“Paman Soni!”
Bita ikut mendongak mendengar Absari memanggil. Panggilan itu terasa bagai obat penghilang lelah. Artinya mereka telah sampai di tempat tujuan.
“Ibu mencarinya?”
Bita berusaha melihat pemilik suara dari balik bahu Absari. Pria yang memanggilnya ibu jelas bukanlah Paman Soni. Mana mungkin orang yang lebih tua memanggil Absari dengan panggilan ibu. Jelas dia adalah Janardana, anak sulung Absari.
Memastikan pria itu adalah teman sekelasnya dulu, Bita justru melihat bayangan gelap. Sinar mentari tepat berada di belakangnya membuat raut wajah Janar tak tampak begitu jelas. Alih-alih dapat membuka pandangan secara lebih lebar, Bita menyipitkan kelopak mata menahan silau.
“Ibu terlambat. Paman Soni baru saja turun.”
“Ah, kalian memiliki badan yang sama besar. Kukira kau adalah dia. Tapi kalau Paman Soni turun, mengapa tidak berpapasan dengan ibu?”
“Dia lewat jalan lain Bu. Banyak jalan di sini.”
Bita menggigit bibir. Segenap makian siap ia lontarkan. Semua letih yang didera terasa tak ada artinya lagi. Belum lama ia kembali namun sudah dua kali ia melakukan kegagalan. Andai saja ada yang mengingatkannya untuk menggunakan telepon seluler sebelum mulai mengambil keputusan.
“Bita, ayo kita kembali turun. Mungkin Paman Soni sudah pulang ke rumahnya. Aku bisa mengantarmu ke sana kalau kau mau,” ujar Absari saat berbalik badan memunggungi anak sulungnya. Di saat yang bersamaan itulah wajah ciut Bita terpampang jelas dalam cahaya menyilaukan membuat Janar membelalakkan mata.
“Ibu bersama Bita?!”
Absari berhenti melangkah tiba-tiba dengan mimik wajah persis seperti seseorang tengah melupakan kompor yang masih menyala.
“Astaga, aku lupa. Ya aku kesini karena Bita. Dialah yang mencari Paman Soni. Kau ingat dia?”
Sebersit keraguan mulai terasa dalam batin Bita. Jika bisa memilih, lebih baik Bita tidak menemui orang yang pernah mengenalnya. Pengalamannya terlalu kelam dan kejam untuk diingat sebagai kenangan indah. Keceriaan Bita perlahan mulai luntur setelah tragedi kecelakaan orang tuanya. Nyaris semua mata menatap Bita dengan cibiran seorang anak dari penjahat yang tega membunuh istri sendiri. Sejak itulah Bita yang cerewet dan ceria berubah menjadi Bita yang penuh duka nestapa. Saat ibu yang paling ia sayangi meninggalkannya di dunia ini, ayah yang menjadi kebanggaan justru masuk ke dalam bui, lalu semua yang mengenalnya ikut menjauhi.
“Tentu aku ingat.”
Syukurlah Janar masih mengingatnya. Namun Bita tak terkejut orang sepertinya akan mudah diingat. Selain anak paling pandai di sekolah, tentu anak paling dibenci yang mudah melekat di ingatan. Bita merasa dirinya pantas untuk diingat oleh siapapun. Anak seorang penjahat, siapa yang akan lupa.
“Hai,” Bita menyapa sekedar menjaga kesopanan.
“Bita, kau tampak kelelahan. Lebih baik istirahat dulu sebentar di sini. Kalau langsung turun, kakimu bisa cedera,” nasehat dari Absari. Sebenarnya sudah sejak dalam perjalanan pendakian tadi ia memendam rasa khawatir terhadap Bita yang tampak begitu menderita menapaki dataran miring di sana.
“Aku baik-baik saja, Bi,” sahut Bita segan. Menyembunyikan kepedihan adalah keahliannya.
“Biar nanti aku yang mengantarnya, Bu,” Janar lebih dulu menimpali sebelum sang ibu memberikan argumen lain.
Tak ada pilihan. Kaki Bita memang tidak terbiasa berjalan di medan terjal dan panjang. Menuruni lereng setelah melakukan pendakian tidak jauh lebih mudah. Justru turun akan lebih sulit dibanding ketika menanjak. Kita akan kewalahan melawan gaya gravitasi yang tercipta. Seluruh sendi akan bergetar hebat dan lebih parah lagi bisa terkilir jika tak terbiasa.
