Dari luar jendela temaram cahaya jingga tampak menghias langit sore itu. Semburatnya membentuk biasan gradasi warna yang mempesona di arah barat. Sepasang makhluk manusia itu berjalan beriringan di atas jalanan berbatu yang sedikit menanjak. Ada sebersit rasa syukur yang tercipta dari dalam relung hati sang wanita. Ia telah lupa. Hari itu ia berhasil membuat lupa hal yang tak ingin diingatnya lagi. Walau tak seberapa lamanya ia lupa namun ini cukup lega. Kembalinya dirinya bukanlah sebuah kepulangan melainkan pelarian diri. Hanya tempat itulah yang pertama kali terpikir olehnya akan menjadi tujuan melupakan kenangan. Setelah berusaha kabur dari perjalanan hidup yang menyedihkan, kini ia kembali pulang dengan alasan yang tak jauh berbeda.
Sepasang sepatu berwarna putih telah berubah menjadi lebih gelap dan kotor namun dibiarkannya tetap melekat pada kaki yang kurus itu. Bita masih cukup nyaman memakainya bukan karena tak bisa berjalan tanpa alas kaki namun sebab suasana hati si pemilik tampaknya sedang mekar kembali setelah cukup lama menguncup hingga layu. Janar di sampingnya bak bulir embun menyejukkan hati kemarau. Ia membuat obrolan tanpa mengungkit kisah duka sang wanita. Senyum dan tawa pun mewarnai perjalanan keduanya hingga sampai di bawah lampu jalan tempat mereka berpamitan.
“Aku akan menjemputmu esok pukul sepuluh,” ujar Janar saat menghentikan langkahnya untuk berputar arah.
“Baiklah, akan kutunggu,”
Di bawah langit sore itu Bita melanjutkan langkahnya menuju kediaman sang bibi dengan membawa bahagia. Rona merah pada kedua pipi mengisyaratkan suatu gejolak tengah terjadi di dalam hati. Darah yang hangat itu berdesir lembut dan si hati kecil berbisik membelai perasaan rapuh sang gadis dengan pertanyaan apakah memang si pria sebaik ini sejak dulu. Satu hal yang baru ia sadari rupanya masih ada cukup manusia di muka bumi ini yang tidak memiliki perasaan risih terhadapnya. Atau mungkin penglihatannya cukup sempit waktu dulu dan hanya mampu menangkap tatapan sinis tanpa mengindahkan orang-orang yang peduli terhadapnya.
“Bisakah memberi kabar terlebih dahulu sebelum pulang terlambat?”
Bita terpaksa mendongak dari tundukan kepala saat berjalan untuk menemukan sumber suara yang didengar. Bibi Wening telah berdiri tak jauh dari langkahnya sambil berkacak pinggang. Sweater kebanggan itu menjuntai pada ujungnya. Terlihat bergelambir akibat benang yang sudah mulai lentur.
“Aku melakukan apa yang kau perintah. Aku sudah berusaha mencari Paman Soni sampai ke ladang di puncak sana tapi dia sudah tak ada. Aku akan kembali lagi besok untuk menemuinya di rumah. Apakah itu sudah cukup untuk alasan keterlambatanku pulang?” Bita membela diri.
“Maksudku, apa kau tidak bisa menelponku atau mengirim pesan sekedar memberi tahu bahwa aku tak perlu khawatir sepanjang hari menunggumu.”
“Aku tak punya ponsel.”
“Apa itu sebuah alasan lain?”
“Sungguh aku sedang tidak membela diri. Aku memang tidak punya. Aku sudah membuangnya sebelum kembali ke sini.”
Bibi Wening dengan perubahan raut wajah yang tiba-tiba menjadi datar itu menyugar rambut sebahunya yang bergelombang. Sambil mengangkat ujung bibir atas, ia menatap tajam pada sang keponakan seraya mengisyaratkan ketidakpercayaan.
“Kau boleh menggeledahku kalau mau,” ujar Bita membuang muka. Tampaknya ia tak peduli lagi dengan tatapan curiga dari Bibi Wening.
