Velodrom kualifikasi berada di kota lain, tiga jam dari Bandung dengan bus, sebuah lintasan beton outdoor yang lebih besar dari Rajawali tapi tak punya kehangatan papan kayunya. Arka turun dari bus dengan tas sepeda di punggung dan langsung merasakannya—bukan sekadar gugup, tapi beban ganda yang menekan dadanya. Dua nomor. Keirin dan madison. Dua pertarungan yang sama sekali berbeda watak, dalam tiga hari yang sama.
Keirin adalah pertarungan dirinya sendiri: ledakan, timing, membaca celah di tikungan terakhir. Itu medan yang ia kenal, medan tempat ledakan mentahnya—meski berkurang delapan persen—masih jadi senjata kalau dipandu kepala. Tapi madison adalah pertarungan tim, dan di sana ada Yoga, dan handsling yang harus mulus di kecepatan lomba sungguhan, di tengah dua puluh pasang pembalap dalam kekacauan terkontrol. Ketakutan terbesarnya, di panggung yang tak memaafkan.
Coach Darma menemui mereka di paddock, memeriksa sepeda, gear ratio, tekanan ban. Ia sudah berubah dari pria yang dulu menganggap Arka eksperimen menarik. Kini ia memperlakukan Arka sebagai atletnya, lugas dan tajam. "Dua nomor itu berat," katanya tanpa basa-basi. "Tubuhmu akan dipaksa pulih cepat di antaranya. Keirin menguras ledakan, madison menguras stamina. Aku tidak suka kau di dua-duanya. Tapi kita butuh dua-duanya untuk slot Rajawali." Ia menatap Arka. "Jadi kau atur tenagamu seperti kau atur uang. Jangan habiskan apa yang tidak perlu."
Hasan ada di sana juga, datang dari Bandung meski kakinya sakit di perjalanan panjang. Ia tidak banyak bicara dengan Darma—dua pria yang dulu bersitegang soal siapa yang sebenarnya melatih Arka, kini bersekutu canggung demi anak yang sama. Tapi Arka melihat mereka berdiri berdampingan di tepi lintasan, membaca rekaman lawan di tablet, dan ada gencatan senjata yang nyata di antara mereka. Musuh bersama—federasi, Garuda Sakti, format yang dibuat untuk menyingkirkan klub kecil—membuat dua orang yang saling tak suka berdiri di sisi yang sama.
Babak penyisihan keirin lebih dulu. Arka menghangat di roller, kaki berputar dalam ritme yang kini ia kenal seperti detak jantungnya sendiri, dan Mei—yang juga datang, punya nomor endurance-nya sendiri keesokan harinya—memegangi sepedanya dan berbisik, "Ingat. Lap ketiga. Lawan-lawan ini meledak terlalu cepat. Kamu yang sabar."
Di atas lintasan, motor derny meraung di depan barisan, memandu enam pembalap dalam kecepatan yang naik bertahap. Arka menempel di posisi ketiga, membaca punggung-punggung di depannya, bahu yang menegang, kayuhan yang mengeras. Ia menahan instingnya yang dulu selalu ingin melepas lebih cepat—insting kurir yang menyalip begitu ada celah. Derny minggir di lap yang ditentukan, melepaskan kawanan ke kecepatan penuh, dan untuk sesaat dunia jadi sprint murni: kaki, paru-paru terbakar, papan dan beton mengabur.
Seseorang melepas terlalu cepat di pojok belakang. Arka membacanya, tidak terpancing, menunggu setengah detik yang dulu tak pernah ia punya. Lalu ia melepas pelurunya di tikungan terakhir, garis dalam, mencuri posisi yang ia incar sejak lap pertama. Ia menyeberangi garis kedua di heat-nya—cukup untuk lolos langsung ke babak berikutnya tanpa harus lewat repechage yang melelahkan. Bukan menang, tapi cukup. Dan cukup yang dijaga dengan kepala, kini, terasa lebih memuaskan daripada menang dengan kaki yang membabi buta.
Hasan mengangguk dari pinggir lintasan. Tidak bersorak. Hanya mengangguk—pengakuan kering yang Arka kini tahu lebih bernilai dari tepuk tangan.
Tapi keirin baru separuh cerita. Sore harinya, latihan madison, dan di sanalah kegugupan sejati merayap. Yoga sudah di lintasan, sprinter senior bermata keras itu, memeriksa pegangan dan posisi handsling. Mereka belum pernah madison di lomba sungguhan—hanya simulasi di Rajawali, ratusan lemparan di garasi dan lintasan kayu yang mereka kenal. Lintasan beton ini asing. Lebih panjang. Lawan-lawannya nyata.
Mereka mencoba beberapa lemparan latihan di kecepatan sedang. Tangan bertemu tangan, ayunan, lontaran. Mulus—di kecepatan ini. Tapi Arka tahu, dan Yoga tahu, bahwa kecepatan lomba sungguhan adalah binatang yang lain. Di kecepatan penuh, di tengah kerumunan, dengan tekanan podium, segala hal yang mereka bangun di garasi bisa retak dalam sepersekian detik.
"Besok bukan latihan," kata Yoga pelan, melepas sarung tangannya. Suaranya tetap datar, tapi Arka kini bisa membaca pria itu—ada ketegangan di rahangnya. "Besok kalau tanganmu ragu, kita berdua jatuh. Bukan cuma kamu. Kita."
"Aku tahu," kata Arka.
"Bram dulu juga bilang dia tahu," kata Yoga, lalu berhenti. Ia jarang menyebut nama partner sebelas tahun yang mengkhianatinya itu. Ia menatap Arka lama, lalu menambahkan, lebih pelan, "Tapi kamu bukan Bram. Kamu bilang jujur waktu tanganmu ragu. Dia tidak pernah." Ia memanggul sepedanya. "Besok, lempar saja. Aku yang menangkap."
Malam itu, di penginapan murah dekat lintasan, Arka tak bisa tidur. Ia memandang langit-langit dan menghitung—bukan domba, tapi lemparan. Ratusan lemparan yang sudah ia dan Yoga lakukan. Tangan bertemu tangan, ayunan, lontaran. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa tubuhnya sudah hafal gerakan itu, bahwa kepercayaan yang mereka bangun pelan-pelan akan menahan di bawah tekanan. Tapi di kepalanya, samar, masih ada bayangan lutut kanan yang dulu memicu insting tarik-kembali di mulut banking. Yang digenggam selalu dilepaskan. Anak panti yang takut bangun ulang dari nol.
Ia menarik napas panjang. Besok keirin babak kedua di pagi hari, dan madison kualifikasi menyusul. Dua pertarungan, satu hari. Dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa yang ia pertaruhkan bukan cuma slot Rajawali. Ia mempertaruhkan bukti bahwa anak yang dulu hanya percaya berlari sendirian benar-benar bisa menyerahkan rodanya pada orang lain.
Ia menutup mata. Lempar saja, kata Yoga di kepalanya. Aku yang menangkap.