Nirbita. Gadis berambut panjang itu berjalan penuh energi setelah satu buah strawberry memasuki tubuhnya. Terlebih, ia membawa serta sebuah polybag hitam dengan tanaman serupa yang tampak baru saja bertunas. Janar bersikeras agar Bita membawa satu tanaman strawberry yang cukup besar dan sudah siap berbuah namun gadis itu lebih memilih tanaman kecil itu untuk dibawa pulang.
“Aku akan merawatnya dengan penuh kasih sayang,” ucapnya dalam langkahnya menyusuri jalanan berbatu.
Kali ini Janar menyamai irama langkah kaki Bita yang pendek-pendek. Mereka lebih terlihat sedang berjalan santai menikmati pemandangan dan udara hangat alih-alih sedang mengejar kata maaf dari seseorang. Nyaris saja tujuan utama mereka berjalan di sana terlupakan oleh perasaan yang bergejolak diantara masing-masing hati itu. Ada yang belum tuntas untuk terungkap, mereka sangat sadar itu. Hanya saja, sikap dewasa merekalah yang mampu menutupi dan mengalihkannya. Bukan, bukan tidak tahu melainkan berpura-pura.
Kala itu udara yang berhembus cukup mencekat kulit, dinginnya terasa begitu menusuk. Kedua tangan Janar pun secara spontan bergerak masuk ke dalam kantong jaket parasut tebal yang dikenakannya hari itu. Ia melirik teman masa sekolahnya di samping. Kardigan itu terlalu tipis dan tangan yang sedang sibuk memeluk polybag ternyata tidak terbungkus oleh sarung tangan hangat. Untuk orang yang belum terbiasa dengan udara di sana, pastilah akan terasa sangat dingin hembusan angin saat itu.
“Sini aku yang bawakan,” ujar Janar meraih polybag secara paksa dari pelukan sang gadis.
“Jadi kamu bisa memasukkan tanganmu ke dalam saku. Udaranya cukup dingin,” sambungnya.
Kedua tangan Bita masih menengadah saat polybag terlepas begitu saja. Sontak kalimat Janar membawa Bita menunduk mengawasi telapak tangannya sendiri yang tampak pucat.
“Iya, memang dingin,” sahutnya pelan.
Detik berikutnya Bita meraba-raba tubuhnya sendiri seraya mencari saku kantong namun alih-alih menemukan benda yang dicari, Bita justru tersenyum sendiri. Ia menertawakan betapa naifnya dia yang telah lama mengenal kardigan yang dikenakannya tak memiliki kantong. Hanya ada tali pengikat yang melingkar pada pinggang.
“Aku lupa. Tak ada saku di bajuku,” tawa kecil Bita pun terdengar renyah.
Janar menoleh mengawasi mencari kebenarannya dan memang benar rupanya kardigan Bita sama sekali tak memiliki kantong di samping seperti jaket parasut miliknya.
Bibir Janar membuka sedikit siap melontarkan kalimat, namun segera menutup kembali. Ia ragu. Setelah beberapa kali menghela nafas panjang, tetap tak ada kalimat yang terdengar dari mulutnya namun satu gerakan muncul tiba-tiba dari tangannya. Tangan kekar itu meraih telapak tangan Bita begitu saja lalu membawanya masuk ke dalam kantong jaketnya. Hal itu sontak membuat Bita membelalakkan mata.
Bita diam tak bisa mengucapkan kalimat penyanggah. Meski tak pernah setuju dengan pemaksaan apapun, namun kali ini ia patuh. Tangan ramping itu secara pasrah mengikuti tuntunan genggaman Janar hingga kedua tangan berada dalam satu kantong jaket. Hawa hangat pun segera menjalar pada kulit tangan Bita.
“Lebih baik?” Tanya Janar memastikan. Ia melihat wajah ciut Bita yang mendongak di bawahnya memasang senyum tipis.
Bita melanjutkan langkahnya di samping Janar. Tampaknya kini ia perlu menyamai irama langkah Janar yang panjang-panjang. Satu tangan yang berada dalam kantong jaket itu memaksanya mengikuti setiap langkah yang dibuat oleh Janar. Sekali lagi tak ada kalimat protes yang keluar dari mulut Bita. Selapis demi selapis kenangan yang tak menyenangkan terkikis terganti dengan pengalaman barunya. Setelah ini Bita dapat menepis bayangan pahit masa lalunya dengan kenangan manis yang terukir saat berjalan bersama Janar. Cukup sederhana namun melekat kuat dalam relung hati Bita. Ia tak menyangka teman masa sekolahnya masih ada yang sepeduli itu dengannya. Andai saja kedekatan ini terjalin sejak lama, mungkin saja masa sekolah Bita akan terasa lebih baik.
