“Apa masih jauh?”
“Tidak. Setelah melewati kebun strawberry itu kita sudah dekat. Rumah Paman Soni tak jauh dari sana.”
Dilayangkannya telunjuk kiri Janar ke arah timur sembari meyakinkan Bita bahwa perjalanan mereka tak akan lama lagi. Meski tak tampak tetesan peluh, namun Janar mengira berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang dilakukan Bita. Siapapun yang tidak terbiasa berjalan kaki, meski dekat akan cepat terasa lelah.
“Kebun strawberry?” Ada nada sedikit terkejut dari pertanyaan Bita. Kedua alisnya mengerut penuh curiga. Saat kecil dulu di tempat itu hanya menjadi ladang yang strategis untuk menanam sayur-mayur. Ia tak menyangka bahwa akan ada buah juga yang ditanam oleh petani di sana. Terlebih, buah kesukaannya. Mungkin ini salah satu bentuk inovasi, pikirnya. Perkembangan teknologi yang sangat cepat tidak akan membuat heran jika desa tempat tinggalnya yang baginya cukup primitif itu dapat berkembang dengan pesat.
“Ya,” jawab Janar mantap. Dari nadanya seakan mengisyaratkan bahwa strawberry yang ditanam di sana bukan hal yang mengejutkan lagi. Itu artinya sudah cukup lama buah itu dibudidayakan di daerah penghasil sayur.
“Apa kau tertarik untuk mampir?” tanya Janar menawarkan. Perjalanan menuju rumah Paman Soni tak akan terganggu jika mereka mampir sekedar untuk melihat dan mungkin mencicipi satu atau dua strawberry yang matang.
Secara singkat, bayangan akan manis dan segarnya strawberry menghias pikiran Bita. Warna merah menyala dengan taburan bintik biji yang sangat menggiurkan, terasa renyah dan berair, membuat Bita tak sabar ingin segera memetik.
Gadis berambut panjang itu sempat menghela nafasnya sebelum menjawab dengan cukup terpaksa.
“Mampir? Tidak, aku tak ingin merepotkan.”
Rasa kecewa sedikit tersirat dari nada bicara Bita. Siapa yang tak ingin mengunjungi langsung perkebunan buah yang menjadi favorit semua orang itu? Tentu Bita sangat ingin. Namun dengan berat hati ia harus berbohong karena tugas yang sangat utama belum selesai ia jalankan. Apa tujuannya berjalan kaki menyusuri jalanan menanjak berbatu kalau bukan untuk satu permohonan maaf yang belum usai. Mampir hanya akan menjadi sebuah hambatan yang dapat menunda tugas bertemu Paman Soni lebih lama lagi.
Bita sedikit melipat bibirnya sambil berharap akan ada paksaan yang dilayangkan oleh Janar kepadanya. Menarik ucapan rasanya sangat memalukan tapi lebih mengecewakan jika ia benar-benar menolak tawaran Janar untuk melihat strawberry yang segar. Bita bahkan tak tahu kapan lagi bisa mendapatkan kesempatan berjalan di area itu bersama Janar dan diminta untuk mampir melihat strawberry. Hanya beberapa menit, mestinya tidak akan menjadi halangan yang berarti. Ayo paksa saja aku, batin Bita penuh histeris.
“Kebetulan aku pemiliknya.”
Bita menoleh takjub. Dengan mulut menganga, ia memandangi wajah Janar dari samping yang tampak tersipu malu. Ini jackpot, batinnya. Saat ini Bita berjalan berdampingan bukan hanya dengan seorang petani namun juga dengan pemilik kebun strawberry? Wau, kalau begitu, kata mampir sepertinya akan terdengar lebih sopan. Analoginya begini, ini sama halnya seorang teman yang mengajak kita untuk melihat rumahnya. Menolak adalah hal yang sangat tidak sopan untuk dilakukan. Kalau begitu, Bita tak akan sungkan lagi menarik ucapan untuk mengubahnya menjadi kesediaan menerima tawaran Janar untuk mampir di kebun strawberry miliknya. Sungguh waktu yang pas.
Dengan usaha yang cukup besar, Bita mencoba menahan hasrat yang menggebu di dalam d**a. Ia tak mau tampak kekanak-kanakan dengan berjingkat-jingkat karena kegirangan di depan Janar. Untuk menutupi semua itu, ia berpaling beberapa detik lalu mengerutkan wajah dengan kencang sambil berteriak di dalam hati.
“Tapi Bibi Wening berkata bahwa kau bekerja sebagai exportir. Tapi kau berkebun juga?” tanya Bita sebagai salah satu bentuk usahanya dalam mengalihkan perhatian Janar yang kemungkinan menangkap rona histeris dari sikap Bita.
“Apa saja yang sudah kau dengar tentangku? Semoga semua hal baik.”
“Tak banyak. Makanya aku ingin tahu langsung darimu.”
