Bos Pak Hendra ternyata seorang perempuan, bukan pria seperti yang Arka bayangkan. Namanya Bu Karini, sekitar lima puluh tahun, berpakaian sederhana dengan sepatu kets yang sudah lecet di ujungnya. Ia datang ke Rajawali Sabtu pagi tanpa rombongan, tanpa mobil mengkilap, hanya ditemani Pak Hendra dan seorang anak muda yang membawa tas berisi map. Ia berjalan masuk ke velodrom, menengadah memandang tribun berdebu dan langit-langit tinggi, lalu berjalan ke tepi lintasan dan menyentuh papan kayunya dengan telapak tangan, lama, seolah memeriksa apakah benda itu masih hidup.
"Saya naik sepeda waktu kecil," katanya pelan, tanpa menoleh. "Sepeda ontel bapak saya, terlalu besar untuk badan saya. Saya jatuh terus. Tapi tiap kali saya jatuh, saya merasa—" ia mencari kata, "—merasa kakinya saya sendiri. Bukan punya siapa-siapa. Lama saya tidak merasa begitu lagi."
Hasan berdiri di sisi lintasan, bersandar pada tongkat yang jarang ia pakai kecuali saat kakinya sakit. Ia memandang Bu Karini dengan tatapan menilai yang sama seperti saat ia pertama melihat Arka menyalip lampu merah. Arka mengenali tatapan itu. Hasan sedang membaca.
Mereka duduk di garasi, di antara sepeda-sepeda yang digantung dan rak tubular. Bu Karini menolak dibawakan kursi yang lebih baik dan duduk di bangku kayu kasar seperti yang lain. Pak Hendra membuka map. Angkanya, ketika disebutkan, membuat napas Arka tertahan—cukup untuk membayar perawatan lintasan dua tahun, mengganti kayu yang lapuk di tikungan tiga, membeli roller baru, dan membiayai program pembinaan anak-anak. Cukup untuk membuat Rajawali bukan lagi velodrom yang menghitung mundur hari kehancurannya.
Lalu Pak Hendra membalik halaman, dan suaranya berubah sedikit. Lebih hati-hati. "Ada satu hal," katanya. "Bukan syarat berat. Tapi perlu kami sampaikan terus terang."
Arka merasakannya datang sebelum kata-katanya keluar. Tubuhnya menegang seperti di mulut banking. Hasan bilang uang tidak pernah datang sendiri.
"Perusahaan kami sudah lama ingin punya nama di dunia olahraga," kata Pak Hendra. "Dan kalau kami mendanai sebesar ini, kami perlu atlet andalan yang membawa nama kami. Bukan velodrom—velodrom tetap di sini, tetap milik Pak Hasan. Tapi Arka. Kami ingin Arka terdaftar di bawah klub binaan kami, Garuda Sakti, untuk kejuaraan-kejuaraan resmi. Jersey kami, lisensi kami. Pelatih dari kami."
Garuda Sakti. Arka mengenali nama itu seperti pukulan dingin di tengkuk. Klub yang slot sprintnya nyaris merebut milik Rajawali. Klub Wirya. Klub berduit yang format federasinya dibuat untuk menguntungkan mereka.
"Pelatih dari kalian," ulang Arka pelan.
"Coach bersertifikat, fasilitas penuh," kata Pak Hendra cepat, seolah itu hadiah. "Pak Hasan tetap dihormati sebagai—penemu kamu, katakanlah. Tapi untuk kompetisi, kamu butuh struktur yang benar. Garuda Sakti punya itu."
Garasi jatuh sunyi. Bahkan suara jangkrik dari luar terdengar terlalu keras. Arka memandang map di tangan Pak Hendra, angka-angka yang bisa menyelamatkan papan kayu di bawah kakinya, lalu memandang Hasan yang duduk diam dengan wajah yang tak menunjukkan apa-apa. Pria tua yang turun ke garis biru saat kaki Arka membeku. Pria yang berkata aku tidak ke mana-mana dan menuntunnya melewati banking seperti hari pertama. Pria yang melatihnya bukan untuk uang, bukan untuk gengsi klub, tapi karena melihat sesuatu di anak kurir yang tak dilihat siapa pun.
Meninggalkan Hasan untuk menyelamatkan velodrom Hasan. Ironi itu hampir membuat Arka tertawa pahit.
