Hujan masih turun deras di jalan kota, membasahi jas hujan Arka yang basah di beberapa bagian. Ia berdiri di sana, memandang perempuan itu—Alina—dengan mata yang sulit dilepaskan.
Arka tahu satu hal pasti: malam ini, dia benar-benar terperangkap. Di satu sisi, ada Nara—hati yang pernah ia sakiti, rindu yang jelas, tapi juga hati yang rapuh dan mudah terluka. Di sisi lain… Alina, yang posesif, licik, dan tak segan menggunakan segala cara untuk mempertahankannya.
Alina tersenyum dingin, melangkah lebih dekat. “Jangan salah paham, Arka. Aku nggak main-main. Kau dengar sendiri kan?” suaranya rendah, penuh tekanan. “Kalau kau pergi ke dia… aku bisa hancurkan segalanya. Sekali saja.”
Arka menelan napas, dadanya sesak. Ia menunduk sejenak, memikirkan Nara—air mata yang jatuh, luka yang hampir ia sembuhkan dengan kesabarannya. Namun ancaman Alina begitu nyata. Sekali salah langkah… semuanya bisa hancur.
“Alina…” ucapnya pelan, suaranya tegas tapi hati-hati. “Aku nggak mau main-main denganmu. Tapi aku juga nggak bisa meninggalkan dia begitu saja. Kau tahu perasaanku padanya.”
Alina menatapnya, mata gelap dan tajam. “Aku nggak peduli kau bilang apa. Aku cuma bilang: jangan dekati dia malam ini. Pilihanmu mudah: dengarkan aku… atau lihat semua yang kau bangun hancur.”
Arka menghela napas panjang, tangannya mengepal. Hujan menetes di wajahnya, membasahi rambutnya, tapi ia tak peduli. “Aku nggak bisa menahan hatiku. Kalau aku tetap ke sana… aku akan menanggung risikonya. Aku nggak bisa pura-pura nggak peduli.”
Dalam pikirannya, bayangan Nara muncul jelas—air matanya yang jatuh, pipinya yang basah, d**a yang sesak, tangannya mengepal di atas meja. Ia bisa merasakan sakit yang ia buat, rasa hancur yang hampir tak tertahankan. “Aku tahu dia terluka… aku tahu aku bikin dia hampir menyerah lagi… dan hatiku… ikut hancur bersamanya.”
Arka menutup mata sejenak, membayangkan bagaimana Nara menahan tangisnya, bagaimana bibirnya bergetar menahan kata-kata yang ingin keluar, bagaimana matanya memandang kosong ke kursi yang kini kosong—kursi yang seharusnya ditempati Arka.
“Aku nggak bisa membiarkannya hancur karena pilihanku… tapi aku juga nggak bisa menahan hati ini. Aku harus tetap ke sana… dan berharap dia masih bisa memahami.”
Hujan yang deras seakan menegaskan semua rasa bersalah dan dilema yang menjeratnya. Setiap tetes air di wajahnya terasa seperti pengingat: Nara terluka, dan dia harus bertanggung jawab atas perasaan itu—tanpa bisa menunda atau mengabaikannya.
Arka menghela napas panjang, tangannya mengepal. Hujan menetes di wajahnya, membasahi rambutnya, tapi ia tak peduli. “Aku nggak bisa, Alina."
" Tolongla, sekali ini aja."
Alina tersenyum tipis, namun kali ini tanpa kehangatan. “Aku sudah bilang… aku nggak akan kalah. Kau milikku, Arka. Dan aku akan pastikan semua orang tahu itu—tanpa kecuali.”
Hening sejenak. Hanya suara hujan yang deras di antara mereka, dan detak jantung Arka yang terasa begitu berat. Ia tahu, ini bukan sekadar cinta remaja biasa. Ini perang psikologis—antara cinta, ego, dan ancaman nyata.
Hujan masih turun deras, seolah menekan suasana di antara mereka. Arka berdiri di depan Alina, nafasnya berat, matanya gelap oleh dilema.
“Alina…” suaranya lebih rendah kali ini, hampir seperti memohon. “Aku cuma minta satu hal.”
