Di atas penggorengan, di atas kompor yang menyala, sebersit wajah penuh harapan tergambar pada raut Bita saat menyaksikan pancake buatannya terbentuk melingkar sempurna. Sempat ada keraguan saat mixer portable milik Bibi Wening tiba-tiba mati di tengah pekerjaannya. Namun pengocok telur dapat menyelamatkan sarapan Bita pagi itu. Adonan pancake tercampur rata dan mengembang seperti harapannya. Tumpukan lingkaran kuning kecoklatan pun tersaji pada piring keramik di atas meja makan bundar. Sayang, dapur itu tak menyajikan madu atau selai apapun. Hanya ada mentega.
“Ah, sudahlah, lelehkan saja,” keluh Bita di depan toples mentega.
Tak lama, piring penuh pancake beraroma kayu manis itu bersanding dengan semangkuk mentega leleh dengan gurih kelezatannya menguar ke seluruh ruang dapur. Nyatanya pancake mudah dicocokkan dengan toping apapun. Tak perlu coklat atau selai, karena mendapatkannya saat ini butuh waktu kurang lebih sepuluh menit, dan dua puluh menit untuk kembali pulang. Sementara lambung Bita sepertinya tak akan bertahan lama menahan rasa lapar mencium keharuman sarapan buatannya sendiri. Bita tak habis pikir mengapa sang Bibi lebih memilih membuka toko pupuk alih-alih toserba.
“Bita, kamu mendapatkan pesan,”
“Pesan?”
Rambut panjang Bita yang terikat di puncak kepala itu sempat bergoyang saat menoleh ke arah sumber suara datang. Dilihatnya sang Bibi tergopoh-gopoh datang memasuki ruang dapur sambil membawa ponsel di tangan. Raut kekesalan menghias wajahnya yang baru saja terbangun.
“Belilah ponsel sekarang. Kamu kira kita hidup di jaman apa? Beli sekarang atau kau akan kupaksa membalas pesan-pesan ini melalui surat merpati,” keluhnya sambil menyodorkan benda pipih itu ke tangan Bita. Selepasnya, pancake di piring menjadi incaran sang bibi. Ia menarik kursi lalu duduk, menarik paksa piring di dekat Bita, dan satu buah pancake berukuran sebesar telapak tangan masuk begitu saja ke mulutnya.
Lirikan sinis tertuju untuk sang Bibi. Bita paling rewel jika makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Namun mengomeli Bibi Wening rasanya perlu ditunda terlebih dahulu sebab ada hal lain yang lebih menarik. Terpaksa ia merelakan sarapannya untuk membaca pesan dari ponsel sang bibi. Tertulis nama pengirim pesan, Janar.
“Kumohon sampaikan kepada Bita bahwa aku membutuhkan bantuannya di gudang. Aku ucapkan terima kasih.”
Sepasang lengkung tergambar pada pipi Bita saat membaca kata demi kata yang terpampang pada layar ponsel. Tata bahasa yang tertulis di sana terdengar sedikit kaku. Sempat terbayang wajah Janar mengatakan semua kalimat itu makin membuat Bita tersenyum lebih lebar. Jadi begitu gaya tulisannya, sangat berbeda saat berbicara langsung, pikir Bita.
“Tidak dibalas?” Tanya Bibi Wening saat menerima kembali ponselnya. Ia merasa Bita terlalu cepat untuk mengembalikan.
“Tidak. Aku akan langsung ke gudang saja. Apa Bibi tahu tempatnya?”
Bibi Wening mengangguk dengan ujung pancake yang mencuat keluar dari mulutnya. Dengan sabar Bita menunggu sampai sang bibi selesai menelan sarapannya. Lalu, melalui penjelasan yang cukup mudah dipahami, Bita mengerti lokasi gudang yang dimaksud. Bita pun bergegas.
Ini aneh, pikir Bita di depan cermin. Mengapa ia harus repot mematut diri hanya untuk membantu Janar? Meski tidak sadar, tapi tangan itu telah menyeleksi pakaian. Mengapa perlu diseleksi jika hanya untuk bertemu dengan teman masa sekolahnya? Perlukah ia berdandan serapi ini? Bukankah ini hanya pertemuan biasa? Janar membutuhkan bantuan Bita lalu Bita akan datang menemuinya untuk membantu. Sesederhana itu lalu mengapa perlu bersolek?
Bita memalingkan wajah dari cermin saat menyadari semua sikap anehnya pagi itu. Namun, alih-alih mengelap semua warna yang menempel pada wajah, ia beranjak pergi. Hatinya berbisik bersikeras meyakinkan bahwa ia tampil sangat wajar. Perona pipi dan lipstik yang telah melekat pada wajah ciut itu sama sekali tidak berlebihan. Ia tidak sedang berencana menemui idola namun teman. Sama sekali ia tidak berdandan hanya agar terlihat sedikit segar. Setelah yakin bahwa dirinya tidak bertingkah berlebihan, barulah Bita melangkah menuju gudang Janar. Bibi Wening berkata tempatnya ada di sebelah timur kebun strawberry. Ini mudah sebab dia mengunjungi tempat itu dua hari lalu.