"Boleh saya bertanya sesuatu," kata Arka, suaranya pelan tapi mantap. Ia memakai kepala analisnya, dingin, jujur. "Kalau saya pindah ke Garuda Sakti, dan suatu hari saya cedera lagi—lutut saya pernah cedera, kalian pasti tahu—apa kalian akan tetap di belakang saya? Atau kalian akan mencari atlet lain yang masih utuh?"
Pak Hendra ragu. Hanya sepersekian detik, tapi Arka menangkapnya, sejelas bahu yang menegang sebelum serangan. "Tentu kami akan mempertimbangkan kondisi—"
"Hasan menggendong saya melewati banking waktu kaki saya membeku karena takut," potong Arka. "Bukan karena saya bisa menang. Karena saya takut. Tidak ada yang membayarnya untuk itu." Ia menatap Pak Hendra, lalu Bu Karini yang duduk diam mengamati. "Saya tidak bisa menukar orang itu dengan jersey. Berapa pun angkanya."
Bu Karini, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. "Kamu menolak," katanya. Bukan pertanyaan.
"Saya menolak syaratnya," kata Arka. "Bukan tangan kalian. Kalau kalian mau bantu velodrom dan panti karena ceritanya menyentuh, saya akan berterima kasih seumur hidup. Tapi kalau bantuan itu artinya saya mengkhianati orang yang membuat saya jadi pembalap, maka itu bukan bantuan. Itu pembelian. Dan saya tidak dijual."
Kata-kata itu keluar lebih keras dari yang ia maksudkan, dan untuk sesaat ia takut sudah merusak segalanya. Mei, yang berdiri di sudut, menahan napas. Tapi Hasan, di kursinya, mengangkat wajah sedikit, dan ada sesuatu di matanya—bukan senyum, Hasan jarang tersenyum—tapi sesuatu yang seperti pengakuan. Diam-diam, ia mencatat pilihan itu. Seperti ia dulu mencatat catatan-catatan Arka yang membaca dirinya lebih dalam dari pelatihnya sendiri.
Pak Hendra menutup map dengan canggung. Bu Karini berdiri, merapikan rok sederhananya, dan berjalan kembali ke tepi lintasan. Ia memandang papan kayu itu lagi, lalu menoleh pada Arka.
"Bapak saya selalu bilang," katanya pelan, "orang yang mau dibeli tidak pernah pantas dibeli. Dan orang yang menolak dibeli—" ia berhenti, memandang jauh, "—itu yang biasanya bikin saya penasaran." Ia tidak menjanjikan apa-apa. Ia hanya menjabat tangan Arka, lalu tangan Hasan, lalu pergi dengan langkah lecet sepatu ketsnya yang tenang.
Mobil mereka menghilang di tikungan jalan. Garasi kembali sunyi. Arka berdiri di tengahnya, jantungnya berdebar seperti baru menyelesaikan sprint, dan untuk sesaat ia tak yakin apakah ia baru saja menyelamatkan sesuatu atau membuangnya.
"Saya mungkin baru membuang dua tahun perawatan lintasan," katanya pelan pada Hasan.
Pria tua itu mengetukkan tongkatnya pelan ke lantai semen. "Mungkin," katanya. "Atau kamu baru membeli sesuatu yang tidak ada angkanya." Ia bangkit, kaki kirinya yang pincang menyeret sedikit. "Aku pernah punya rekan yang menjual dirinya ke klub yang membawa uang. Dia menang banyak. Tapi waktu kakinya patah, tidak ada satu pun dari mereka datang ke rumah sakit." Ia berhenti di pintu garasi, punggungnya membelakangi lampu. "Kamu memilih jalan yang lebih sulit, Nak. Itu hampir selalu jalan yang benar. Tapi lebih sulit tetap lebih sulit. Jangan sampai kamu lupa itu besok pagi waktu kita masih harus cari cara bayar kayu tikungan tiga."
Arka tertawa pelan, lelah dan lega sekaligus. Ia tahu Hasan benar. Besok pagi masalahnya akan tetap ada, dan kini tanpa satu tangan besar untuk menyelesaikannya. Tapi malam ini, untuk satu malam, ia tahu ia tidak mengkhianati siapa pun. Dan itu, anehnya, terasa seperti kemenangan yang lebih bersih daripada medali mana pun yang pernah ia bayangkan.