Alina tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya lama, seolah menikmati momen di mana Arka akhirnya berada di posisi lemah.
“Apa?” tanyanya singkat.
Arka menelan ludah, lalu melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa inci.
“Biar aku jumpa Nara.”
Hening.
Hanya suara hujan yang jatuh di antara mereka.
Alina tersenyum tipis, tapi matanya tajam. “Kau serius? Setelah semua yang aku bilang?”
Arka mengangguk perlahan.
“Aku tahu kau boleh hancurkan semuanya… aku tahu kau pegang semua yang aku takutkan,” suaranya bergetar sedikit, tapi tetap tegas. “Tapi aku nggak boleh biarkan dia macam tu. Aku tinggalkan dia dalam keadaan hancur, Alina… aku nampak sendiri.”
Alina menyilangkan tangan, memandangnya dingin.
“Dan itu masalah kau. Bukan aku.”
Arka menggeleng, kali ini lebih emosional.
“Bukan. Ini… ini salah aku.”
Ia mendekat lagi, suaranya semakin rendah, penuh tekanan.
“Aku yang buat dia percaya lagi… aku yang buat dia hampir buka hati… dan aku juga yang tinggalkan dia macam tu.”
Nafasnya berat.
“Kalau aku tak pergi sekarang… aku akan hancurkan dia sekali lagi.”
Alina terdiam sejenak, tapi wajahnya masih tidak menunjukkan simpati.
“Dan kau fikir aku akan biarkan kau pergi kepada dia?”
Arka menatapnya dalam.
“Aku bukan minta kau lepaskan aku…” suaranya perlahan, hampir berbisik.
“Aku cuma minta kau bagi aku masa.”
Alina mengangkat alis.
“Masa?”
Arka mengangguk.
“Satu malam.”
Hening.
“Satu malam saja, Alina. Biar aku jumpa dia, jelaskan semuanya. Lepas tu…”
Ia terhenti sejenak.
“…aku akan kembali pada kau. Dan... tinggalkan Nara. Buat selama-lamanya..”
Kalimat itu berat. Sangat berat.
Alina menyempitkan matanya.
“Betul? Kau akan kembali, dan tinggalkan dia?”
Arka tidak mengalihkan pandangan.
“Iya.”
Alina tertawa kecil, tapi kali ini ada nada tajam di dalamnya.
“Kau fikir aku akan percaya?”
Arka menarik nafas panjang, lalu berkata perlahan—
“Kalau aku tak kembali… kau boleh lakukan apa saja yang kau nak.”
Hening seketika.
Kali ini, Alina benar-benar menatapnya. Dalam. Menilai.
Arka meneruskan, suaranya lebih tegas—
“Aku tak lari. Aku tak akan hilang. Aku cuma… tak nak dia fikir aku tinggalkan dia. Izinkan aku, Alina. Jumpa Nara buat kali terakhir.” Memori pahit itu kembali tertayang seperti kaset.
Waktu itu. Pintu kafe itu tertutup di belakangku.
Bunyi lonceng kecil itu…
terdengar lebih keras dari seharusnya.
Seolah-olah menampar aku sendiri.
Langkahku tetap maju, tapi hatiku… tertinggal di dalam sana.
Di hadapan Nara.
Aku tak perlu menoleh untuk tahu bagaimana wajahnya saat itu.
Aku tak perlu melihat untuk tahu… dia pasti diam.
Diam yang menyakitkan.
Diam yang penuh pertanyaan.
Dan itu yang paling aku takutkan.
Nara kalau diam… itu tandanya dia sedang hancur.
Nafasku terasa berat.
Setiap langkah menjauh dari kafe terasa seperti mengkhianati sesuatu yang selama ini aku jaga.
Bukan…
Bukan cuma hubungan kami.
Tapi dia.
Orang yang pernah aku janjikan untuk tidak aku sakiti lagi.
Aku mengetap rahang.
Kenapa harus sekarang…?
Kenapa saat dia hampir membuka hatinya lagi…
aku justru yang menghancurkannya?