Tepat tiga puluh menit sejak pesan teks dari Janar terbaca, Bita telah berdiri mematung di depan rumah kaca kebun strawberry. Ia tidak sedang ingin masuk ke dalamnya namun ia teringat. Bayangan dirinya dan Janar berdiri di dalam sana masih terasa hangat di kepala. Bukan perkara buah mungil itu namun ungkapan kejujuran Janar kala itu yang sedikit membuat hati Bhita mencelos. Secara tak langsung ada ungkapan perasaan yang tersirat dari perbincangan mereka berdua. Janar pemuda yang baik dan pekerja keras. Hatinya pun lembut dan penuh tanggung jawab. Nyaris tak ada cacat darinya. Namun, membuka hati pada pria lain rasanya terlalu singkat bagi wanita yang belum lama memutuskan jalinan pertunangan. Ini bukan balas dendam maka harus berjalan sepelan mungkin untuk memulai dari awal. Jangan terburu-buru.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Bita melongok ke arah timur rumah kaca seperti arahan dari Bibi Wening dimana gudang tempat Janar menunggu berada. Ini mudah. Bangunan itu cukup besar dan tak jauh dari tempatnya berdiri. Mengapa ia tak menyadari tempat itu saat bersama Janar kemarin?
Ragu-ragu Bita mendorong pintu besar yang menjadi tempat masuk ke dalam gudang. Bunyi derit pun terdengar, bukti bahwa usia pintu sudah cukup tua. Bita melayangkan pandang lalu dua wajah menoleh bersamaan ke arahnya. Satu wajah adalah milik Janar. Ia tampak duduk di atas kursi putar beroda. Di hadapannya terdapat sebuah laptop yang menyala terang. Tepat di belakang Janar, satu wajah yang cukup asing bagi Bita, berdiri. Jika tak salah menerka, tangan gadis itu berada di atas pundak Janar. Ini aneh. Tiba-tiba saja Bita benci pemandangan semacam itu.
Belum sempat memasuki pintu, wajah yang tak Bita kenali itu tampak terkejut lalu dengan girangnya berlari kecil ke arahnya.
“Apa kau Bita? Nirbita kan? Wah, akhirnya kita bertemu.”
Bita terdiam saat gadis yang lebih mungil darinya mengambil paksa tangan kanannya lalu menjabat dengan penuh semangat.
“Aku Gia. Bahagia. Adik satu-satunya Janar,” lanjutnya masih menatap Bita dengan kedua matanya yang berbinar.
“Gia, biasakan memanggil Kak pada orang yang lebih tua darimu?”
Suara barito itu menggema mengisi ruang gudang dengan langit-langit tinggi. Wajah cemberut pun tampak menghiasi gadis kecil itu. Bita menarik nafas pelan. Ia merasa lega. Ini tambah aneh. Setelah rela berdandan di depan cermin puluhan menit, sedikit benci dengan kedekatan wanita bersama Janar, kini ia merasakan kelegaan setelah mengetahui siapa gadis itu. Sungguh semua perasaan ini tak ubahnya sebuah rasa yang pantas disandang oleh seorang penggemar terhadap idolanya. Membayangkan hal itu, Bita menelan ludah. Betapa malu rasanya jika orang lain menyadari bahwa dia sedang cemburu.
“Tak apa,” sahut Bita menengahi.
“Senang berjumpa denganmu, Gia. Nama yang bagus,” lanjutnya.
Gia mulai kembali tersenyum di hadapan Bita. Lalu dengan lincahnya ia menarik pergelangan tangan Bita menuju ke tempat kakaknya bekerja. Persis sama dengan yang dilakukan Janar terhadapnya. Tak ada keraguan dalam hati Bita. Mereka berdua memanglah kakak beradik. Keduanya sama-sama senang menggandeng tangan.
“Maaf aku harus mengirim pesan lewat bibimu. Aku tak tahu nomor ponsel milikmu. Jadi aku,.....”
“Tak apa. Aku memang tak memiliki ponsel,” Bita memotong kalimat Janar.
Sontak kedua kakak beradik itu menoleh bersamaan lalu membuka mulut. Mereka menatap Bita dengan tatapan tak percaya seakan tidak memiliki ponsel di dunia ini membuktikan bahwa kau adalah seorang alien yang berasal dari planet luar galaksi. Makhluk aneh.
“Hem, ada yang aneh?” Tanya Bita kepada keduanya.
“Bagaimana kamu bisa hidup tanpa ponsel? Wau, aku baru melihat ada manusia yang bisa bertahan tanpa ponsel. Bahkan nenek Ariani yang berusia tujuh puluh tahun punya dua ponsel.”
“Gia! Tak sopan berkata begitu. Bukan urusanmu Bita memiliki ponsel atau tidak. Itu hak dia,” hardik Janar kepada adiknya sebelum gadis itu nerocos lebih banyak lagi.
Namun alih-alih tersinggung, Bita justru memasang senyum bahagia. Ia menyambut sukacita respon Gia. Bita menganggap semua tingkahnya itu sangatlah lucu.
“Hahahaha. Mungkin aku harus membelinya suatu saat nanti. Mau memilihkan untukku?”
Saat itu juga Gia mengangguk-angguk dengan semangat.
“Baiklah, beli ponsel bisa lain kali. Sekarang aku butuh bantuan Bita. Jadi lebih baik kamu di atas, duduk diam, baca komik atau apapun, dan jangan menggangguku selagi aku bekerja. Mengerti?” Janar menegaskan.
Sambil menghentakkan kaki, Gia berputar dan berjalan meninggalkan kakaknya dan Bita. Ia menaiki tangga kayu yang menghubungkan area maze nine di dalam ruangan besar itu. Bita menebak tempat itu dipakai Janar untuk sekedar merebahkan punggungnya dari rutinitas yang ia kerjakan di tempat ini.