“Jadi ini tempat kerjamu?” Tanya Bita setelah beberapa kali memindai seisi ruangan persegi itu. Langit-langitnya sangatlah tinggi layaknya sebuah gudang. Rata-rata yang tampak hanyalah karung berisi aneka sayur dan banyak kotak-kotak berwarna putih yang belum Bita ketahui peruntukannya.
“Ya begitulah. Ini hanya sampingan,” sahut Janar dengan penuh kerendahan. Padahal Bita menduga dari tempat itu jutaan rupiah dapat Janar hasilkan hanya dalam hitungan hari. Semua kentang itu akan berada di suatu tempat di belahan dunia yang teramat jauh. Menaiki entah kapal atau pesawat, lalu mendarat di negeri seberang. Bagaimana bisa pekerjaan sekelas pengusaha eksportir disebut hanya sampingan?
Sebagai seorang pengangguran, Bita hanya dapat tersenyum sinis.
“Jadi, apa yang bisa kubantu?”
“Oke kita mulai saja. Jadi semalam aku mendapatkan email pesanan. Namun baru kali ini permintaannya cukup variatif. Biasanya aku hanya mau menerima pesanan satu macam sayur saja. Terlebih lagi semua harus selesai besok. Karena seperti yang kau ketahui aku tak punya tenaga kerja. Lihat sendiri kan, satu-satunya pekerja magangku tidak berkompeten,”
Satu gerakan kepala Janar memaksa Bita melirik ke arah yang dituju dimana Gia sedang merebahkan tubuhnya di lantai mezzanine sambil mengunyah keripik kentang. Di tangannya ada gadget yang nyaris menempel sepanjang hari.
“Hahaha,” Bita tertawa setelah paham maksud Janar menyindir adiknya sendiri.
“Jadi kau membutuhkanku untuk menyortir pesanan?” Bita sedikit menegaskan. Sebelum melakukan pekerjaan, ia terbiasa untuk mengetahui secara jelas apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Kali ini Janar memutar kursi hingga menghadap layar laptopnya kembali. Bita pun ikut memperhatikan deret angka dan tulisan di sana. Secara cekatan jari telunjuk Janar mulai menyentuh layar lalu bergerak menelusuri dari satu titik ke titik yang lain.
“Ya, kira-kira begitu. Kau bisa memasukkan semua kategori ini ke dalam aplikasi di sini. Lalu yang ini di sini. Dan kalau tidak keberatan aku minta kau untuk mengolah data yang ada di dalam sini masuk ke aplikasi yang ini. Semua akan mudah jika sudah menjadi satu. Kalau sudah selesai biar aku cetak resinya.”
“Janar,” panggil Bita lirih. Setengah panggilan itu dimaksudkan untuk memotong kalimat Janar.
Janar mendongak. Dilihatnya tatapan sendu dari wajah nan ciut milik Bita.
“Ya?”
“Kali ini bicaramu banyak sekali. Cobalah untuk rileks. Aku datang untuk membantumu. Jadi, beri aku waktu untuk mempelajari semua ini sementara itu kamu duduk di sofa sambil memijat lehermu. Aku paham kamu sedang panik karena deadline. Percaya padaku semua akan berjalan lancar.”
Setelah beberapa detik saling menatap, rona wajah Janar menyiratkan rasa kepercayaan. Sambil menyugar rambut setengkuknya, pria itu sedikit menutupi rasa malu di hadapan Bita.
“Ya, ampun, kelihatan sekali rupanya. Kalau begitu aku serahkan semuanya padamu. Aku akan berada di sana untuk menyortir sayur. Tapi benarkah kau tidak apa-apa membantuku?”
Kali ini Bita tak menjawab. Ia hanya menghela nafas kasar yang sengaja ia tunjukkan pada Janar. Bita malas mengatakan berulang kali bahwa ia sama sekali tak merasa direpotkan dalam perkara bantu membantu ini. Belum lama, pekerjaan Bita juga erat berkaitan dengan dunia komputerisasi. Mungkin belum terbiasa untuk yang ini, tapi cukup mempelajari sepintas, Bita yakin dapat menguasai.