Bita sontak terdiam setelah kalimatnya terucap. Di hadapannya kini terpampang sebuah rumah kaca yang sangat ia yakini menjadi wadah besar penampung ribuan butir strawberry yang menggemaskan. Bita smpai menutup mulut dengan kedua tangannya berusaha untuk tak memperlihatkan betapa terpesonanya ia dengan bangunan itu.
“Kau ingin mendengar ceritaku?”
“Ya, tentu.”
Janar berjalan lebih dulu. Ia memandu Bita memasuki pintu transparan yang terbuat dari kaca elastis. Bita mengikuti dari belakang seraya memindai semua detil benda yang terdapat di sana. Semua tampak hijau. Meja dan semua rak bersusun itu dipenuhi dengan daun-daun hijau segar yang menjalar.
“Selesai sekolah, aku ke ibukota untuk melanjutkan kuliah. Sebelum menyelesaikan studi magister, ayah meninggal,” ujar Janar memulai kisahnya. Ia berjalan pelan membuat Bita menyamai ritme langkahnya.
“Oh, maaf,” Bita menyahut. Dengan raut kesedihan itu ia berhenti memastikan warna merah diantara dedaunan strawberry yang rimbun. Sayang sekali Bita belum menemukannya.
“Tak apa. Ini sudah cukup lama.”
“Kau bilang ke ibu kota? Kamu kuliah?”
Janar mengangguk pelan sementara itu Bita justru menunjukkan keterkejutan.
“Bagaimana bisa kita tidak pernah bertemu? Di bagian mana kamu tinggal di sana?”
Janar hanya menunjukkan seringai tipis. Gestur tubuhnya memperlihatkan bahwa ia sedang ketahuan. Rahasia yang ia simpan terbongkar secara tak sengaja. Detik berikutnya, Janar kembali melanjutkan kisah perjalanan hidupnya tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Bita.
“Aku kembali melanjutkan studiku. Lalu aku bertekad untuk mengabdikan diriku pada desa ini. Tawaran menjadi pengajar, bahkan pindah ke luar negeri, dengan yakin kutolak. Aku tak ingin jauh dari ibu dan Gia, adikku. Dan disinilah aku berada. Menjadi petani strawberry.”
Setelah melepaskan kalimat rendah hati, Janar berhenti berucap saat menyadari lawan bicaranya tengah memasang tatapan tajam tanpa senyum. Kedua lengan Bita terlipat di depan d**a. Tanpa berkedip, kedua bola mata itu terus terarah lurus tertuju pada mata Janar. Ini membuat sang pria menjadi salah tingkah. Dalam hati kecil Janar mengaku telah kalah telak. Mungkin saat ini ia harus mengaku atas semua perbuatan yang tak pernah terungkap kepada Bita.
“Jadi, kau tak mau bercerita?”
“Sudah kuceritakan semua.”
“Kamu tahu maksudku, Janar.”
“Ehm, ya aku tinggal di ibu kota. Mungkin selama 6 tahun atau lebih.”
“Baiklah, kalau memang tak mau bercerita, mungkin aku tak harus mendengarnya.”
Sambil berucap, Bita membalikkan badan seraya bersiap meninggalkan rumah kaca meskipun dalam hati ia masih ingin tinggal lebih lama. Suasana di dalam hati tak lagi seceria sebelumnya.
Tepat saat tubuh kurus itu berputar, saat itulah tangan Janar sigap menangkap lengan kanan Bita.
“Tunggu. Jangan pergi.”
Terpaksa Bita terdiam. Ia berbalik dan menunggu kalimat Janar berikutnya.
“Aku tinggal di daerah pusat. Kalau kau penasaran mengapa kita tidak pernah bertemu, sebenarnya beberapa kali kita berpapasan. Aku tahu kau tinggal di apartemen Raya Muda. Itu tepat di samping apartemenku. Tapi sepertinya kau tak pernah menyadariku. Aku hanya bisa memandangmu dari jauh. Lagi pula, aku tak ingin kekasihmu salah paham jika aku menyapamu.”
Deg.
Bita hanya bisa berkedip mendengar semua ungkapan Janar yang terdengar sangat jujur. Tak pernah sekalipun Bita memberitahu dimana ia tinggal, bahkan Bibi Wening sekalipun. Lalu Janar dengan lancarnya mengatakan nama apartemen yang menjadi tempat tinggal Bita selama belasan tahun. Hanya dari hal kecil itu saja sudah menunjukkan kejujuran dari seorang Janar. Tapi, bukan, bukan itu saja yang mendadak membuat lidah Bita menjadi kelu. Janar tahu. Janar menyaksikan keseharian Bita bersama orang yang pernah menjadi nomor satu di hati. Orang yang pernah sangat ingin Bita miliki namun berubah menjadi orang lain hanya karena sebuah restu yang tak pernah didapat.