“Sudahlah, kau tak akan mengerti,” kembali Bita berujar. Ia paham bahwa sang bibi sedang menunggunya untuk memberikan penjelasan atas pernyataannya barusan. Membuang ponsel bukanlah sesuatu yang umum dilakukan oleh orang normal kecuali memang ada pengganti ponsel lain. Ya, memang terdengar aneh di telinga orang manapun, bukan hanya Bibi Wening. Tidak memiliki ponsel maka sama halnya hidup pada zaman batu.
Meski tak mudah namun Bita telah berusaha membiasakan diri hidup tanpa bergantung pada benda pipih berteknologi canggih itu. Membuang ponsel yang telah membersamai lama dengan nya adalah salah satu langkah kecil dalam usahanya mengembalikan mental. Jiwa itu pernah hancur oleh seorang pria kebanggaan yang pernah ia anggap sebagai teman sejiwanya. Melupakan orang yang pernah tinggal lama di dalam hati bukanlah perkara mudah. Bita mengambil langkah kecil yaitu dengan menyingkirkan semua hal yang dapat membuka luka. Membuang ponsel adalah pilihan terbaik bagi Bita.
“Jadi, apa betul kau mengkhawatirkanku yang tidak pulang cepat?” Dalam kecanggungan itu Bita berusaha mencairkan suasana. Ia menduga taktiknya cukup berhasil. Bukan hanya pengalih pembicaraan namun kalimatnya juga mampu membuat sang bibi tampak salah tingkah. Tepat sasaran, batin Bita. Sejak dulu Bibi Wening tak pernah ingin memperlihatkan rasa peduli dan sayangnya pada sang keponakan. Egonya cukup tinggi untuk mengungkapkan.
“Aku tak peduli!” sahut Bibi Wening bersamaan dengan hentakan pada kaki untuk meninggalkan Bita.
Senyum puas pun terpampang di wajah ciut Bita yang merasa menang dalam perdebatan kali ini.
Langit barat makin kelam disusul hawa dingin yang menyerang. Berselimut kabut tipis, desa kecil itu berubah menjadi lebih sunyi. Bita melanjutkan langkahnya dengan tanpa sadar menolehkan wajah ke arah lampu jalan tempatnya berpisah dengan Janar. Ada setitik kerinduan yang tak terungkap dan hanya mampu berharap hari esok akan sgera tiba lebih cepat. Bita pun menunggu.
Di dalam kamar tidur itu kembali Bita merebahkan tubuh letih di atas hamparan kasur. Penutupnya terasa dingin dan lembut dengan warna mint. Menatap langit-langit membuat bayang-bayang masa yang telah berlalu kembali berkelebat dalam angan Bita. Bersyukur hari ini satu momen terbentuk menutup sedikit gurat dari kenangan masa suramnya.
Setelah sang ayah, kekecewaan Bita kembali terulang pada pria kedua. Dialah sumber dari alasan terbesarnya untuk kembali menyusuri kehidupan masa lalunya di desa itu. Pria yang pernah memberikan sedikit warna dan kepercayaan, rupanya menjadi racun yang membawa Bita jatuh terperosok ke lubang yang lain. Arwana, begitu Bita memanggil namanya.
Tiga tahun Bita menaruh rasa percaya yang teramat besar kepada Arwana bahwa dia mampu membawa hidup Bita ke arah yang lebih terang benderang. Seorang pria mapan dan juga pemimpin perusahaan tempat Bita mengabdikan diri. Siapa yang tak yakin? Bita sebatang kara yang teramat membutuhkan sandaran sangat menyambut dengan suka cita kehadiran Arnawa dalam hatinya. Ternyata tiga tahun menjadi sesuatu yang tak bermakna setelah malaikat dalam diri Arnawa berubah menjadi iblis. Ketulusan yang telah tercurah itu menjelma menjadi sebuah ancaman bagi Bita. Arnawa menemukan dambaan hati pada wanita lain. Sekuat tenaga Bita mempertahankan hubungannya namun justru mendapatkan perlakuan yang tak pantas. Sebuah fitnah keji melekat pada diri Bita. Semua orang yang bekerja dengannya tega menghindar demi mempertahankan posisinya tanpa peduli akan sebongkah hati yang merasakan getir remuk redam hingga memutuskan untuk mundur.
