Hujan turun semakin lebat saat Arka berlari meninggalkan Alina.
Langkahnya cepat, napasnya berat, tapi kali ini… dia tidak ragu.
Bukan ke kafe.
Bukan kembali ke tempat yang barusan menghancurkan segalanya.
Tapi ke satu tempat—
yang sejak tadi tidak berhenti memanggilnya.
Rumah Nara.
Di depan pagar itu, langkah Arka terhenti.
Hujan mengguyur tanpa ampun, membasahi seluruh tubuhnya. Rambutnya jatuh menutupi wajah, bajunya melekat dingin di kulit, tapi dia tidak peduli.
Tangannya gemetar.
Bukan karena dingin.
Tapi karena takut.
Takut Nara tidak mau menemuinya.
Takut dia sudah terlambat.
Takut… kali ini benar-benar kehilangan.
Matanya terangkat, menatap jendela rumah itu.
Gelap.
Sepi.
Seolah-olah tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
Dadanya langsung terasa kosong.
Nara…
Ia melangkah mendekat. Berdiri tepat di depan pagar.
Tapi tidak mengetuk.
Tidak memanggil.
Seolah-olah…
dia sudah tidak punya hak lagi untuk itu.
Hujan terus turun.
Menit demi menit berlalu.
Tapi Arka tetap di sana.
Tidak bergerak.
Seperti orang yang sedang dihukum oleh pilihannya sendiri.
“Aku tahu kamu ada…”
Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh derasnya hujan.
“Aku tahu kamu dengar aku…”
Ia menelan napas.
“Aku juga tahu… kamu mungkin benci aku sekarang.”
Kalimat itu keluar dengan susah payah.
Seolah setiap kata melukai dirinya sendiri.
“Tapi aku nggak akan pergi… kali ini.”
Air hujan mengalir di wajahnya.
Atau mungkin bukan cuma hujan.
“Aku salah, Nara…”
Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
“Aku yang datang lagi ke hidup kamu… aku yang buat kamu mulai percaya lagi…”
Suaranya mulai pecah.
“Dan aku juga yang ninggalin kamu… dalam keadaan kayak gitu.” Suara hujan memenuhi ruang kamar.
Deras.
Bising.
Seolah-olah menenggelamkan semua yang aku rasa.
Aku duduk di tepi katil, memeluk lutut, menatap kosong ke arah lantai.
Aku cuba tenangkan diri.
Cuba yakinkan hati aku.
Dia dah pergi.
Dan kali ini… aku tak akan kejar.
Tapi kemudian—
“Aku tahu kamu ada…”
Suara itu.
Suara yang terlalu aku kenal.
Jantung aku langsung berhenti sekejap.
Aku tak bergerak.
Aku fikir… aku cuma bayangkan.
Tapi suara itu datang lagi.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
“Aku tahu kamu dengar aku…”
Nafas aku tersekat.
Arka.
Dia… ada di luar?
Aku bangun perlahan.
Langkah kaki aku terasa berat, seolah-olah setiap langkah sedang dilawan oleh sesuatu dalam diri aku.
Jangan.
Jangan pergi.
Jangan dengar.
Itu suara ego aku.
Suara yang cuba lindungi aku daripada sakit yang sama.
Tapi hati aku…
Diam.
Dan diam itu lebih kuat.
Aku berdiri di balik langsir.
Tak buka.
Tak berani.
Tapi aku dengar.
Setiap kata.
Setiap nafas dia yang tersekat.
Setiap getaran suara yang… tak pernah aku dengar sebelum ini.
“Aku salah, Nara…”
Air mata aku jatuh.
Tanpa aku sedar.
Kenapa… kau cakap semua ni sekarang?
Kenapa bukan waktu aku tunggu kau dulu?
Kenapa bukan waktu aku masih kuat untuk dengar?
“Aku yang buat kamu percaya lagi…”
Jari aku menggenggam langsir kuat.
Sakit.
Tapi tak sesakit apa yang aku rasa dalam d**a.
“Aku yang tinggalkan kamu macam tu…”
Aku pejam mata.
Bayangan dia berjalan keluar dari kafe…
Tanpa berpaling.
Tanpa melihat aku.
Semua itu datang balik.
Dan hati aku… runtuh lagi.