“Maaf, aku sungguh minta maaf. Bita, aku tidak sepemberani yang kau kira. Bagiku, kau adalah sebuah batu keramik yang teramat rapuh. Membawamu butuh kehati-hatian tingkat tinggi. Sejak sekolah, aku hanya bisa memperhatikanmu dari jauh. Diam-diam aku ingin melindungimu dari para perundung itu. Tapi aku tak mau hatimu lebih terluka jika aku mendekat. Begitu juga saat aku menemukanmu di tengah ibu kota. Sekali lagi aku hanya mampu merasakan syukur karena dapat melihatmu hidup bahagia.”
Angin yang berhembus melalui celah pintu kaca, cukup lembut menerpa kulit wajah Bita. Ia terpaku tanpa sepatah katapun yang keluar. Pengakuan Janar sungguh membuat ia sulit bernafas. Janar ingin melindungi, janar memperhatikan, dan Janar turut bahagia dengan kebahagiaan Bita. Bukankah semua itu bermuara ke satu titik, yaitu rasa suka? Janar menyukai Bita. Begitukah?
Pikiran Bita kini berkecamuk. Semestinya ia ingin meluruskan apa yang Janar saksikan mengenai pria yang bersamanya. Betapa Bita ingin menyampaikan bahwa Arnawa tak lagi menjadi kekasih seperti yang Janar ucapkan. Bahwa ia tak lagi sebahagia yang pernah Janar lihat. Namun, alih-alih menyiapkan dialog untuk menyanggah, otak Bita justru dipenuhi dengan deretan fakta mengejutkan dari ungkapan perasaan Janar secara tak langsung. Bagai potongan puzzle, ia mulai merakitnya menjadi sebuah bentuk gambar. Jika Bita tak salah menerka, Janar menyimpan perasaan suka kepadanya sejak mereka sekolah bersama, saat Bita ingin menghilang dari muka bumi, saat Bita tak yakin mampu menahan cibiran orang, dan saat Bita berusaha tak peduli dengan orang sekitar kecuali hanya dengan urusannya sendiri.
“Janar, mungkin sebaiknya aku tak bertanya,” Bita berucap. Lebih banyak yang terucap dari Janar, akan lebih banyak pula pengakuan tak sengaja yang akan terungkap. Sungguh, Bita belum siap mendengarnya.
Janar mengangguk patuh. Ia melepaskan genggaman tangan pada lengan Bita secara perlahan. Lalu, tampak bola mata Bita tiba-tiba bersinar mengarah kepada sesuatu.
“Aku melihatnya!”, pekik Bita membuat Janar ikut menoleh.
“Apa?”
“Apa lagi? Tentu strawberry.”
“Sayangnya kau datang saat belum banyak buah yang matang.”
“Tak apa. Satu ini saja sudah cukup.”
Bita mendekatkan jemari runcingnya pada satu strawberry yang tampak merah segar. Dengan sangat pelan, ia mengangkat buah mungil itu dari media tanamnya.
“Cobalah,” ucap Janar di dekat Bita yang sedikit menunduk.
“Memakannya?””
“Ya. Cobalah.”
Dengan cepat Bita menggelengkan kepala bertopi rajut putih itu. Bibirnya melengkung ke bawah serta kedua alisnya berkerut. Melihat wajah cemberut itu, Janar justru tersipu. Wajah ciut Bita mendadak berubah menjadi anak balita yang sedang merajuk.
“Tidak. Ini terlalu lucu.”
Kalimat Bita membuat Janar mengeluarkan tawanya. Ini hanya sebuah strawberry kecil. Memakannya satu tak akan membuat strawberry menjadi punah. Lagipula, jika dibiarkan, buah itu akan membusuk dan percuma. Hidupnya akan berakhir sia-sia tanpa manfaat.
“Tenang. Kau akan mendapatkan lebih banyak lagi ketika musim panen tiba. Makanlah. Aku memakai pupuk organik, jadi ini aman untuk dikonsumsi secara langsung,” Janar meyakinkan.
Dengan tatapan tak tega, Bita menyaksikan tangan kekar Janar mulai menggenggam benda merah kecil itu lalu secara lembut mematahkan tangkainya. Ia mengangkat tangan itu ke hadapan Bita dan membuka genggaman. Segera sebuah strawberry mungil tergeletak di tengah telapak Janar yang putih membuat perpaduan warna keduanya sangat kontras, merah dan putih.
Secara ragu, Bita mengangkat buah itu lalu mengarahkan ke mulutnya. Ia sempat terpejam saat yakin akan rasa asam yang tercipta dari buah favoritnya itu saat menekannya di dalam mulut. Namun, sontak ia membelalak.
“Ini manis,” ucapnya terkejut.
Pagi itu, Janar menyaksikan dengan penuh bangga, lawan bicaranya tengah berbinar menikmati cita rasa strawberry hasil tanamnya. Melihat pemandangan itu, seketika hati kecil Janar berbisik, betapa indahnya rona wajah itu.
Tanpa satu katapun yang tersurat, keduanya merasa lega buah merah berbintik itu menjadi alasan mereka berhenti membicarakan kenyataan. Satu hati ingin menggali kenangan namun satu lagi justru ingin menutup lembaran masa lalu.