“Ehm, aku….” Bita ingin menolak tawaran Janar. Tempat itu hampir mendekati puncak atau sepertinya ladang paling ujung yang jarang sekali orang. Bita memutar bola mata. Selain Janar, tak ada lagi petani di sana kecuali di bagian lebih bawah.
“Tenang, aku ada minum dan bekal makan. Di sana juga ada tempat biasa aku berteduh,” Janar kembali meyakinkan. Sebenarnya ini lebih kepada sang ibu yang cukup cerewet masalah perut anak sulungnya.
“Oke, kalau begitu ibu akan turun terlebih dahulu. Kotak milik ibu belum terisi penuh,” Absari menyudahi lalu berjalan meninggalkan Bita di tengah tegalan.
Hari kian panas. Awan-awan putih di atas sana bergerak beriringan secara cepat. Angin makin terasa lebih kencang di atas puncak. Rambut tergerai milik Bita pun terbang berayun membuat jari tangan sibuk menepis.
“Kotak apa maksudnya?” tanya Bita sepeninggal Absari.
“Strawberry,” sahut Janar singkat.
Senyum tipis pun merekah memandangi lawan bicaranya yang hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban singkat darinya. Hati Janar berbisik lirih mencari letak perbedaan Bita yang dahulu dan sekarang. Namun tak ketemu. Semua tampak sama di mata Janar. Sekarang pun masih sama ramahnya.
“Jadi, apa kabar?” Janar berucap masih dari posisinya di bagian terasering atas.
“Aku baik. Kamu?” Bita balik bertanya. Baik, sungguh dia berharap semua hal yang terjadi padanya akan baik-baik saja.
Sebelum menjawab, Janar lebih dulu mengulurkan tangannya den membantu Bita menanjak. Tanpa kata, Bita pun menerima uluran tangan Janar dan mulai bergerak menapaki tanah miring di sana. Tangan yang kurus itu sekarang telah berubah menjadi lebih berisi dan menampilkan banyak sulu-sulur otot. Memandangi tangan Janar nyaris membuat Bita lupa akan keseimbangannya yang rapuh. Untunglah Janar sigap menuntun. Sejenak Bita menyesal memakai sneakers alih-alih sepatu boot karet.
“Hati-hati,” Janar mengingatkan.
Sambil terengah, Bita berhasil menapak pada terasering yang sejajar dengan Janar. Ini tidak lebar tapi tidak juga sempit untuk sebuah ladang kentang. Saat tinggal di sana jarang sekali Bita berpetualang sampai ke puncak ladang seperti itu. Masa kecilnya diisi sebagai anak rumahan. Lagi pula tak ada anggota keluarganya yang merupakan seorang petani, maka tak heran jika pengetahuannya soal bertani sangatlah minim.
“Apa kamu sedang bekerja?” Bita bertanya sambil menepuk-nepukkan kedua telapak tangan lalu tanah kering terlihat berguguran. Saat memanjat tadi ia sempat berpegangan pada tepian tanah.
“Ya, kabarku baik. Tidak, aku tidak sedang bekerja. Sebenarnya hari ini aku bebas. Setiap selasa aku tidak bekerja.”
“Tapi kau di sini.”
Bita merasa aneh dengan jawaban Janar. Jika dia tidak bekerja lalu apa kesibukannya sampai berada di puncak bukit di siang bolong seperti itu. Ini bukanlah termasuk tempat yang mudah untuk dicapai, setidaknya bagai Bita.
“Ah, ya. Ini bukan ladangku. Sebenarnya aku sedang membantu Paman Soni menyiram kentang dengan pupuk.”
“Pupuk,” Bita bergumam. Benda itu mengingatkannya kembali dengan kata maaf yang tertunda. Sebelum maaf terjadi, mungkin Bita tak bisa hidup dengan tenang.
“Bagaimana aku bisa menemui Paman Soni?”
“Hari ini dia sudah selesai bertugas. Dia sudah cukup tua untuk bekerja seharian jadi kurasa dia sedang beristirahat di rumah. Aku akan melanjutkan sisa pekerjaannya. Kalau mau, aku bisa mengantarmu ke rumahnya besok.”
“Besok?” Bita bergumam lirih. Rupanya memang perjalanan ini tak ada artinya sejak awal. Dia rela meninggalkan piring sarapan yang belum selesai ia makan, berjalan ratusan meter, menanjak menahan pegal di kaki, dan semuanya sia-sia. Bita harus menunggu hari esok untuk menemui Paman Soni. Kadang, niat baik belum tentu berjalan dengan mulus.