Aku nak benci dia.
Aku cuba.
Sungguh aku cuba.
Tapi kenapa…
setiap kali dia macam ni—
aku yang lemah?
“Kalau kamu nggak mau ketemu aku… aku akan tetap di sini…”
Aku tersentak.
Apa?
Aku buka langsir sedikit.
Dan aku nampak dia.
Berdiri di luar.
Dalam hujan.
Tak bergerak.
Tak cari tempat berteduh.
Seolah-olah… dia memang nak berdiri di situ.
Menunggu.
Untuk aku.
“Arka… bodohnya kau…”
Bisikan itu keluar sendiri dari bibir aku.
Air mata aku jatuh lagi.
Lebih laju kali ini.
Pergi.
Biarkan dia.
Dia yang pilih untuk sakiti kau.
Dia yang pergi.
Dia yang buat semua ini.
Suara itu datang lagi.
Lebih kuat.
Lebih tegas.
Aku pejam mata kuat-kuat.
Ya.
Aku patut abaikan dia.
Aku patut biarkan dia rasa apa yang aku rasa.
Aku patut…
balas semua sakit ini.
Tapi…
mata aku kembali terbuka.
Dan pandangan aku jatuh pada dia lagi.
Masih di situ.
Masih diam.
Masih menunggu.
Dalam hujan yang semakin lebat.
Dan saat itu—
hati aku… kalah.
Bukan kerana kata-kata dia.
Bukan kerana rayuan dia.
Tapi kerana satu perkara yang paling aku tak boleh lawan.
Aku masih… sayang dia.
“Aku benci kau, Arka…” benci sangat.
Aku bisik perlahan.
Tapi kaki aku…
tetap melangkah ke arah pintu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin dekat.
Semakin lemah.
Aku capai payung di tepi pintu.
Tangan aku masih gemetar.
Bukan kerana takut.
Tapi kerana aku tahu—
sekali aku buka pintu ini…
aku mungkin tak akan sama lagi.
Aku berhenti sekejap.
Tangan aku di tombol pintu.
Nafas aku turun naik.
Cepat.
Tak stabil.
Ini salah.
Ini bodoh.
Ini akan sakiti kau lagi.
Semua suara itu menjerit dalam kepala aku.
Tapi satu suara lain…
lebih perlahan.
Lebih jujur.
Lebih aku.
Dia di luar… dalam hujan… untuk kau.
Dan itu saja sudah cukup.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Hujan masuk bersama angin.
Dan di depan aku—
Arka.
Basah.
Diam.
Rapuh.
Aku melangkah ke depan.
Mengangkat payung.
Menahan hujan dari jatuh ke wajahnya.
Aku tak tahu kenapa aku buat ini.
Aku tak tahu kenapa aku masih peduli.
Aku tak tahu kenapa aku tak boleh biarkan dia.
Yang aku tahu cuma satu—
aku tak sanggup tengok dia hancur…
walaupun dia yang hancurkan aku dulu.Di dalam rumah—
Nara berdiri diam.
Matanya merah.
Dia dengar.
Semua.
Tidak ada satu kata pun yang terlewat.
Setiap kalimat Arka…
jatuh tepat ke hatinya.
Dan itu menyakitkan.
Sangat menyakitkan.
Kenapa kamu datang lagi…?
Air matanya jatuh perlahan.
Kenapa kamu nggak biarin aku pergi aja…?
Dadanya terasa sesak.
Karena yang paling dia benci bukan Arka.
Tapi dirinya sendiri.
Yang… masih peduli.
Di situ—
Arka masih berdiri.
Tubuhnya mulai menggigil.
Tapi dia tidak bergerak.
Tidak mencari tempat berteduh.
Tidak mencoba melindungi diri.
Seolah-olah dia memang pantas merasakan ini.
“Kalau kamu nggak mau ketemu aku…”
Suaranya semakin pelan.
Hampir putus.
“…aku akan tetap di sini.”
Ia menunduk.
“Sampai kamu keluar… atau sampai aku benar-benar sadar…”
Napasnya tertahan.
“…kalau aku memang udah nggak punya tempat lagi di hidup kamu.”
Di dalam, Nara menutup matanya rapat.
Hatinya berperang.
Ego menahan.
Rindu menarik.
