Tanpa tangan besar, mereka harus mengumpulkan banyak tangan kecil. Itu jauh lebih melelahkan, dan Arka menemukan dirinya merindukan kesederhanaan lintasan—di mana setidaknya kemenangan dan kekalahan jelas garisnya. Di sini tak ada garis. Hanya pekerjaan lambat yang tak ada podiumnya, persis seperti yang Hasan ramalkan.
Ide itu datang dari Mei, di garasi, suatu malam ketika mereka berdua duduk di antara kertas-kertas dan ponsel. "Kita tidak butuh satu orang yang punya banyak," katanya, memutar pulpen di jarinya. "Kita butuh banyak orang yang punya sedikit. Komunitas sepeda di Bandung itu besar, Arka. Gowes pagi tiap akhir pekan ratusan orang. Mereka mungkin tidak tahu velodrom ini masih ada. Tapi kalau mereka tahu—kalau mereka tahu ada papan kayu indoor satu-satunya di kota mereka yang nyaris dirobohkan—mungkin sebagian dari mereka peduli."
Arka memandang catatannya. Skema seperti ini ia tahu namanya, ia pernah lihat di internet—orang patungan kecil-kecilan lewat tautan, sedikit-sedikit sampai terkumpul. Rapuh, tak pasti, bergantung pada kebaikan orang asing. Setahun lalu ia akan menertawakannya. Tapi setahun lalu ia juga tidak percaya pada tim, dan Yoga sudah mengajarinya bahwa hal-hal yang dibangun dari banyak tangan kecil bisa lebih kuat dari satu kaki besar.
"Kita mulai dari mana?" tanyanya.
"Dari yang kita punya," kata Mei. "Cerita. Velodrom. Dan kamu."
Mereka mulai dari hal-hal kecil. Mei, yang lebih luwes dengan kata-kata di layar daripada Arka, menulis cerita Rajawali dengan jujur dan tanpa berlebihan—papan kayu 250 meter berusia puluhan tahun, banking 42 derajat, satu-satunya lintasan indoor di kota, tempat anak kurir belajar membaca lawan seperti catur. Ia memotret garasi, tubular yang dilem tangan, lap board tua yang masih dipakai, dan tangan Hasan yang berlumur lem. Arka merekam video pendek dirinya mengayuh di lintasan, suara roda di papan kayu, dan bicara langsung ke kamera dengan kaku tapi tulus: tempat ini menyelamatkan saya. Sekarang giliran saya tidak membiarkannya mati.
Lalu mereka menyebarkannya. Bukan ke perusahaan. Ke orang.
Arka mendatangi titik kumpul gowes Sabtu subuh di lapangan dekat alun-alun, berdiri canggung di antara ratusan pesepeda berbaju mencolok dengan sepeda yang harganya lebih mahal dari semua yang ia punya. Ia bukan orang yang pandai bicara di depan banyak orang—di lintasan ia bicara dengan kaki, bukan mulut. Tapi ia berdiri di atas bangku, jantungnya berdebar lebih keras dari saat final keirin, dan ia bercerita. Tentang velodrom. Tentang anak-anak panti yang mungkin bisa belajar di sana. Tentang papan kayu yang akan jadi mal kalau tak ada yang peduli.
Sebagian orang mendengarkan sambil lalu, lalu mengayuh pergi. Tapi sebagian berhenti. Seorang bapak tua dengan sepeda lipat menghampirinya setelah itu dan berkata ia dulu pernah menonton balapan di Rajawali tahun delapan puluhan, dan ia kira velodrom itu sudah lama dibongkar. Matanya basah. Ia menyumbang dari dompetnya saat itu juga, uang lecek yang ia lipat ke tangan Arka, dan berkata, "Jaga papan kayu itu, Nak. Itu bagian dari kota ini."
Uang itu tidak banyak. Tapi Arka menggenggamnya sepanjang jalan pulang seolah itu medali emas.
Pelan-pelan, tautan itu menyebar. Komunitas sepeda saling membagikan, lalu komunitas lari, lalu orang-orang yang sama sekali tak berolahraga tapi tersentuh cerita anak panti dan velodrom sekarat. Pak Tarman menulis lagi, tindak lanjut, dan kali ini menyertakan tautan penggalangan. Angkanya naik perlahan—tidak melonjak seperti keajaiban, tapi merangkak naik seperti pursuit yang dijaga tempo meratanya, kilometer demi kilometer. Lima puluh ribu di sini. Dua ratus ribu di sana. Sekali waktu, sumbangan besar dari nama yang tak Arka kenal disertai pesan singkat: dulu saya juga anak panti. Teruskan.
Ini tidak cukup untuk menyelamatkan tanah panti—Arka tahu itu, ia tidak membohongi dirinya. Masalah sertifikat butuh notaris, pengadilan, napas panjang yang uang kecil ini tak akan tutupi sendiri. Tapi sebagian dialirkan ke yayasan untuk biaya pengurusan surat, dan sebagian menjaga velodrom tetap bernapas, dan yang terpenting—Arka menyadarinya pelan-pelan—penggalangan ini melakukan sesuatu yang uang Garuda Sakti tak akan pernah bisa. Ia membuat orang merasa velodrom itu milik mereka. Ratusan orang yang menyumbang sekarang punya secuil Rajawali. Mereka akan bertanya kabarnya. Mereka akan datang menonton kalau ada lomba. Mereka tidak akan membiarkannya mati dalam diam.
Velodrom mulai punya napas dari bawah, bukan dari satu tangan besar. Dan napas dari bawah, Arka mulai mengerti, lebih sulit dimatikan. Satu sponsor bisa kabur dalam semalam, seperti yang sudah-sudah. Tapi seribu orang yang merasa memiliki—itu bukan sesuatu yang bisa dicabut pengembang dengan selembar kertas.
Suatu malam, ketika angka di layar melewati tonggak yang dulu terasa mustahil, Mei menunjukkannya pada Arka dan Hasan di garasi. Hasan memandang layar itu lama, lalu mengetuk tongkatnya pelan.
"Tiga puluh tahun aku jaga tempat ini sendiri," katanya, suaranya serak. "Sendiri. Aku kira begitu caranya. Kau jaga sampai mati, sendirian, seperti menjaga makam." Ia menggeleng pelan. "Ternyata bukan begitu. Bukan satu orang yang menjaga sampai mati. Banyak orang yang menjaga sampai hidup."
Arka memandang pria tua yang menggendongnya melewati banking itu, dan menyadari ada sesuatu yang baru saja sembuh di dalam Hasan—luka kesepian tiga puluh tahun yang bahkan tak pernah Hasan sebut. Velodrom kayu yang sekarat itu mulai bernapas, bukan oleh medali, bukan oleh keajaiban, tapi oleh banyak tangan yang memilih menggenggam balik. Persis seperti yang Arka pelajari di lintasan, dengan Yoga, ratusan lemparan. Kepercayaan bukan keajaiban yang datang sendiri. Ia dibangun, pelan, satu tangan demi satu tangan, sampai cukup.
Dan kini, di antara semua kertas dan telepon dan tangan-tangan kecil itu, kejuaraan kualifikasi menunggu. Pertarungan di papan kayu, pertarungan yang berbeda, dengan senjata yang berbeda. Sudah waktunya Arka kembali ke lintasan.