Bayangan Nara terus muncul di kepalaku.
Matanya yang mulai lembut beberapa hari ini.
Cara dia menunduk saat malu.
Cara dia diam… tapi tetap memilih untuk tinggal.
Dan sekarang?
Aku yang memilih pergi.
Tanganku mengepal kuat.
Bodoh.
Aku tahu dia pasti berpikir hal yang sama seperti dulu—
bahwa aku pergi tanpa alasan.
Bahwa aku memilih orang lain.
Bahwa… dia tidak cukup untukku.
Padahal kenyataannya…
aku pergi justru karena aku tak ingin kehilangan dia.
Ironis.
Aku tertawa kecil, pahit.
Selalu begini.
Aku ingin melindungi dia…
tapi cara yang aku pilih… justru yang paling menyakitkan.
Hujan mulai turun, membasahi wajahku.
Entah kenapa, aku tidak mengelak.
Biarkan saja.
Mungkin ini lebih mudah daripada menghadapi kenyataan bahwa…
aku baru saja meninggalkan seseorang yang masih aku cintai.
Nara…
Namanya terlintas lagi di kepalaku.
Aku bisa membayangkan dia sekarang—
duduk sendirian di dalam kafe, menatap kosong ke kursi di depannya.
Menahan tangisnya.
Berusaha terlihat kuat.
Padahal aku tahu…
dia sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Dan aku?
Aku yang membuat perang itu terjadi.
Dadaku terasa sesak.
Langkahku terhenti sejenak di tengah hujan.
Kalau aku kembali sekarang…
Satu pikiran itu muncul.
Kalau aku buka pintu itu lagi… dan duduk di depan dia…
Aku bisa memperbaiki semuanya.
Aku bisa jelaskan.
Aku bisa lihat dia sekali lagi… sebelum semuanya semakin jauh.
Tapi kaki ini… tidak bergerak.
Bukan karena aku tak mau.
Tapi karena aku tahu—
aku tidak punya hak untuk kembali sekarang.
Tidak dengan keadaan seperti ini.
Tidak dengan ancaman yang sedang menunggu di luar sana.
Aku menghela nafas panjang.
Maaf, Nara…
Kalimat itu terasa terlalu ringan untuk semua yang aku lakukan.
Maaf karena aku pergi lagi.
Maaf karena aku buat kau percaya… lalu aku hancurkan itu.
Mataku terpejam sejenak.
Maaf… karena aku masih belum cukup berani untuk memilih kau sepenuhnya.
Hujan semakin deras.
Dan untuk pertama kalinya…
aku benar-benar merasa kehilangan sesuatu—
bukan karena ia pergi,
tapi karena…
aku sendiri yang meninggalkannya.
Matanya redup.
“Aku dah buat itu sekali… dan aku nampak macam mana dia hancur.”
Suasana menjadi lebih berat.
Untuk pertama kalinya, suara Arka benar-benar retak.
“Alina… aku mohon.”
Satu kata itu jatuh perlahan, tapi penuh makna.
Alina diam.
Hujan terus turun.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Akhirnya, Alina melangkah mendekat. Tangannya terangkat, menyentuh dagu Arka perlahan, memaksa lelaki itu menatapnya.
“Satu malam…” ulangnya perlahan.
Matanya menyipit, senyum tipis muncul di bibirnya.
“…dan kau kembali pada aku?”
Arka mengangguk tanpa ragu.
“Iya.”
Alina terdiam sejenak, lalu melepaskan pegangannya.
“Baik.”
Satu kata itu keluar perlahan—tapi berbahaya.
“Tapi ingat, Arka…” suaranya berubah dingin.
“Kalau kau langgar janji ini…”
Ia mendekat, berbisik tepat di telinganya—
“aku tak akan hancurkan kau saja.”
Nafas Arka tertahan.
“…aku akan pastikan dia orang yang paling sakit.”
Sunyi.
Hujan terus turun.
Dan untuk pertama kalinya…
Arka sedar—
malam ini bukan sekadar tentang memilih.
Tapi tentang… siapa yang akan dia korbankan.