“Kau tidak bisa membedakan antara cairan pupuk dengan herbisida? Bagaimana kalau sampai Paman Soni menyiram tanamannya dengan ini karena mengira pupuk? Apa kau tahu fungsi herbisida?”
Bita tertunduk di atas piring nasi yang belum selesai ia habiskan. Dalam hati ia memohon waktu untuk menghabiskan makan paginya yang sudah terlambat sebelum mendengar semua omelan sang bibi. Ada tiga hal yang tidak boleh diganggu di dunia ini. Yang pertama adalah orang yang sedang beribadah, kedua orang yang sedang tidur, lalu yang ketiga adalah orang yang sedang makan. Namun menjelaskan semua hal itu kepada Bibi Wening rasanya sisa-sia saja. Tanpa pembukaan apa-apa dia masuk ke dalam rumah lalu memenuhi seluruh ruangan dengan suara kemarahannya.
“Apa kau tidak membaca tulisannya terlebih dahulu?” Kembali Bibi Wening bertanya kali ini dengan nada lebih tinggi.
“Aku baca!” Giliran Bita yang menggertak. Apa kinerjanya diragukan setelah 10 tahun berpengalaman bekerja dalam bidang periklanan? Membaca konsep iklan dengan teliti adalah makanan sehari-hari Bita.
“Jelas sekali tertulis herbisida. Bukankah itu jenis pupuk organik?” Bita masih berupaya mempertahankan pendapatnya. Bita dan bibinya memiliki sifat yang tak jauh berbeda. Untuk berlomba saling kuat mempertahankan pendapat, kedua wanita itu sulit untuk diukur. Keduanya sama kerasnya.
“Astag Bita! Herbisida adalah cairan untuk membasmi gulma!”
Seketika denting sendok beradu dengan piring terdengar kasar memekakan telinga. Sendok logam itu terjatuh dari pegangan bersamaan dengan mulut Bita yang terbuka. Ia tampak terkejut. Herbisida bukanlah jenis pupuk cair yang sudah ia kira.
“Benarkah?” Akhirnya ada satu yang kalah. Bita menoleh menatap sang bibi dengan kedua mata memebelalak. Segenap emosi ia curahkan berharap setelah ini mendengar kalimat candaan darinya.
“Bisa kau bayangkan jika pembasmi gulma ini tersiram secara merata pada tanaman? Semuanya akan mati Bita! Kau telah merugikan bukan hanya satu petani namun banyak keluarga yang akan gagal panen karenamu. Mungkin kalian bisa hidup dengan hanya duduk dan berkutat dengan kertas dan tinta tapi disini, para petani ini menggantungkan hidupnya dari sayur dan buah yang mereka tanam.”
“Aku tahu. Aku minta maaf.”
Ini serius. Tak ada candaan. Semua yang Bibi Wening sampaikan kepadanya adalah kebenaran. Bita telah memberikan botol yang salah kepada pelanggan di hari pertama ia bekerja. Ini kesalahan fatal.
“Bi, mengapa seakan kau membuat batas? Aku sama dengan kalian semua,” Bita menyahut dengan ekspresi mengalah. Ia sadar dirinya salah dan telah melakukan kekeliruan namun perbandingan yang diutarakan oleh Bibi Wening cukup menyinggung perasaan. Sejak Bita memutuskan untuk pergi dari desa itu, semua tampak berbeda di mata Bibi Wening. Seakan Bita adalah makhluk asing yang tidak diperuntukkan tinggal di desa semacam itu.
“Pergilah minta maaf kepada Paman Soni. Untung saja Janar teliti.” Nada bicara Bibi Wening kali ini merendah. Ia mengerti ada satu kalimatnya yang telah mengoyak sedikit perasaan dari sang keponakan.
“Janar? Janardana?”
“Ya. Dia temanmu kan? Dia memilih menjadi petani meski bergelar sarjana. Sekarang justru para petani terbantu olehnya sebab dia bisa menjual hasil panen ke luar negeri.”
