Pintu kafe tertutup perlahan di belakang Arka.
Bunyi lonceng kecil di atas pintu itu terdengar begitu tajam di telinga Nara—seakan menjadi penutup dari sesuatu yang belum sempat ia mulai sepenuhnya.
Nara tidak bergerak.
Ia hanya duduk di sana, memandang kosong ke arah pintu yang baru saja dilewati Arka.
Tangannya masih gemetar. Nafasnya tidak teratur.
Dan hatinya… terasa kosong.
Dia pergi.
Kalimat itu terus berulang di kepalanya.
Bukan karena Arka pergi ke tandas.
Bukan karena dia perlu waktu sebentar.
Tapi karena kali ini…
Arka benar-benar memilih untuk pergi.
Tanpa menjelaskan.
Tanpa menoleh.
Tanpa memastikan Nara baik-baik saja.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.
Satu tetes.
Lalu satu lagi.
Dan tanpa ia sedari, semuanya mengalir begitu saja—membasahi pipinya, jatuh ke atas meja, bercampur dengan sisa hangat kopi yang kini terasa pahit.
Nara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Nafasnya berat, dadanya sesak seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.
Kenapa… sakitnya masih sama?
Padahal ia sudah berjanji.
Sudah berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa ia sudah cukup kuat.
Tapi nyatanya… tidak.
Aku pikir aku sudah belajar dari semua ini…
aku pikir aku sudah cukup kuat untuk tidak jatuh lagi…
Ia menggigit bibirnya, menahan tangis yang semakin kuat.
Kenapa aku masih berharap?
Kenapa aku masih percaya… padahal aku sendiri tahu, aku yang akan hancur nanti?
Tangannya mengepal di atas meja.
Bayangan Arka—tatapannya, suaranya, kesabarannya—semua berputar di kepalanya.
Dan itu yang paling menyakitkan.
Bukan kerana Arka berubah.
Tapi kerana… Arka tetap sama.
Dan justru itu yang membuat Nara hampir menyerah lagi.
Kenapa kau datang lagi kalau akhirnya begini, Arka…?
Kenapa kau buat aku percaya… kalau akhirnya aku yang harus menahan semua ini sendirian?
Nara mengangkat wajahnya perlahan. Air matanya tidak berhenti.
Ia menatap kursi kosong di depannya.
Kosong.
Seperti hatinya sekarang.
Kalau aku penting… kenapa kau pergi?
Kalau aku berarti… kenapa aku bukan yang kau pilih sekarang?
Dadanya terasa semakin sesak.
Ia memejamkan mata kuat-kuat.
Atau… aku memang tidak pernah jadi pilihan?
Kalimat itu menghantamnya sendiri.
Ia menggeleng pelan, seolah menolak pikirannya sendiri, tapi hatinya… tahu.
Bodohnya aku…
aku hampir menyerah… hampir memaafkan… hampir percaya lagi…
Suaranya pecah dalam bisikan yang nyaris tak terdengar.
“Aku hampir memilih kamu lagi…”
Air matanya jatuh semakin deras.
“Dan kamu… pergi.”
Hening.
Hanya suara hujan yang menjawab semuanya.
Nara menarik nafas panjang, tapi terasa perih.
Kalau aku kejar sekarang… aku akan kehilangan harga diriku.
Kalau aku diam… aku kehilangan kamu.
Ia tertawa kecil—tawa yang pahit dan rapuh.
Kenapa harus aku yang memilih antara dua hal yang sama-sama menyakitkan?
Tangannya gemetar saat ia berdiri.
Kalau ini cara kamu menguji aku… aku benci.
Kalau ini cara kamu mencintai aku… aku lebih benci lagi.
Ia menutup matanya sekali lagi.
…tapi kenapa aku masih berharap kamu kembali?
Dan itu yang paling menyakitkan.
Bukan kepergian Arka.
Bukan pesan dari perempuan lain.
Tapi kenyataan bahwa…
di tengah semua rasa sakit ini, Nara masih menunggu.
