangannya mengepal dengan hanya dia yang menyadarinya.
“Aku menyukaimu! Karena itu kamu harus hidup!” Dee berteriak.
Kepalan tangan Alex tanpa sadar terhenti. Wajahnya yang biasanya datar kali memiliki sorot mata terkejut saat memandang wajah Dee yang terlihat bodoh.
“Hah?”
“Ya?”
Baik Nohan dan Aram sama-sama terkejutnya. Nohan bahkan menjatuhkan tisu yang dia bawa.
“Kak, kamu gila ya?” Aram memandang aneh pada kakaknya setelah selesai dari keterkejutannya.
Dee menutup mulutnya. Memandang Alex, lalu Nohan, lalu adiknya. Wajahnya memerah secara perlahan hingga telinga dan lehernya bahkan tidak bisa terselamatkan. Dee tidak punya pemikiran lain selain mempertaruhkan kakinya untuk melompat naik ke punggung Aram. Sebelum pemuda sekolah menengah pertama itu memprotes, Dee lebih dulu memukul punggung adiknya sambil berteriak,
“Aram! Ayo pergi! Ayo cepat! cepat!”
Aram juga tidak bisa hanya diam. Dia juga malu atas nama kakaknya. Jadi dengan menebalkan muka, mereka berdua kabur dengan Aram yang menggendong belakang Dee.
“Aku mungkin sudah sangat tua untuk pergaulan remaja saat ini?” kata Nohan seolah lupa bahwa saat ini dia baru berusia dua puluh tahun. Dia menatap dua remaja tanggung itu yang tengah berlari terburu-buru masuk ke dalam rumah.
“Tuan gadis itu- Tuan?” Nohan terkejut mendapati wajah tuannya tampak menampilkan ekspresi syok. Namun yang paling mengejutkan Nohan adalah saat dia dapat melihat rona merah menjalar di telinga pemuda yang selalu memasang wajah datar itu.
“No-han,” Alex mengeja nama orang kepercayaannya itu.
“Oh, maafkan aku. Mari kita segera pulang,” kata Nohan akhirnya. Namun Nohan tidak dapat menahan senyumannya ketika dia menutup pintu belakang mobil untuk Alex, dan berjalan duduk di kursi depan.
“Kalau di pikir-pikir gadis itu memakai seragam sekolah sama dengan Tuannya. Itu berarti latar belakang keluarganya baik. Meninggalkan sikap yang sedikit konyol, namun gadis itu sudah bisa membuat Alex memiliki ekspresi lain selain datar. Sepertinya aku perlu pengecekan.”
Tanpa sadar, hari itu Dee telah masuk dalam daftar list penyelidikan Nohan.
“Nohan, jangan macam-macam.” Seolah mengerti apa yang di pikirkan asistennya itu, Alex memperingatkan.
“Apa?” Nohan menoleh kebelakang, memandang Alex dengan pandangan bertanya.
“Apapun itu. Jangan lakukan hal yang tidak berguna,” kata Alex.
“Hal tidak berguna apa?” Nohan memancing. Dan jawaban atas kekurang ajarannya itu adalah sebuah tas yang melayang tepat di wajahnya.
“Ya Tuhan wajahku!”
***
Malam harinya Dee tidak bisa tidur sama sekali. Setiap kali memikirkan apa yang terjadi sore tadi, Dee merasa seluruh urat malunya telah terputus dan dia tidak memiliki wajah untuk bertemu dengan Alex lagi.
“Ini semua gara-gara Aram!” Dee menggerutu. Sore tadi setelah mengusir halus dukun yang di panggil mamanya, Dee akhirnya tahu alasan mamanya memanggil dukun tersebut. Ini karena Aram yang menelepon mamanya melaporkan bahwa dirinya berbicara seorang diri di rumah sakit.
Aram menyarankan membuat janji dengan psikiater, namun mamanya lebih cemas jika Dee telah di tempeli mahluk halus karena aneh sejak bangun pagi tadi. Jadilah atas saran temannya dia mendatangkan dukun itu.
Dee menghembuskan nafasnya tak berdaya, “Bukan salah mereka juga , sih.”
“Kamu bodoh ya?”
“Astaga!” Dee hampir saja melompat. Lagi-lagi dia masih terkejut dengan kedatangan Al yang selalu tiba-tiba.
“Satu hari terlewat dan kamu belum mendapatkan nomor teleponnya. Sekarang mungkin kamu akan di cap gadis aneh di luar gelar gila akibat bicara seorang diri.”
Dee mendengus di tempat tidur, hampir saja dirinya melemparkan dirinya ke Al untuk menjambaknya atau paling tidak mencakarnya. Sayangnya dia sadar bahwa dia mungkin yang akan menjadi satu-satunya pihak yang terluka jika itu terjadi.
“Kamu pikir ini semua salah siapa?” Jika Al tidak muncul di sembarang tempat dan tiba-tiba, dia tidak akan terlihat berbicara seorang diri.