Luka berteriak.
Dan kenangan… menghantam tanpa ampun.
Langkahnya gemetar.
Tapi tetap bergerak.
Satu langkah.
Dua langkah.
Dan akhirnya—
pintu itu terbuka.
Arka tidak langsung mengangkat kepala.
Sampai…
dia merasakan sesuatu berhenti di atasnya.
Hujan—
tidak lagi menyentuh wajahnya.
Perlahan…
dia mendongak.
Dan di sana—
Nara berdiri.
Dengan payung di tangannya.
Matanya merah.
Wajahnya pucat.
Tapi dia tetap berdiri di situ.
Untuknya.
Dunia seperti berhenti.
Arka tidak bergerak.
Napasnya tertahan.
“Nara…”
Namanya keluar pelan.
Hampir seperti doa.
Nara tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatap Arka.
Dalam.
Tajam.
Penuh luka yang belum sembuh.
Dan… perasaan yang belum hilang.
“Kenapa kamu datang?”
Akhirnya dia bicara.
Suaranya pelan.
Tapi cukup untuk menghancurkan Arka dari dalam.
Arka menelan ludah.
“Aku nggak bisa biarin kamu kayak gitu…”
Suaranya rendah.
“Aku nggak bisa biarin kamu mikir… kalau aku ninggalin kamu lagi tanpa alasan.”
Nara tertawa kecil.
Pahit.
Terlalu pahit untuk disebut tawa.
“Tanpa alasan?”
Dia menggeleng pelan.
“Kamu bahkan nggak kasih aku kesempatan buat ngerti alasan itu, Arka.”
Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“Kamu pergi… lagi.”
Suaranya mulai bergetar.
“Dan kali ini… aku lihat sendiri.”
Arka terdiam.
Tidak membela diri.
Tidak memotong.
Karena dia tahu—
semua yang Nara katakan… benar.
“Aku minta maaf…”
Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Tapi kali ini—
lebih berat.
Lebih jujur.
Lebih terlambat.
“Tapi aku datang…”
Dia mengangkat wajahnya, menatap Nara dalam-dalam.
“…karena kali ini aku nggak mau lari lagi.”
Nara terdiam.
Hatinya bergetar.
Kalimat itu…
yang dulu selalu dia tunggu.
Yang dulu dia ingin dengar.
Tapi sekarang…
kenapa rasanya tidak cukup lagi?
“Aku mau kamu dengar semuanya,” lanjut Arka.
Suaranya pelan, tapi penuh tekad.
“Apa pun yang kamu putusin setelah ini… aku terima.”
Napasnya berat.
“Tapi jangan… jangan pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Nara menggenggam erat payung di tangannya.
“Dan kalau aku tetap pergi?”
Pertanyaannya pelan.
Tapi tajam.
Menusuk langsung ke hati Arka.
Arka terdiam sejenak.
Lalu…
tersenyum kecil.
Sedih.
“Kalau itu yang kamu mau…”
Suaranya perlahan.
“…aku yang akan mundur.”
Matanya redup.
“Tapi kali ini… bukan karena aku ninggalin kamu.”
Ia menatap Nara dalam-dalam.
“…tapi karena kamu yang memilih untuk nggak lagi tinggal.”
Air mata Nara jatuh.
Satu.
Lalu satu lagi.
Dia benci ini.
Benci dirinya yang masih goyah.
Benci hatinya yang masih bereaksi.
“Kenapa kamu baru kayak gini sekarang…?”
Suaranya pecah.
“Aku tunggu kamu kayak gini dari dulu, Arka…”
Dadanya naik turun.
“Kenapa harus setelah aku hampir belajar buat pergi… kamu baru datang lagi?”
Arka tidak menjawab.
Karena tidak ada jawaban yang cukup.
Hujan masih turun di sekeliling mereka.
Tapi di bawah payung itu—
mereka berdiri berdua.
Sangat dekat.
Tapi terasa sangat jauh.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya bermula—
Nara sadar satu hal:
mencintai Arka tidak pernah setengah-setengah.
Tapi juga…
melupakan Arka tidak akan pernah mudah.
Dan malam itu—
di bawah hujan yang tidak kunjung reda—
Nara harus memilih:
percaya lagi…
atau
akhirnya benar-benar melepaskan.