Hujan pagi masih tersisa di trotoar kota ketika Nara keluar dari apartemennya. Udara segar menyentuh wajahnya, tapi hatinya terasa berat. Ia tahu Arka ada di luar sana—ia merasakannya dari pesan yang tertunda di ponselnya, dari janji bertemu di kafe kecil yang selalu mereka kunjungi dulu.
Namun ego-nya berbicara lebih keras daripada rindu. Ia tidak mau menjadi lemah, tidak mau terlihat terlalu ingin, dan tidak mau mudah percaya lagi. Setiap langkahnya terasa berat, tapi ia meneguhkan diri untuk tidak terlalu cepat membiarkan Arka mendekat.
Saat ia memasuki kafe, Arka sudah duduk di pojok, menatap jendela dengan tatapan serius. Ia tersenyum tipis saat melihat Nara, tapi tidak bergerak terlalu dekat. Ia tahu ego Nara tinggi, dan setiap langkah harus hati-hati.
“Selamat pagi,” sapanya lembut ketika Nara duduk, tapi Nara hanya mengangguk, menunduk, menatap cangkir kopinya. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat, hanya dingin yang sengaja ia ciptakan sebagai perisai.
Arka menghela napas, menatapnya dengan sabar. “Aku tidak akan mengganggumu, Nara. Aku hanya ingin di sini, dekat denganmu. Aku ingin kau tahu aku tidak akan pergi lagi.”
Nara menelan ludah, menahan hati yang berdebar. “Kau sudah bilang itu kemarin, Arka. Tapi kata-kata tidak cukup. Aku tidak mau tersakiti lagi.” Suaranya tegas, tapi terdengar rapuh di ujungnya. Ego Nara seakan berkata: jika aku menyerah sekarang, aku akan terluka lagi.
Arka hanya tersenyum lembut, tanpa marah. “Aku tahu. Aku akan membuktikannya, bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan. Aku akan sabar, seberapa pun lama yang kau butuhkan.”
Nara menunduk, menatap cangkir kopinya, menahan perasaan yang bercampur—rindu, marah, dan sedikit harapan. Ia ingin memalingkan wajahnya, ingin menangis, ingin menyerah pada kehangatan yang datang bersamanya. Tapi ego-nya menahannya. Ia ingin tetap kuat, ingin membuktikan bahwa ia tidak mudah tergoda kembali.
Percakapan itu berlangsung dalam diam, hanya sesekali kata-kata terucap. Arka terus mencoba mendekat, dengan sabar, dengan kelembutan yang sama seperti dulu, tanpa memaksa. Ia tahu Nara membutuhkan waktu, dan ia siap menunggu.
Kilasan memori muncul di kepala Nara—malam hujan ketika Arka pergi, rasa hampa yang ia rasakan, air mata yang jatuh di pipinya. Semua itu masih terasa segar, menyakitkan, namun juga mengingatkannya pada rasa aman yang dulu ia rasakan bersamanya.
“Arka… aku tidak tahu apakah aku bisa percaya lagi,” ucapnya akhirnya, suara pelan, tapi tegas. “Aku takut… takut kau pergi lagi, dan aku akan hancur.”
Arka menatap matanya, dalam dan penuh ketulusan. “Aku mengerti, Nara. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin kau tahu, aku tetap di sini, tidak akan pergi. Aku akan menunggu, seberapa pun lama yang kau butuhkan.”
Ego Nara berperang dengan hatinya. Satu sisi ingin memeluk Arka, menangis, dan melepaskan semua rindu. Tapi sisi lain menahan, menegaskan bahwa ia tidak mau terluka lagi. “Aku tidak bisa begitu saja melupakan semua yang terjadi. Aku… aku perlu waktu,” kata Nara akhirnya.
Arka mengangguk, menahan diri untuk tidak mendekat terlalu cepat. “Aku akan memberimu waktu. Tapi jangan menutup dirimu sepenuhnya, Nara. Aku ingin kau tahu… aku tidak akan menyerah padamu.”
Hening. Hanya suara hujan yang tersisa di luar kafe, dan detak jantung Nara yang berdebar kencang. Ia menatap Arka, melihat ketulusan yang menembus semua pertahanannya. Ego-nya ingin menang, tapi hatinya mulai merasakan hangat yang sudah lama ia rindukan.
“Kalau aku menyerah… aku takut aku akan terluka lagi,” bisiknya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Arka tersenyum lembut. “Aku tahu. Tapi aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini, menunggu, sampai kau siap.”
Mereka duduk berdua, saling menatap, saling merasakan, tapi tetap ada jarak yang dipertahankan. Tarik-tali ini menyakitkan, tapi juga penuh harapan. Nara belajar bahwa cinta terkadang bukan tentang menyerah dengan cepat, tapi tentang tarik-tali antara ego dan hati, di mana kesabaran dan ketulusan diuji.
Malam itu, hujan turun semakin deras, menetes di kaca, seakan menandai perjalanan mereka—sulit, menyakitkan, tapi tetap indah karena ada kesempatan untuk cinta yang tulus..
Tiba-tiba, Arka berdiri. “Aku… ke tandas sebentar. Tunggu aku di sini, ya?” ucapnya. Nara mengangguk, tapi hatinya tiba-tiba bergetar—perasaan aneh muncul.
hatinya terasa berat. Ia tahu Arka ada di luar sana—dari janji bertemu di kafe kecil yang selalu mereka kunjungi dulu.