Matahari kian naik. Perjalanan keduanya tak terasa membawa mereka sampai di pekarangan rumah Paman Soni. Tanpa pagar, melainkan hamparan rumput dan tanaman sebagai penggantinya. Bita menyangka hampir semua tanaman hijau yang tumbuh di sana adalah jenis sayuran. Banyak tanaman daun bawang dan seledri dan beberapa warna hijau lain yang tak dikenali oleh Bita.
Saat Janar menghentikan langkahnya, saat itulah tangan Bita bergerak dari dalam saku jaket. Sudah saatnya berjalan sendiri-sendiri, batin Bita. Jika ada yang melihat mereka bergandengan, maka akan banyak asusmsi yang terjadi.
Seakan tahu maksud sikap Bita, secara perlahan tangan besar Janar lebih dulu bergerak, membawa tangan mungil itu keluar dari dalam saku dan melepaskannya.
“Kita sudah sampai,” ujar Janar memberi tahu.
“Apa kita tidak mengganggu? Apa sebaiknya kita datang lebih siang lagi? Mungkin Paman Soni sedang istirahat atau apa.”
Bukan penderita anxiety namun Bita cukup sering merasakan kecemasan jika melakukan kesalahan. Itu sebabnya dia terkenal rajin bekerja saat di kantor yang telah ia tinggalkan. Tentu dengan tujuan meminimalkan kesalahan yang mungkin diperbuat.
Janar sempat terkekeh saat melihat kepanikan dari wajah Bita. Lalu sekali lagi tangan kekar itu bergerak menggenggam tangan Bita berusaha meyakinkan bahwa mereka akan baik-baik saja.
“Paman Soni tidak segalak yang kau kira. Biasanya ia akan ke ladang jam segini tapi karena semua tugasnya sudah kugantikan, kurasa ia ada di dalam sedang menyesap kopi.”
Dengan pasrah, Bita mengikuti tarikan tangan Janar yang bergerak maju masuk ke teras rumah. Di sana ia melepas gandengan itu untuk mengetuk pintu kayu.
Tak butuh waktu lama, seorang pria berumur keluar dari dalam. Ia mengenakan piyama dan berambut putih.
“Janar? Ada apa kau kemari? Kau bilang aku tinggal menunggu dua minggu lagi untuk menyemai tunas kentang,” Paman Soni berucap.
“Tidak. Aku datang tidak untuk membahas kentang. Aku datang bersama ehm…”
Janar menjeda kalimatnya untuk menoleh ke arah Bita di samping.
“....temanku,” sambungnya.
Tepat saat Janar selesai berucap, kepala Paman Soni tampak berputar melayangkan pandang ke arah perempuan yang berdiri di samping Janar sambil menunduk. Baik Janar maupun Paman Soni memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dibanding Bita.
“Dia Bita. Dia keponakan Bibi Wening. Apa kau ingat tentang kaleng pupuk yang tertukar itu?”
“Ah, ya. Seharusnya aku membeli pupuk tapi justru herbisida yang kubawa. Apa itu kau?”
Serta-merta Bita mengangguk.
“Aku minta maaf,” ucap lirih Bita. Tampak wajah itu dipenuhi dengan aura penyesalan mendalam. Kentara sekali kecemasan sedang menyerang.
“Hahaha. Apa kau setakut itu padaku. Wajahku memang cukup menyeramkan. Lain kali akan kucukur jambang ini.” Kelakar Paman soni membawa ketiganya tertawa dan suasana yang dingin itu mencair menjadi lebih hangat.
“Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau memintanya. Kesalahan semacam itu adalah hal wajar untuk seorang yang baru pertama kali menjalankan tugas. Lihatlah, semuanya baik-baik saja. Aku masih sehat, ladangku pun terselamatkan. Hahahaha. Kau cukup berterima kasih pada pria ini. Dia sangat membantu di usiaku yang tak lagi layak untuk berkebun.”
Bita menoleh. Dilayangkannya senyum bangga kepada Janar. Pikir Bita, tanpa Janar, mungkin dia akan masuk penjara.
Akhirnya semua berjalan dengan baik tak seperti dugaan Bita. Penyesalannya telah terbalas dengan kalimat memaafkan dari Paman Soni. Satu ganjalan kecil pun luntur perlahan.