Hasil resmi diumumkan keesokan paginya, ditempel di papan pengumuman penginapan dan disebar lewat pesan dari panitia. Arka membacanya dengan jantung berdebar, jari menyusuri daftar nama. Keirin individual: Arka Wijana, lolos ke Kejuaraan Nasional utama. Madison beregu: Arka Wijana dan Yoga Pranata, lolos ke Kejuaraan Nasional utama.
Ia membaca dua kali, lalu ketiga kali, untuk memastikan matanya tidak menipu. Lolos. Berdua. Dua nomor.
Rajawali—velodrom yang sepuluh bulan lalu menghitung mundur hari kehancurannya, papan kayu sekarat yang Hasan jaga sendirian seperti makam—kini mengirim atletnya ke panggung tertinggi balap lintasan nasional. Bukan satu nomor. Dua. Sebuah keirin dan sebuah madison, lahir dari garasi berdebu yang penuh bau lem tubular.
Arka berlari—benar-benar berlari, untuk pertama kali sejak lama, kakinya yang lelah lupa lelahnya—mencari Yoga di kamar sebelah. Pria itu sudah tahu, sudah membaca pesan, dan ketika Arka menggedor pintunya, Yoga membukanya dengan wajah yang biasanya datar kini retak oleh sesuatu yang nyaris seperti tak percaya.
"Kita lolos," kata Arka.
"Kita lolos," ulang Yoga, dan dua kata itu, di mulut pria yang dulu dikhianati partner sebelas tahun dan bersumpah tak akan percaya siapa pun lagi, terdengar seperti sesuatu yang lebih besar dari sekadar hasil lomba. Mereka tidak berpelukan—keduanya bukan tipe itu—tapi Yoga mengulurkan tangan, dan kali ini bukan handsling, bukan genggaman bahu, tapi jabat tangan biasa, dua orang yang menjadi tim sejati. Genggaman yang dipilih, bukan keajaiban yang datang sendiri.
Hasan dan Darma menemui mereka di paddock, dan Arka melihat sesuatu yang langka di wajah Hasan—bukan senyum penuh, masih bukan, tapi sesuatu yang lebih dekat ke sana dari yang pernah Arka lihat. Pria tua itu menjaga papan kayu sekarat selama tiga puluh tahun, menonton sponsor kabur dan atlet habis dan cat mengelupas, dan kini ada dua nama dari velodromnya yang tercatat menuju Kejuaraan Nasional utama. Arka tahu, tanpa Hasan mengucapkannya, apa arti ini bagi pria itu.
"Lisensi Rajawali aman satu tahun lagi," kata Darma, lebih praktis, tapi bahkan suaranya tak bisa menyembunyikan kepuasan. "Dana pembinaan cair. Federasi tidak bisa mengalihkan slot kalian sekarang—kalian membuktikannya di lintasan, di depan semua orang. Garuda Sakti tidak bisa mengklaim slot yang kalian menangkan sendiri."
Untuk sesaat, semuanya terasa sempurna. Arka membayangkan menelepon Bandung—Bu Ningsih dari ranjang sakitnya, Doni yang menunggu, anak-anak panti. Membayangkan menyampaikan kabar ini. Velodrom yang sekarat, mengirim dua nomor ke panggung tertinggi.
Lalu Darma berdeham, dan nada suaranya berubah, dan Arka merasakan kabar buruk datang seperti bahu lawan yang menegang sebelum serangan.
"Ada satu hal," kata Darma. "Dan aku tidak mau menyampaikannya, tapi lebih baik kamu tahu sekarang daripada terlambat." Ia menatap Arka lurus. "Di Kejuaraan Nasional utama, jadwal keirin dan madison bertabrakan. Babak-babaknya saling tumpang tindih. Lebih dari itu—lututmu." Ia berhenti. "Tim medis sudah memperingatkanku. Dua nomor penuh di kualifikasi ini saja sudah membuat lututmu berdenyut. Aku melihatmu memijatnya tadi malam, jangan kira aku tidak melihat. Di kejuaraan utama, intensitasnya jauh lebih tinggi. Tubuhmu—lututmu—tidak akan sanggup memberikan seratus persen di dua nomor sekaligus. Kalau kamu paksa dua-duanya, kamu akan setengah-setengah di keduanya, dan mungkin merusak lututmu permanen."
Arka merasa dadanya mengempis. "Jadi maksud Coach—"
"Kamu harus memilih," kata Darma. "Satu nomor. Yang kamu fokuskan penuh. Yang lain kamu lepaskan."
Garasi—paddock—dunia—jatuh sunyi. Arka memandang Darma, lalu Hasan, lalu Yoga yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang tiba-tiba menutup kembali, kembali jadi datar, kembali jadi pria yang dulu dikhianati dan tahu bagaimana rasanya ditinggalkan partner.
Keirin. Di sana Arka bisa menang sendiri, menjadi bintang, membalas Senna, mengukir namanya sendiri di panggung tertinggi. Itu jalur yang dulu ia bayangkan—anak kurir yang naik podium individual, cahaya tunggal, bukti pada dunia bahwa anak panti bisa.
Madison. Di sana ia menang bersama, tapi membagi cahaya. Di sana ada Yoga, yang baru saja menjadi tim sejatinya. Yoga, yang ditinggalkan Bram. Yoga, yang akan ditinggalkan lagi—oleh Arka kali ini—kalau Arka memilih keirin.
"Aku tidak butuh jawabannya sekarang," kata Darma, lebih lembut. "Tapi jangan terlalu lama. Kita perlu mendaftarkan keputusan, menyusun program latihan, fokus. Pikirkan baik-baik."
Darma pergi. Hasan tetap diam, membaca Arka dengan tatapan menilainya, tapi tidak mengatakan apa-apa—pria tua itu tahu ini bukan keputusan yang bisa diberikan orang lain. Yoga juga diam. Ia memandang lintasan, bukan Arka, dan ketika ia akhirnya bicara, suaranya kosong, dijaga.
"Pilih keirin," kata Yoga. "Aku mengerti. Itu jalurmu. Bintang. Aku cuma partner madison yang kamu temukan dua bulan lalu. Aku tidak akan menyalahkanmu."
"Yoga—"
"Aku sudah pernah ditinggalkan, Arka." Yoga menoleh, dan matanya—untuk pertama kali sejak Arka mengenalnya—menunjukkan luka itu telanjang. "Sebelas tahun. Aku tahu rasanya. Aku tidak akan marah. Cuma—" ia menarik napas, "—jangan berpura-pura ini sulit. Pilih saja. Itu lebih mudah buat kita berdua."
Ia memanggul sepedanya dan pergi, meninggalkan Arka berdiri sendirian di paddock dengan kemenangan terbesar dalam hidupnya yang tiba-tiba terasa seperti pisau. Dua nomor. Lolos berdua. Dan kini ia harus melepaskan salah satunya—dan ia tahu, dengan kejernihan yang menyakitkan, bahwa pilihan ini bukan tentang keirin atau madison sama sekali. Ini tentang siapa yang ia jadi. Anak yang dulu hanya percaya berlari sendirian, atau orang yang sudah belajar menyerahkan rodanya pada orang lain.