Mereka duduk berdua, tarik-tali antara ego Nara dan kesabaran Arka. Arka tidak berhenti berusaha: setiap senyuman, kata lembut, bahkan candaan kecil, semuanya mencuri hati Nara perlahan-lahan. Setiap kali Nara menutup hatinya, Arka hadir dengan kesabaran dan ketulusan yang membuat dinding itu retak.
Nara menatap notebooknua, hatinya berdebar. Hampir saja ia menyerah, ingin meraih tangan Arka, ingin melepaskan semua pertahanannya, ingin mempercayainya sepenuhnya. Tapi ego-nya, rasa sakit dari masa lalu, dan rasa takut terluka kembali, menahannya.
Nara kembali teringat, kata-kata Arka.
Arka menyadari itu. Ia tersenyum lembut, menyentuh tangannya sebentar di meja. “Aku tidak akan memaksa, Nara. Tapi aku ingin kau tahu… aku tidak akan menyerah padamu,” ucapnya, matanya menatapnya penuh ketulusan.
Nara menghela napas, hampir meneteskan air mata, tetapi ia menunduk. Hatinya hampir runtuh di bawah ketulusan Arka. Ia ingin mengatakan “aku menyerah”—namun tepat saat itu, Arka berdiri sebentar menuju toilet.
Ponselnya tertinggal di meja. Nara menunduk, matanya tanpa sengaja tertumbuk pada layar yang menyala. Dengan tangan gemetar, ia membuka notifikasi pesan terbaru—dan dunia seketika runtuh di hadapannya:
“Sayang. Aku perlukan kau di sini.”
Pesan itu jelas dari seorang perempuan lain. Air mata menitik, d**a terasa sesak, seluruh tubuhnya gemetar. Semua yang hampir ia berikan—kepercayaan, rindu, harapan—hancur seketika.
Sayang?
Jantung Nara seakan berhenti. Sakit dan rasa cemburu menyerang sekaligus, ego dan keraguannya langsung membara. Ia menatap layar ponsel itu, tak percaya. Bayangan wanita lain muncul di kepalanya.
Ia memegangi ponsel Arka, menatap pesan itu sekali lagi. Air mata menetes tanpa bisa ia tahan, dan seluruh dunianya terasa gelap. Setiap detik yang ia habiskan bersamanya, setiap senyum yang hampir ia bagi, kini terasa seperti pengkhianatan yang nyata.
Hujan masih turun di luar kafe. Nara duduk di bangku, tubuhnya menggigil, dan hatinya pecah menjadi serpihan. Ia merasa seperti kehilangan segalanya sekaligus—rindu, cinta, dan kepercayaan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sepenuhnya tak berdaya, hanya bisa membiarkan air mata jatuh di pipinya.
Saat itu, Arka keluar dari tandas. “Nara, kau lihat—”
Nara langsung menatapnya, suara bergetar tapi tegas: “Siapa dia? Kenapa dia menunggumu?”
Arka terkejut, lalu matanya lembut menatap Nara. “Nara… itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya…”
“Cukup, Arka! Aku tidak mau dengar alasanmu sekarang. Aku pikir aku bisa percaya padamu, tapi ini…” Nara menahan air mata. Ego dan rasa sakit lama muncul kembali. Ia berdiri, ingin pergi, meski hatinya ingin tetap di sini.
Arka buru-buru berdiri, menahan tangannya. “Nara… tunggu. Aku tidak ingin kau pergi karena ini. Aku janji, dia bukan siapa-siapa. Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah mengulang kesalahan itu lagi. Aku di sini hanya untukmu.”
Nara memalingkan wajah, menahan napas. “Kau tidak mengerti, Arka. Sekali aku menyerah pada hatiku, aku mungkin akan terluka lagi. Ego-ku tidak bisa memaafkan ini begitu saja.”
Arka menghela napas panjang, tetap sabar. “Aku mengerti. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin kau tahu… aku tidak putus asa, Nara. Aku akan tetap di sini, menunggu, seberapa pun lama yang kau butuhkan. Aku ingin kau memutuskan sendiri, bukan karena terburu-buru atau rasa cemburu.”
Nara menatap hujan di luar jendela, mencoba menenangkan perasaan yang
campur aduk.
Tetapi Arka tidak peduli. Tanpa sepatah kata pun, ia bangkit, mengambil jas hujannya, dan berjalan keluar dari kafe—menuju perempuan yang menunggu di luar, pemilik pesan itu.
"Nara. Maaf. Aku ada hal."
Nara terdiam. Napasnya tercekat, tangan gemetar, dan hatinya hancur berkeping-keping. Semua harapan, semua rasa yang hampir ia serahkan, seketika sirna di depan mata. Ego dan rasa sakitnya bertempur, namun kini ia benar-benar rapuh, tak berdaya.
Bayangan wanita lain di ponsel Arka terus menghantui pikirannya, tapi ia juga melihat ketulusan Arka, kesabaran yang sama seperti dulu. Tarik-tali ini semakin menyakitkan, tapi juga membuka sedikit harapan.
Malam itu, hujan turun semakin deras. Di pojok kafe yang basah oleh air hujan dan cahaya lampu temaram, Nara belajar bahwa cinta bukan hanya tentang kepercayaan yang mudah, tapi tentang ego yang harus diuji, rindu yang harus ditahan, dan kesabaran yang harus ada di kedua sisi. Arka tetap ada, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nara merasakan bahwa tarik-tali ini mungkin akan membawa mereka kembali—meski sulit, penuh rasa sakit, dan menyayat hati.