Dalam tidurnya, Bita mencoba beringsut memiringkan tubuh hingga menatap dinding. Jika langit-langit hanya bisa menampilkan bayangan buruk, maka dinding mungkin bisa mengalihkan menjadi lebih indah. Benar saja, saat kedua kelopak itu menutup, secara bersamaan terlintas gambaran puncak ladang kentang. Janar, satu-satunya teman masa sekolahnya yang masih sudi mengajak bergaul itu membuat sedikit warna dari bayang abu-abu milik Bita. Retakan dalam hati itu sedikit demi sedikit menemui kesembuhan.
Pagi pun menjelang dengan singkat. Tubuh kuyu yang lunglai itu seketika terkesiap saat kehangatan sinar mentari menjalari kulit.
“Apa aku terlambat?” Monolog Bita pada dirinya.
“Kamu pengangguran. Terlambat apanya?”
Bita menoleh dengan cepat dan dilihatnya sang bibi tengah berdiri di ambang pintu kamar yang sengaja dibiarkan tak terkunci. Bita khawatir jika tidur lelapnya dapat membuat pintu yang tak bersalah itu hancur seperti terakhir kali Bibi Wening menggedornya dengan sangat keras. Kali ini ada sebuah nampan dalam pegangan sang bibi, bukan lagi berkacak pinggang seperti kebiasaannya. Sebuah gelas penuh air berwarna putih masih mengepulkan asap dan sepotong roti berbau gosong bertengger dengan anggun di atasnya. Diam-diam Bibi Wening khawatir keponakannya kurang nutrisi.
“Aku tidak bilang aku menganggur,” sahut Bita terlihat gengsi.
“Apa namanya orang yang tidak punya pekerjaan kalau bukan pengangguran? Kamu tidak pandai berbohong, Bita. Jika tidak karena mengundurkan diri, maka artinya kamu dipecat. Koper besarmu itu telah menjawab semuanya.”
Sontak kedua bola mata Bita memutar menuju sudut ruang dimana ia menyimpang koper. Benar yang dikatakan Bibi Wening. Orang yang akan tinggal sementara tidak mungkin membawa begitu banyak barang seperti dirinya.
Bita menggigit bibir bawah persis seperti kebiasaannya saat kedapatan melakukan kesalahan. Ia memang tidak lagi bekerja pada perusahaan periklanan itu. Ia bukan lagi staf dengan gaji dan tunjangan puluhan juta. Dan ia tidak membawa apapun untuk dibanggakan saat kembali. Namun setidaknya, dia tidak dipecat.
“Aku tidak dipecat, Bi.”
“Aku tak peduli. Habiskan s**u dan rotinya. Sekarang kamu menjadi pelayan toko pupuk. Jika tidak ingin bekerja maka cari tempat tinggal lain.”
Gadis dengan rambut sepanjang punggung itu hanya bisa menghembuskan nafas dengan cukup kasar kala sang bibi pergi begitu saja setelah meletakkan nampan di atas nakas kamar.
Pandangan Bita masih terpaku pada daun pintu yang tertutup dengan kasar oleh Bibi Wening. Ia bisa pergi kemanapun ke tempat yang ia suka. Bita bisa memilih tempat tinggal dimanapun jika ia mau. Tabungannya cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan. Tapi ia memilih untuk kembali pulang. Dalam diri Bibi Wening yang cuek dan tampak sadis, ia melihat sosok ibundanya yang telah tiada. Berbicara pada Bibi Wening membuat Bita merasa tetap menjadi seorang anak yang mendengar omelan dari sang ibu. Bibi Wening, dengan kasih yang tak ingin diungkapkannya, adalah satu-satunya orang tua yang menjadi tujuan kepulangan Bita. Meski ayah masih ada, kabarnya ia telah keluar dari dalam penjara beberapa tahun belakangan, namun menemui dan tinggal bersama Bibi Wening jauh lebih membuat perasaan Bita menjadi nyaman senyaman tinggal bersama sang ibu.