“Apa itu kau?” tanya Janar setelah beberapa saat mereka terdiam.
Bita membelalak. Ini bukan perkara pertanyaan Janar melainkan Janar tahu. Pemuda itu sudah tahu bahwa Bita penyebab kekacauan hari ini. Pelayan toko yang salah memberikan pupuk cair dengan herbisida adalah dirinya. Ini memalukan.
“Hah?” Bita tergagap.
“Orang yang salah memberikan botol kepada Paman Soni?” Janar justru mempertegas. Sebersit rona merah pun menghiasi wajah Bita. Ia sulit menunduk untuk bersembunyi, akhirnya Bita merosot ke bawah dengan dalih duduk pada tegalan kering.
“Jadi begini, itu adalah kesalahpahaman. Sungguh aku tidak benar-benar sengaja melakukannya,” sahut Bita yang tidak bisa berbohong.
“Hahaha apa kau setakut itu?” Janar pun kemudian duduk di samping Bita sambil memeluk kedua lutut.
“Jangan bercanda. Aku memang sepanik ini setelah mendengar kesalahanku dapat mengancam banyak nyawa di sini. Sungguh aku tidak ingin menjadi pembunuh.”
“Siapa yang pembunuh? Tidak ada seorang pun di sini yang akan menjadi pembunuh. Ini hanya kentang. Kalaupun aku salah menuang cairan herbisida ke dalam tangki semprot, hanya kentang yang akan mati. Itu tidak akan membuatmu menjadi pembunuh.”
Gelak tawa renyah terdengar dari suara Janar sementara mimik datar masih terpampang pada wajah ciut Bita. Mungkin bagi Janar ini hanyalah sebuah lelucon, namun kata pembunuh telah melekat terpatri dalam ingatan kelam Bita akan ayah kebanggannya. Dalam pintasan ingatan itu Bita bertanya-tanya kemana perginya sang ayah setelah terbebas dari hukuman. Sungguh sejak kejadian mengerikan dalam hidupnya itu Bita berusaha melupakan bahwa ia pernah memiliki seorang ayah.
Cukup lama Bita menatap Janar sampai ia mengakhiri suara tawanya. Ini bukan kali pertama ia berada sedekat ini dengan Janar namun baru ia sadari bahwa pemuda di sampingnya ini telah tumbuh menjadi bentuk yang berbeda. Melihat Absari dalam postur tubuh yang tidak jauh lebih besar dari Bibi Wening, membuat angan Bita membayangkan Janar tak akan memiliki tubuh setinggi dan sebesar sekarang. Ia sadar bahwa saat mulai berteman dengan Janar, Bita tak pernah memperhatikannya dengan sangat rinci. Dulu ia sering menunduk setiap bertatap muka apa lagi berbicara dengan orang lain. Bita tak menyukai cara mereka memandang dirinya sejak dia dianggap sebagai kuman di sekolah. Orang yang peduli dengannya hanya akan memberikan tatapan iba sementara orang yang membencinya tidak mungkin sudi menatapnya.
“Apapun itu aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Kalau bukan kamu, mungkin aku sudah menjadi pemusnah kentang di ladang Paman Soni.”
Janar menoleh. Ia melepaskan senyumnya lalu menatap dalam kedua mata bulat milik Bita. Ia membuka topi rimba dari atas kepalanya yang kemudian menampakkan rambut warna hitam kelam dengan potongan sedikit panjang pada sisi-sisi kepala itu. Dengan perlahan Janar meletakkan topinya di atas kepala Bita. Gadis itu pun menoleh, sedikit terkejut.
“Jika terlalu lama berada di bawahnya, matahari bisa membuatmu pusing. Pakai ini.”
Tanpa kata, Bita membiarkan kepala dengan rambut panjang tergerai itu tertutup oleh topi bertali milik Janar. Mulutnya sedikit terbuka mengisyaratkan ada keterkejutan yang ia rasa saat itu. Bukan karena ia terkejut Janar memakaikan topi kepadanya tiba-tiba. Bukan itu. Namun kalimat Janar memberitahu bahwa ia ingat kebiasaan Bita yang terjadi semasa di sekolah. Dua kali Bita ijin sakit karena pusing saat aktifitas di luar ruangan. Rupanya Bita bukanlah orang yang mudah dilupakan oleh Janar, atau mungkin oleh semua orang yang pernah mengenal Bita. Masa lalu Bita terlalu melekat pada ingatan mereka.