Al seolah tidak peduli dengan tatapan menyalahkan Dee saat dia dengan bijak mengingatkan, “Waktumu tinggal sembilan puluh sembilan hari. Begitu banyak kebetulan yang ada, namun kamu sama sekali tidak dapat mengambil kesempatan bagus apapun.”
Dee langsung gusar. Dia merasakan dadanya penuh dengan emosi saat mendengar perkataan Al. Dia di bawa di sini dengan terpaksa. Dan dia juga yang harus berusaha untuk keluar! Bukankah ini terlalu tidak adil?
“Kamu!” Dee menghirup nafasnya pelan menstabilkan emosinya sebelum berkata dengan nada yang jelas, “Dengar,”
“Kau bilang aku dan dia tetangga masa kecil, tapi kami ternyata hanyalah orang asing. Dan jika kebetulan yang kau maksud itu adalah aku yang tiba-tiba bertemu dengannya di hari pertama masuk, lalu insiden jatuh pada hari dia ada jadwal petugas medis, lalu kebetulan juga dia mengantarkan aku pulang karena secara kebetulan ban mobilku kempes. Oh ya, kebetulan juga tasku tertinggal sehingga dia…” Dee mengerjap. Dia akhirnya memandang Al dengan tatapan tak percaya.
“Kamu tidak akan bilang bahwa semua ini adalah ulahmu, kan?”
“Tepat.” Al sama sekali tidak menyangkal.
“Ba-bagaimana kamu melakukannya?”
“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Kamu hanya perlu memikirkan cara bagaimana mendekatiku di masa ini,” jawab Al sebelum kembali menghilang. Dee agak terkejut dengan nada Al yang terdengar serius, berbeda dengan hari biasanya.
“Kenapa sih?” Dee memikirkan apa yang terjadi hari ini dan rasa sakit di lututnya.
“Tau ah,” katanya sambil mulai berusaha memejamkan matanya.
***
Jam menunjukkan pukul dua belas malam tepat. Alex duduk di tepi tempat tidur dan memandang jam tua di tangannya. Dia sudah biasa insomnia. Dokter, psikiater, bahkan psikolog masih belum menemukan penyebab dirinya insomnia selain mengatakan bahwa dirinya memiliki trauma karena di tinggalkan oleh Ayahnya yang merupakan satu-satunya orang tuanya yang hidup.
Ayahnya—Davin Hinata adalah sosok yang tegas yang bahkan telah mengajari Alex bagaimana hidup mandiri di usianya sejak dini. Jadi ketika tiba-tiba dia di tinggalkan oleh Ayahnya sebab kecelakaan, semua orang berpikir bahwa dia akan baik-baik saja dengan harta peninggalan ayahnya dan juga IQ tinggi miliknya yang di percaya dapat meneruskan perusahaan milik Ayahnya. Namun pada kenyataannya, Alex tahu bahwa Davin hanyalah orang tua asuhnya dan dia juga masih hidup. Kematian yang di rancang sedemikian rupa hanyalah alibi Davin agar dia dapat menutup berita tentang penyimpangan orientasi seksualnya. Davin masih sehat dan saat ini tinggal di Boston. Dia akan kadang-kadang datang menjenguk Alex atau mengiriminya kabar setiap hari.
Semua terapis mengatakan kemungkinan besar insomnia yang di deritanya adalah karena berita karangan itu. Alex menganggap semua itu lucu. Semua orang seolah berlomba-lomba untuk menipunya demi kebaikan yang mereka pikirkan, namun dia justru mengetahuinya dengan mudah.
Alex menatap dirinya di cermin. Mata itu benar-benar memiliki warna zamrud yang menawan dengan kedalaman seperti lautan yang tidak bisa di tembus. Itu adalah warna mata unik yang di turunkan oleh neneknya. Sosok yang belum pernah Alex lihat di dunia dan masa ini, namun Alex tahu bagaimana rupa beliau, karakter beliau, bahkan rahasia dirinya yang coba di sembunyikan oleh keluarga aslinya.
Alex memejamkan matanya. Tangannya yang memegang jam kalung tua itu tanpa sadar mencengkeram. Derik suara jarum jam di tangannya berputar begitu cepat seolah tertarik oleh medan magnet. Saat membuka matanya kembali, sebuah lubang hitam muncul di depannya. Alex masih memiliki ekspresi datar melihat seorang wanita anggun yang tengah memeluk manja sosok lelaki yang sangat mirip dengan wajahnya namun lebih terlihat dewasa. Lama dia megamati gambaran yang terproyeksi di dalam lubang itu sebelum Alex akhirnya berdiri dan masuk ke dalam lubang tersebut sebelum akhirnya lubang itu menutup dan menghilang.
Alexander Maksimiliam—itu adalah nama aslinya di dunia ini maupun sebelumnya. Dan dia adalah penjelajah waktu. Sebuah kekuatan besar yang juga meminta bayaran besar saat digunakan. Umur—itu adalah bayaran setiap kali dia memasuki waktu pararel entah itu masa depan atau masa lalu yang dia inginkan.