Setiap kali pintu kaca itu berdenting, Bita langsung terkesiap. Pandangannya terus terarah pada pintu utama memastikan kedatangan seseorang. Kentara sekali bahwa ia sedang menunggu. Ketika orang yang tak dikenalnya tampak berjalan memasuki lorong-lorong rak pajangan, gadis berwajah tirus itu tertunduk sedikit kecewa. Berulang kali ia memastikan arlojinya dapat bekerja dengan baik. Pukul sepuluh seharusnya beberapa menit lagi namun Bita sudah tak sabar.
“Kau bisa menyusulnya di balai tani,” Bibi Wening berujar tiba-tiba membuat Bita bergerak salah tingkah di belakang meja kasir seakan ia tertangkap basah tengah melakukan tindak kriminal.
“Apa maksudmu?”
“Gerak-gerikmu mencurigakan. Kalau memang tidak sabar untuk bertemu dengannya, kamu bisa pergi. Anggap hari ini kamu masuk setengah hari. Gajimu masih selamat setengah setidaknya.”
Bita hanya bisa menggigit ujung bibirnya sendiri sembari berkedip cepat saat memalingkan wajah dari sang bibi. Ia berharap Bibi Wening tak menangkap kesalahan tingkah yang tengah ia rasakan sebab tebakan sang bibi telak menuju sasaran perasaan Bita. Memang ia sedang menunggu. Kehadiran Janar tengah Bita nantikan bukan hanya sejak pagi tadi melainkan sejak mereka berpisah di bawah lampu temaram. Bita tidak menyimpulkan perasaannya berarti suka melainkan ia bersyukur menemukan teman masa sekolah yang masih mau mengenalnya. Janar adalah bukti bahwa masa lalu Bita tak sekelam yang ia kira. Masih ada satu atau dua orang setidaknya yang sudi menganggap Bita sebagai manusia pada umumnya bukan kuman seperti yang selama ini mereka sangka.
Bersamaan dengan suasana canggung yang tengah dirasakan oleh Bita, pria tinggi besar yang sejak tadi dinantikan, memasuki pintu kaca. Denting lonceng berbunyi lirih. Dorongan tangan Janar saat membukanya tidak sekeras orang lain.
“Bi, aku pergi.”
“Menemui Paman Soni,” sambung Bita menegaskan.
Cepat-cepat Bita melarikan diri dari sang bibi sebelum wanita lima puluh tahun itu menyadari Janar telah tiba. Ia tak mau Bibi Wening mengeluarkan kalimat di hadapan Janar tentang kenyataan bahwa Bita telah lama menanti. Atau bisa lebih parah dari itu. Sungguh ini memalukan.
Secepat kilat tangan kurus Bita mendorong tubuh besar Janar untuk kembali menuju pintu. Pria itu tak paham. Inginnya menyapa Bibi Wening terlebih dahulu sebelum membawa keponakannya pergi. Namun Janar tak menolak saat tubuhnya bergerak mundur hingga keluar dari dalam toko. Pria berlesung pipi itu menatap geli puncak kepala Bita di bawah dagunya. Ia yakin tangan Bita masih berusaha mendorong bagian d**a miliknya.
“Ayo kita pergi dari sini.”
“Apa aku berbuat salah?” Tanya Janar saat tangan Bita melepaskannya. Mereka berdiri tak jauh dari teras toko.
Bita menggeleng panik.
“Tidak. Tentu tidak. Aku hanya tak ingin ehm….”
Kedua mata Bita berputar mencari alasan yang tepat. Tak mungkin ia berkata jujur bahwa Bibi Wening punya pemikiran lain tentang dirinya dan juga Janar. Sebisa mungkin Janar tak perlu tahu bahwa Bita tak sabar menantikan kehadirannya. Bahkan diatas tempat tidur pun Bita berharap waktu segera pagi. Sungguh, jika Janar tahu, Bita tak sanggup lagi menunjukkan muka karena malu yang teramat sangat.
“.... Bibi sedang sibuk. Makanya aku harus diam-diam saat kabur dari toko.”
“Maksudmu kamu membolos bekerja?”
“Ah, ya begitulah.”
Bita bernafas lega saat Janar salah menebak.
“Kita pergi sekarang?” Janar bertanya seraya mengacungkan lengannya menuju ke arah jalan.
Dua pasang kaki seirama saling beriringan itu kemudian melangkah menyusuri jalanan berbatu. Di pinggirnya rumput-rumput lembab telah kehilangan bulir embun akibat sang mentari yang perlahan naik. Cahayanya yang terang silau itu terasa hangat menjalar membuat siapapun ingin keluar dari dalam rumah. Bita menurunkan topi beanie rajut warna putih hingga ke batas alis. Wajahnya makin ciut berbingkai tepian topi dan rambut di kedua pipi.