“Export?”
“Aku tak tahu istilahnya. Cepatlah cari Paman Soni. Kita tidak sedang membahas Janar.”
“Dimana aku bisa menemukannya saat ini?”
“Balai petani.”
“Hah? Adakah tempat semacam itu?”
“Sudah cukup lama dibangun setelah kamu pergi. Lokasinya tak jauh dari pasar pagi.”
Detik berikutnya, sarapan yang belum sempat usai itu dibiarkan tetap berada di atas meja. Isi dalam kepala Bita tak lagi membujuk keinginan untuk menghabiskan meski perut terasa belum cukup penuh. Hal lain memaksa wanita itu untuk bergerak cepat melangkah keluar rumah. Tak yakin dengan arah yang akan ia lalui, Bita hanya berbekal ingatan 13 tahunnya yang cukup samar. Bangunan bisa saja berubah dengan pesat dalam kurun waktu tertentu namun sepertinya tidak untuk jalanan. Selama 6 tahun Bita akrab dengan daerah di sana. Rasanya mustahil jika ia tersesat sebelum mencapai balai tani.
“Aku mencari Paman Soni,” ucap Bita sedikit terengah. Seorang wanita paruh baya menjadi orang pertama yang ditanya oleh Bita.
Wanita itu menoleh. Topi dan pakaian yang dikenakan menandakan bahwa dia adalah salah satu dari petani. Mereka tampak sibuk memilah hasil panen di dalam ruang setengah terbuka bertuliskan Balai Tani pada papan petunjuk. Bita belum yakin tapi ia mengira ada perkumpulan khusus untuk semua petani di sana.
“Dia sedang di ladang. Kalau boleh tahu, ada perlu apa? Aku bisa mengantarmu kalau memang mendesak,” sahut wanita itu.
Memberitahu orang lain tentang tujuan minta maaf terdengar sedikit memalukan. Ini sama saja dengan mengorek aib sendiri.
“Ehm….jadi, begini,.....”
“Apa kau keponakan Wening yang baru datang?”
Sebuah kelegaan tersirat pada wajah tirus Bita. Ia merasa terselamatkan oleh rasa ingin tahu lawan bicaranya.
“Kau jadi buah bibir orang-orang pagi ini.”
Bita tersenyum kecut. Ada kelegaan namun juga tersimpan rasa cemas. Menjadi buah bibir mengisyaratkan bahwa akan ada hal baik yang dibicarakan namun terkadang hal buruk lebih mendominasi. Ini adalah sebuah bentuk konsekuensi yang harus Bita hadapi saat memutuskan untuk kembali. Susah payah ia mengubur masa-masa suram yang ia lewati semasa kecil, lalu dengan kesadaran penuh ia sendiri yang membuka luka itu kembali menganga. Orang lain hanyalah penonton yang tidak memiliki perasaan yang sama dengan orang mereka bicarakan. Membatasi orang untuk tidak membicarakan hal buruk adalah mustahil.
“Aku rasa mereka salah. Kamu lebih cantik dari yang mereka katakan. Bita. Kamu Bita kan?”
Bita tak yakin apa yang wanita itu ucapkan itu memang sebuah kebenaran atau hanyalah sebuah usaha untuk menghibur dirinya. Mencoba untuk melihat sisi baik adalah pilihan yang paling bijak. Dengan pancaran mata yang berpendar, Bita mulai tersenyum di hadapan wanita itu.
“Aku Absari. Mungkin kau lupa. Kita pernah bertemu beberapa kali saat pertemuan wali siswa di SMA Harapan.”
Senyum tipis itu seketika merekah mendengar nama sekolahnya disebut. Meski banyak hal yang ingin Bita lupakan dengan tempat itu, ia tetap bangga seseorang masih mengingat dirinya sebagai bagian dari sekolah terbaik di sana.