Hujan turun deras saat Arka melangkah keluar dari kafe.
Langkahnya cepat, tapi fikirannya lebih laju—semuanya tentang Nara. Tentang air mata di matanya. Tentang kesalahan bodoh yang baru saja ia buat.
Namun langkahnya terhenti.
Di bawah lampu jalan yang samar, perempuan itu sudah berdiri menunggunya. Payung hitam di tangannya, wajahnya tenang… terlalu tenang.
“Lama,” ucapnya pelan.
Arka menghela napas kasar.
“Kau nggak seharusnya kirim pesan seperti itu,” suaranya dingin, jelas menahan emosi.
Perempuan itu tersenyum tipis.
“Kalau aku nggak buat begitu… kau nggak akan keluar, kan?”
Arka menatapnya tajam.
“Aku harus kembali.”
Ia bahkan tidak menyembunyikan niatnya.
Tapi perempuan itu… tidak bergeming.
Sebaliknya, ia melangkah lebih dekat. Matanya kini berbeda—bukan lagi lembut, tapi penuh sesuatu yang lebih gelap.
“Kembali?” ulangnya perlahan.
“Ke dia?”
Arka tidak menjawab.
Namun diamnya cukup.
Perempuan itu tertawa kecil—tawa yang dingin, tanpa hangat.
“Lucu ya, Arka…” bisiknya.
“Setelah semua yang terjadi… kau masih pilih dia.”
Arka mengepal tangannya.
“Aku nggak pernah menjanjikan apa-apa ke kau.”
“Tidak?” potong perempuan itu cepat.
“Lalu semua malam yang kau habiskan denganku itu apa? Semua perhatian itu apa?”
Arka terdiam.
Hujan semakin deras, seakan memperkuat ketegangan di antara mereka.
Perempuan itu menatapnya dalam, suaranya berubah—lebih rendah, lebih tajam.
“Kau pikir kau bisa pergi begitu saja sekarang?”
Arka mengernyit.
“Maksud kau?”
Perempuan itu tersenyum lagi. Kali ini… berbahaya.
Tangannya perlahan mengangkat ponsel.
“Kalau kau pergi sekarang… aku nggak jamin dia akan tetap melihatmu dengan cara yang sama.”
Arka langsung menegang.
“Apa yang kau maksud?”
Perempuan itu mendekat, suaranya hampir berbisik di telinga Arka.
“Aku tahu banyak hal tentang kau, Arka… lebih dari yang dia tahu.”
Jantung Arka berdegup keras.
“Aku bisa buat dia benci kau dalam satu malam,” lanjutnya tenang.
“Atau… aku bisa buat dia tahu semua sisi kau yang kau sembunyikan.”
Arka menatapnya tajam.
“Jangan macam-macam.”
Perempuan itu hanya tersenyum.
“Kalau kau tetap di sini… aku diam.”
Hening.
Hanya suara hujan yang jatuh deras di antara mereka.
Arka merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dadanya.
Ini bukan lagi sekadar perasaan.
Ini… ancaman.
“Aku cuma minta satu hal,” ucap perempuan itu, suaranya kini lebih lembut tapi penuh tekanan.
“Jangan pergi ke dia malam ini.”
Arka menutup mata sejenak.
Bayangan Nara muncul lagi—air matanya, suaranya yang bergetar, cara ia hampir menyerah…
Dan kini, ia meninggalkannya.
Tangannya mengepal kuat.
“Kalau aku tetap pergi?” tanyanya perlahan.
Perempuan itu tidak ragu.
“Aku hancurkan semua yang kau bangun dengan dia.”
Sunyi.
Arka membuka mata. Tatapannya berubah—lebih dalam, lebih dingin.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat siapa perempuan di hadapannya.
Bukan seseorang yang hanya berharap.
Tapi seseorang yang… tidak ingin kehilangan, dengan cara apa pun.
Hujan terus turun.
Dan di antara dua pilihan—
Nara… atau ancaman ini—
Arka berdiri diam.
Untuk pertama kalinya…
ia benar-benar terperangkap