Semifinal keirin dimulai pukul sembilan pagi, dan udara di lintasan beton masih dingin sisa subuh ketika Arka berbaris di starting block. Lima pembalap lain di sisinya, dan ia sudah mempelajari mereka semalam dari rekaman bersama Hasan dan Darma. Ia tahu siapa yang meledak terlalu cepat, siapa yang suka menempel di banking, dan ia tahu—dengan firasat yang kini ia percayai—siapa yang akan jadi masalah.
Masalah itu bernama Tomo, veteran dari klub besar, hampir tiga puluh tahun, dengan paha sebesar betis Arka dan reputasi bermain kotor di tikungan. Hasan sudah memperingatkannya. "Dia bukan yang tercepat," kata pria tua itu pagi tadi sambil memeriksa gear Arka. "Tapi dia yang paling pengalaman menutup garis. Dia akan memepetmu, menggesermu naik ke banking, membuatmu kehilangan momentum tepat saat kamu mau melepas. Jangan terpancing. Kemarahan membakar kaki. Kepala dingin yang menang."
Motor derny meraung dan melaju, dan keenam pembalap menyusun barisan di belakangnya. Kecepatan naik bertahap, lap demi lap, kawanan yang patuh pada motor di depan. Arka memilih posisi keempat—bukan terlalu depan yang akan jadi sasaran, bukan terlalu belakang yang akan terkubur saat sprint. Posisi membaca. Dari sini ia bisa melihat punggung-punggung, bahu-bahu, ritme kayuhan yang akan mengkhianati niat sebelum kaki bergerak.
Tomo ada di posisi kedua, dan Arka memperhatikannya. Setiap kali kawanan menyempit di tikungan, Tomo menggeser garisnya sedikit lebih lebar, menekan pembalap di sisinya naik ke banking. Halus, nyaris tak terlihat, tapi Arka melihatnya. Veteran itu sedang membersihkan ruangnya, mengintimidasi, menanam takut sebelum sprint.
Derny minggir di lap yang ditentukan. Bel berdentang. Kawanan meledak.
Dan Tomo melakukannya. Persis seperti yang Hasan ramalkan. Saat Arka mulai bergerak ke garis dalam untuk merebut posisi serangan, Tomo menggeser turun dari banking, memepetnya, bahu mereka nyaris bersentuhan. Tubuh Arka terdorong naik ke arah tikungan miring, momentumnya tercuri, dan untuk sepersekian detik insting jalanan lamanya berteriak—lawan balik, dorong, rebut! Darah panas naik ke kepalanya.
Tapi ia menahannya. Kepala dingin. Ia tidak melawan dorongan itu dengan dorongan—itu yang Tomo inginkan, gesekan yang akan menguras tenaga keduanya dan membiarkan pembalap lain melesat. Sebaliknya, Arka mengalah pada banking. Ia membiarkan tubuhnya terdorong naik, sedikit, lalu memakai kemiringan papan—kemiringan yang dulu hampir membunuhnya, kini jadi temannya—untuk meluncur turun dengan tambahan momentum, persis seperti yang dulu Senna lakukan padanya di uji coba pertama. Ia keluar dari gesekan itu bukan lebih lambat, tapi lebih cepat, melayang turun dari banking dengan kecepatan yang dipinjam dari gravitasi.
Tomo, yang mengira sudah menjebaknya, menoleh sekejap—kesalahan—dan di kesejapan itu Arka sudah melewatinya di garis dalam. Tikungan terakhir membentang. Dua ratus meter. Kaki Arka berputar, paru-parunya terbakar, tapi kepalanya tetap jernih, menghitung jarak ke garis, mengukur sisa tenaga seperti menghitung gear ratio. Ada satu pembalap di depannya yang melepas terlalu dini dan kini meredup, kakinya habis. Arka melewatinya di lima puluh meter terakhir.
Garis finis. Posisi kedua di semifinal—cukup, lebih dari cukup, untuk lolos ke final. Ia melambat di lap pendinginan, dadanya naik turun, dan ia mencari Hasan di pinggir lintasan.
Pria tua itu berdiri di pagar, dan untuk pertama kali sejak Arka mengenalnya, sudut mulut Hasan bergerak. Bukan senyum penuh—Hasan tak punya senyum penuh—tapi nyaris. Hampir. Pengakuan yang lebih dalam dari sorakan mana pun.
Tomo melintas di sebelahnya saat pendinginan, wajahnya masam. "Pintar juga anak panti," katanya, setengah hinaan, setengah pengakuan tak rela.
"Saya belajar dari yang terbaik menutup garis," kata Arka datar, tanpa menoleh. Ia tidak marah lagi. Kemarahan membakar kaki, dan ia butuh kakinya untuk sore nanti.
Di paddock, Hasan menghampirinya dengan tongkatnya. "Kamu mengalah pada banking," kata pria tua itu pelan. "Setahun lalu kamu akan melawan Tomo dan kalian berdua akan kalah. Hari ini kamu memakai apa yang dulu hampir membunuhmu untuk mengalahkannya." Ia menepuk bahu Arka, satu kali, kering. "Kaki orang lain meledak. Kepalamu yang menang."
Arka mengangguk, lelah dan puas. Tapi ia tidak membiarkan dirinya larut. Keirin masih punya final, nanti, dan di final itu—ia tahu dari papan hasil—ada nama yang menunggu. Senna Rais. Sudah lolos, tentu saja, mulus seperti biasa. Dua rival yang kini saling membaca seperti dua pemain catur yang mengenal.
Tapi sebelum final keirin, ada madison. Sore ini, dengan Yoga, ketakutan terbesarnya di panggung yang tak memaafkan. Ia merasakan tubuhnya yang sudah terkuras semifinal, kaki yang berdenyut, dan ia teringat kata Darma: atur tenagamu seperti uang, jangan habiskan apa yang tidak perlu. Ia menyimpan sisa tenaganya. Karena sore nanti, bukan kakinya sendiri yang ia pertaruhkan. Tapi tangan yang harus bertemu tangan, di kecepatan penuh, dengan kepercayaan yang masih harus diuji api.