“Apa ini jalan yang benar?” tanya Bita setelah beberapa menit mereka saling diam dalam perjalanan.
“ Apa kau meragukanku?”
“Tidak. Bukan itu maksudku.”
“Hahahah kau masih saja menjaga perasaan orang. Dari dulu masih sama. Apa kau selalu begitu, Na? Tidak enakan pada orang lain? Kamu tidak menyinggungku. Aku hanya bercanda.”
Bita terdiam. Untuk beberapa detik, ada yang mengubah pikirannya secara tiba-tiba. Dia tak lagi berkeinginan untuk memberi penjelasan tentang kesalahpahaman yang terjadi namun ada hal lain yang cukup mengusik.
“Na?” Bita bergumam lirih namun bernada tanya. Seakan pertanyaan itu tertuju untuk dirinya sendiri. Panggilan itu terlalu asing untuk telinganya meski Na adalah bagian dari Nirbita, nama yang diberikan oleh ayah dan ibunya.
Sayangnya, Janar cepat menangkap gelagat canggung dari sang wanita. Ia menoleh, tetap diam, dan tersenyum mengawasi rona merah yang muncul di pipi kanan Bita yang sibuk menunduk memperhatikan langkah. Tinggi badan Janar memaksanya ikut menunduk untuk menyamai posisi Bita.
“Boleh aku memanggilmu begitu?” Janar bertanya.
Ketika Bita secara spontan menoleh sambil memasang wajah polosnya, kentara sekali rona merah muda menghias seluruh pipi itu. Bunga sakura, Janar membatin. Wajah ciut itu bagai bunga sakura yang baru saja mekar setelah cukup lama menguncup.
“Hah?” Bita balik bertanya. Bukan untuk mendapatkan penjelasan namun sebenarnya ia sedang mencari jawaban. Pengalih perhatian.
Memanggil nama yang bukan nama sebenarnya akan terasa istimewa. Artinya orang dengan panggilan istimewa adalah seseorang yang cukup dekat dan memiliki ikatan lebih kuat dibanding orang tanpa panggilan istimewa. Bita merasa dia belum saatnya mendapat panggilan istimewa dari Janar. Dia hanya seorang teman lama.
“Maaf kalau menyinggungmu tapi sebenarnya aku sudah sering memanggilmu Na saat sekolah dulu. Tapi kita jarang sekali bicara jadi mungkin kamu lupa atau bahkan tidak menyadarinya.”
“Begitukah?”
“Kalau kau tak suka aku bisa berhenti melakukannya.”
“Tidak,” sahut Bita yang secara reflek mencengkram bagian lengan jaket Janar.
“Kau boleh memanggilku sesukamu,” sambung Bita saat Janar tampak kaget dengan sikap Bita saat mencengkramnya.
Panggilan Na lebih terasa lembut di telinga. Meski orang memanggilnya Bita, toh Na tetap menjadi bagian dari namanya, Nabita. Bahkan Bita pernah mendapatkan panggilan lebih buruk. Semua orang di sekolah sempat memanggilnya sebagai anak pembunuh. Na tidak akan lebih buruk dari itu. Sungguh, tidak ada salahnya.
Janar menghentikan langkah. Ia menatap dalam kedua mata berbingkai topi rajut itu. Sambil tersenyum menampilkan deret gigi putihnya, Janar berucap,
“Na,”
“Bisakah kau melepaskanku? Aku sulit berjalan,” dia melanjutkan.
Sontak Bita melepaskan jemari itu dari jaket parasut milik Janar. Tangan yang tak lagi tahu dimana harus berada itu akhirnya mendarat pada mulut si pemilik. Bita dengan canggungnya menggigiti ujung jarinya sendiri. Menyadari akan hal itu, Janar justru makin melebarkan senyum hingga menciptakan sebuah tawa renyah. Tawa yang terdengar nyaman nan teduh itu memaksa Bita untuk menoleh. Ia menyaksikan Janar bergelak sambil menggerakkan kepala hingga ke arah belakang. Anehnya, Bita sama sekali tidak merasa sakit hati dengan tawa yang tertuju padanya itu. Ini berbeda. Dulu dia pernah menangis merasa tersayat saat semua teman sekolah menertawakannya lantaran terkunci di dalam kamar mandi. Mereka menikmati penderitaan Bita. Tawa mereka mencemooh dan penuh kepalsuan. Bahagia tak akan muncul di tengah tawa saat satu pihak justru merasa sakit.
Lalu, sambil mengawasi deret gigi putih dan lesung pipi Janar, perlahan kedua mata gadis itu memancarkan sorot kegembiraan. Satu lengkung pun tercipta pada bibirnya