Secara cepat Bita mencoba memilah ingatan demi ingatan untuk menemukan wanita yang bernama Absari itu dalam kenangan masa lalunya. Tak sopan rasanya jika mengaku lupa kepada orang yang telah mengingat kita.
“Aku ibu dari Janardana,” ujar sang petani wanita lebih dulu sebelum Bita menerka.
Gegap gempita Bita menyambut jabat tangan dari Absari. Meski tidak sering bertemu namun Bita akhirnya ingat bahwa Janar pernah memperkenalkan ibunya pada Bita saat di sekolah dulu. Bukan berarti Janar cukup dekat dengan Bita namun hanya dialah orang yang masih bersedia berteman dengan Bita di tengah isu keluarganya yang hancur.
Kedua orang tua Bita terlibat pertengkaran hebat di dalam mobil yang mengakibatkan kecelakaan dahsyat. Ibu Bita tak dapat tertolong hingga akhirnya meninggal sementara itu sang ayah justru harus mendekam di penjara lantaran dinilai lalai dalam mengemudi. Lalu entah bagaimana awalnya, muncul cerita demi cerita bahwa sang ayah melakukan KDRT di tengah pertengkaran sebelum kecelakaan terjadi hingga cerita pun sampai pada telinga Bita. Sebuah predikat buruk akhirnya melekat kepada Bita. Ia dianggap sebagai anak seorang penjahat kejam. Kemudian Bita tak sanggup menahan perundungan dari teman-temannya di sekolah hingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan desa kelahirannya. Ia teringat bagaimana Bibi Wening dengan segala usaha menahan Bita untuk pergi namun hati Bita terlalu hancur bila terus berada di antara orang-orang beracun baginya itu. Lalu hari ini, sesuatu yang berbeda muncul. Bita bisa merasakan bahagia mendengar tentang sekolahnya. Marah, benci, dan sedih ia lupakan sejenak meski memberi maaf belum sempat tersirat. Untuk hidup barunya ini Bita ingin memulai semuanya dari nol. Ia ingin lahir kembali dengan Bita yang lebih bersinar. Penyembuh terbaik memang adalah waktu.
Bita masih memandang wajah sendu sang petani wanita dihadapannya. Ia merasakan hangat pada tangan Absari. Ia berharap wanita itu, dan juga semua orang yang pernah mengenalnya, tak lagi mengingat kejadian apa yang telah menimpa Bita dan keluarganya sehingga kehangatan ini akan terasa lebih tulus.
“Ayo ku antar kau menemui Paman Soni,” sambung Absari.
Bita berjalan mengikuti langkah Absari yang tidak terlalu cepat. Kakinya lebih mungil dari ukuran kaki Bita. Ia beranggapan bahwa Janar saat ini tak ubahnya berperawakan kecil seperti ibunya. Tiga belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk perubahan seseorang menjadi lebih berbeda.
Melewati beberapa tegalan membuat Bita perlu menjaga keseimbangan. Di kanan kirinya terdapat tanaman kubis yang baru saja bertunas. Goyah sedikit saja, kaki Bita akan merusak tumbuh kembang para kubis itu. Kedua tangan Bita rentangkan agar tetap berada di jalurnya tanpa goyah. Absari menoleh ke belakang lalu tersenyum melihat tingkah Bita. Seperti dia tidak pernah tinggal di daerah perkebunan.
Jalan mulai menanjak namun Absari tak mengisyaratkan lelah sedikitpun sementara Bita terengah-engah seakan sedang melakukan pendakian gunung. Sapaan demi sapaan orang yang dilaluinya pun sudah tak lagi dibalas dengan senyum lembutnya melainkan sebuah seringai tipis menahan letih asal masih tampak sopan. Peluh di sekitar wajah telah mengucur entah sudah berapa banyak. Wajahnya mulai memerah meski udara cukup sejuk dan lembut membelai kulit. Dimana sebenarnya ladang kentang milik Paman Soni? Mengapa letaknya harus di tempat yang curam dan sulit dicapai seperti ini.