Final keirin digelar di penghujung hari kedua, setelah madison kualifikasi yang akan datang lebih dulu di jadwal sore—tapi panitia memajukan final keirin ke siang karena perubahan teknis, dan tiba-tiba Arka harus menghadapi pertarungan individualnya sebelum pertarungan timnya. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari semifinal pagi. Ia merasakannya di kaki, di paru-paru. Tapi di starting block final, ketika ia menoleh ke kanan dan melihat Senna Rais berbaris dua posisi darinya, semua kelelahan itu menyusut jadi latar.
Senna menatapnya. Bukan tatapan meremehkan yang dulu—anak jalanan beruntung—tapi tatapan yang lain, yang mereka berdua bangun sejak Senna mengunjunginya di klinik dan mengaku pernah cedera lalu ditinggalkan timnya. Pengertian yang dingin tapi tulus. Dua orang dengan luka yang sama, kini saling membaca seperti dua pemain catur yang tahu setiap pembukaan lawan.
"Kamu kelihatan capek," kata Senna pelan, hampir tak terdengar di atas deru lintasan.
"Madison sore nanti," jawab Arka.
Sesuatu bergerak di mata Senna—mungkin keheranan, mungkin sesuatu yang lebih dalam. "Kamu pakai keirin untuk dirimu sendiri, lalu madison untuk timmu. Di hari yang sama." Ia menggeleng pelan. "Aku tidak akan pernah membagi diriku seperti itu."
"Aku tahu," kata Arka. "Itu bedanya kita."
Motor derny meraung. Pembicaraan berakhir. Enam pembalap menyusun barisan, dan kecepatan naik bertahap di belakang motor. Arka tahu dirinya tak akan menang murni dengan kaki hari ini—tidak melawan Senna yang segar, tidak dengan tenaganya yang sudah terkuras dan delapan persen yang hilang permanen. Tapi keirin bukan cuma kaki. Itu yang ia pelajari selama berbulan-bulan ini. Ia akan menyimpan pelurunya sampai bel terakhir dan melepasnya tepat di waktu yang persis benar.
Ia menempel di posisi ketiga, di belakang Senna. Membaca punggung rival yang kini ia kenal lebih dari siapa pun. Ia tahu kelemahan ritme Senna di lap ketiga—celah halus yang ia temukan dulu saat cedera memaksanya jadi analis dari pinggir lintasan. Tapi Senna juga tahu Arka tahu, dan Senna sudah memperbaikinya. Itulah yang membuat balapan ini seperti catur: setiap gerak diantisipasi, setiap jebakan dibaca.
Derny minggir. Bel berdentang. Kawanan meledak.
Senna melepas dengan timing sempurna, garis dalam, presisi seperti mesin. Arka melontarkan dirinya tepat di belakangnya, mencuri angin di punggung Senna, menyimpan tenaga untuk satu lontaran terakhir. Mereka melesat ke tikungan terakhir hampir berdampingan, dua sprinter terbaik yang kini saling membaca, dan untuk sesaat Arka merasakan celah—setengah ban, garis dalam yang bisa ia rebut. Ia melepas seluruh pelurunya.
Dua ratus meter terakhir adalah jurang dari paru-paru dan kehendak. Arka menyamai Senna, menempel di sisinya, kakinya berputar lebih cepat dari yang ia kira mampu setelah semifinal pagi. Roda mereka sejajar. Lima puluh meter. Tiga puluh. Ia merasakan tenaganya hampir habis, delapan persen yang hilang itu terasa seperti tangan yang menahan punggungnya, dan Senna—segar, utuh, dengan kaki yang tak pernah kehilangan apa pun—menarik diri setengah roda di depan di sepuluh meter terakhir.
Garis finis. Senna lebih dulu. Arka kedua.
Ia melambat, dadanya membakar, dan untuk sesaat kekecewaan itu tajam—setengah roda, begitu dekat. Tapi lalu angka itu meresap ke kepalanya, dan kekecewaan berubah jadi sesuatu yang lain. Posisi kedua. Kedua nasional di keirin. Setahun lalu ia kurir yang menyalip lampu merah demi tips. Tiga bulan lalu ia anak yang baru lolos pembinaan dengan margin setipis ban. Dan sekarang ia berdiri setengah roda di belakang sprinter terbaik di kelompok usianya, di panggung yang dulu mustahil ia bayangkan menginjaknya.
Senna mengayuh ke arahnya saat pendinginan. Wajahnya, yang biasanya tertutup zirah dingin, terbuka sedikit. "Setengah roda," katanya. "Kamu capek dari semifinal dan kamu masih membuatku takut di sepuluh meter terakhir." Ia menggeleng, dan kali ini ada sesuatu yang nyaris seperti hormat di suaranya. "Kalau kamu segar, aku tidak yakin aku menang."
"Tapi aku tidak segar," kata Arka. "Karena aku memilih membagi diriku. Madison itu yang aku tidak akan lepaskan, Senna. Itu sebabnya aku capek hari ini."
Senna terdiam. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang akan tumbuh nanti, Arka tak tahu seberapa, tapi ia melihat benihnya tertanam. Anak yang selalu sendiri, melihat anak panti yang memilih membagi cahayanya. "Aku tidak mengerti kenapa kamu lakukan itu," kata Senna pelan. "Kamu bisa jadi bintang sendirian. Kenapa kamu repot dengan tim?"
Arka memandang rivalnya, dan jawabannya datang dari tempat yang dalam. "Karena aku pernah sendirian seumur hidupku," katanya. "Dan ternyata itu bukan kekuatan. Itu cuma cara untuk tidak pernah dikecewakan. Aku sudah lelah hidup begitu."
Senna tidak menjawab. Ia mengangguk, sekali, lalu mengayuh menjauh. Tapi Arka tahu kata-katanya menempel—seperti pertanyaan Senna dulu menempel di kepalanya. Dua rival, saling menanam benih di kepala satu sama lain.
Hasan menemuinya di pagar. "Kedua nasional," kata pria tua itu, dan kali ini suaranya tak menyembunyikan apa-apa. "Di keirin. Dengan kaki yang berkurang delapan persen." Ia menatap Arka lama. "Sekarang istirahat. Makan. Minum. Karena dua jam lagi kamu harus menyerahkan rodamu pada Yoga, dan itu pertarungan yang sama sekali lain."
Arka mengangguk. Ia sudah memberikan segalanya untuk keirin, dan ia jatuh setengah roda dari puncak. Tapi keirin bukan yang paling ia takuti hari ini. Yang paling ia takuti masih menunggu di sore yang mulai memanjang. Tangan yang harus bertemu tangan, di kecepatan penuh, di tengah dua puluh pasang pembalap. Lempar saja. Aku yang menangkap.