Wajah Janar menyiratkan kelegaan. Dengan sedikit kikuk karena perasaan tak enaknya ia berjalan menuju tumpukan kotak berwarna putih yang sebelumnya membuat penasaran Bita. Rupanya itu kotak styrofoam dimana Janar menggunakannya sebagai packaging dari pesanan-pesanannya. Beberapa sayur harus melalui proses pemvakuman untuk membebaskan dari kemungkinan pembusukan lebih cepat namun ada juga yang langsung masuk ke dalam kotak.
Dari jarak beberapa meter, Janar dapat memperhatikan punggung Bita yang sedang berada di atas kursi putarnya. Sebersit perasaan syukur muncul saat punggung itu dapat dilihatnya kembali dalam jarak dekat. Ia akui bahwa cukup lama rasa takut menguasainya untuk tidak melakukan pendekatan pada gadis malang itu. Dan hal itulah yang makin membuat Janar merasa menyesal. Mestinya saat sekolah dulu dia tidak hanya mengawasi Bita dari jauh namun mengajaknya berteman layaknya pertemanan normal. Dan mestinya dia tidak menghindar ketika melihat Bita bergandeng dengan pria lain. Apa salahnya mengucap hai saat pertama bertemu di dekat apartemennya? Tidak ada yang akan menyalahkan jika saat itu ia mendekat, menanyakan kabar, dan menjalin pertemanan kembali yang mungkin akan lebih akrab. Mengapa semua itu ia hindari dengan satu alasan yaitu menjaga. Janar merasa ia terlalu pengecut dengan berlindung pada pernyataan menjaga. Ia katakan kepada hati kecilnya bahwa ia tidak melakukan semua hal itu sebab ia ingin menjaga Bita. Janar ingin memperlakukan Bita lebih lembut tanpa membuat hati dan perasaannya retak seperti cangkang telur yang rapuh. Namun kali ini, Janar mengaku bahwa semua perbuatannya hanyalah sebuah aksi dari seorang pengecut. Ia tak mampu menerima kekalahan jika dirinya tak berhasil mendekati Bita. Itulah yang sebenarnya terjadi.
Dalam diam itu, Janar menghempaskan nafas panjang. Ia tak mau kembali menjadi pengecut seperti dulu lagi. Ia tak akan melepaskan gadis itu sebelum ia benar-benar dimiliki oleh seorang yang lain. Dan, Janar tak ingin kehilangan Bita untuk kedua kali.
“Janar.”
“Janar.”
Setelah dua kali Bita memanggil, barulah Janar mengerjapkan mata.
“Ah, ya?”
“Kau melamun?” Tanya Bita masih dari kursi kerjanya. Kepalanya bergerak miring membuat rambut panjang itu menjuntai menyentuh kaki kursi. Bagi Janar, sungguh pemandangan yang tak biasa.
“Ehm, apa cukup jelas?”
Bita hanya bisa tertawa memperhatikan beberapa kentang terpaksa menggelinding setelah jatuh dari tangan Janar. Raganya ada di dalam gudang namun jelas pikiran laki-laki itu sedang melanglang buana. Andai saja Bita bisa membaca isi kepala Janar saat ini, entah rasa malu seperti apa yang akan dirasa oleh Janar.
“Aku sudah selesai. Semua sudah kukerjakan sesuai instruksimu semoga tidak ada kesalahan. Kau bisa memeriksanya,” ungkap Bita.
Janar berdiri, dan seperti biasa menyugar rambut yang sudah menyentuh bagian bawah telinga, lalu sambil memeriksa arloji di pergelangan tangan kiri, ia berjalan mendekat.
“Itu bisa nanti saja. Ayo kita makan dulu.”
Meski Bita belum menjawab, namun Janar telah lebih dulu merampas pergelangan tangan Bita. Kening Bita mengernyit sebelum akhirnya berdiri dengan patuh mengikuti gerakan langkah yang dibuat oleh Janar.
“Bagaimana dengan Gia?” tanya Bita di tengah langkahnya yang tergesa dari belakang punggung Janar.
“Biarkan saja. Dia pasti sedang tidur di atas sana.”
Bita sempat menoleh ke lantai mezzanine dan memang benar tampak rambut gadis mungil itu menjuntai menandakan tubuhnya sedang lunglai. Ia baru sadar bahwa waktu begitu cepat berjalan hingga tak disangka sudah selama itu ia berkutat dengan komputer bahkan Gia sampai tertidur pulas tanpa ia sadari.