Arka tidak tidur malam itu. Ia berbaring di penginapan murah, memandang langit-langit, dan untuk pertama kalinya seluruh perjalanannya—dari lampu merah di Bandung sampai garis finis kualifikasi—berputar di kepalanya sekaligus, seperti rekaman yang diputar mundur.
Keirin atau madison. Bintang atau tim. Cahaya tunggal atau cahaya yang dibagi.
Ia mencoba membaca pilihan ini seperti membaca lawan, dingin dan jujur, cara ia membaca segalanya. Ia menghitung. Di keirin ia sudah kedua nasional, dengan kaki yang berkurang delapan persen. Kalau ia fokus penuh, kalau ia tak membagi tubuhnya, mungkin ia bisa mendekati Senna, mungkin bahkan mengalahkannya. Podium individual di Kejuaraan Nasional utama. Namanya, sendiri, di papan tertinggi. Bukti pada dunia—pada federasi yang memandangnya sebelah mata, pada Garuda Sakti yang mencoba membelinya, pada setiap orang yang pernah menyebutnya anak jalanan beruntung—bahwa ia nyata. Bahwa kakinya nyata.
Itu menggoda. Lebih dari menggoda. Itu seluruh mimpi yang dulu ia bawa ke velodrom di hari pertama.
Lalu ia memikirkan madison. Dan ia memikirkan Yoga di mulut banking, tangan terulur, di tempat yang persis seperti dulu, tempat lutut kanannya selalu memicu insting tarik-kembali. Ia memikirkan sepersekian detik ketika ia memilih tidak menarik tangannya. Lempar saja. Aku yang menangkap. Ia memikirkan bagaimana rasanya—bukan kemenangan satu kaki, tapi dua tangan yang memilih bertemu. Bagaimana kemenangan itu terasa berbeda, lebih penuh, lebih utuh, daripada semua yang pernah ia menangkan sendirian.
Ia bangun sebelum subuh dan keluar ke lintasan yang sepi. Beton dingin di bawah sepatunya. Ia berjalan ke tepi, ke mulut banking, dan menyentuh permukaannya dengan telapak tangan, lama, seperti Bu Karini menyentuh papan kayu Rajawali. Memeriksa apakah benda itu masih hidup. Memeriksa apakah dirinya masih hidup.
Dan di sana, dalam kesendirian sebelum fajar, jawabannya datang. Bukan dari perhitungan dingin. Dari tempat yang lebih dalam, tempat yang dulu beku.
Ia teringat panti. Teringat bagaimana ia tumbuh percaya bahwa yang digenggam selalu dilepaskan—bahwa satu-satunya cara untuk tidak dikecewakan adalah tidak pernah bersandar pada siapa pun. Ia teringat bagaimana ia membawa keyakinan itu ke lintasan, menolak tim, menang sendirian karena hanya dirinya yang tak akan mengkhianatinya. Ia teringat Senna, yang punya luka yang sama, yang memilih jalan sendirian dan kini berdiri di puncak dengan mata yang hampa. Aku tidak akan pernah membagi diriku seperti itu, kata Senna. Dan Arka menyadari, di tepi lintasan dingin itu, bahwa Senna tidak membaginya bukan karena ia lebih kuat. Tapi karena ia lebih takut.
Memilih keirin berarti menang sendirian. Aman. Tak ada yang bisa mengecewakannya, tak ada yang bisa ditinggalkannya. Jalur yang familiar bagi anak panti—cara untuk tidak pernah bersandar, tidak pernah terluka. Cahaya tunggal yang tak perlu dibagi karena tak ada siapa pun untuk membaginya.
Memilih madison berarti menyerahkan rodanya. Mempercayai Yoga di mulut banking, di panggung tertinggi, dengan lutut yang nyaris habis. Mempertaruhkan kemenangan pada tangan orang lain. Itu menakutkan. Itu segala hal yang ia habiskan seumur hidup menghindarinya.
Dan itulah mengapa, ia menyadari, justru itu yang harus ia pilih.
Matahari mulai naik di balik tribun ketika Arka berjalan kembali ke penginapan. Ia mengetuk pintu kamar Yoga. Pria itu membukanya, sudah bangun, matanya bengkak seperti ia juga tak tidur. Wajahnya menutup, bersiap untuk kabar yang ia kira sudah ia tahu.
"Pilih keirin," kata Yoga sebelum Arka bicara, suaranya datar. "Sudah kubilang aku mengerti."
"Tidak," kata Arka.
Yoga mengernyit. "Apa?"
"Aku memilih madison." Arka menatap matanya, lurus, tanpa ragu—seperti ia tak menarik tangannya di mulut banking. "Aku melepas keirin. Aku fokus madison. Denganmu."
Untuk sesaat Yoga hanya menatapnya, seolah kata-kata itu tak masuk akal, seolah ia salah dengar. "Kamu gila," katanya akhirnya, suaranya serak. "Kamu bisa menang sendiri di keirin. Kamu bisa jadi bintang. Kenapa kamu—kenapa kamu membuang itu untuk—"
"Karena aku sudah seumur hidup sendirian," kata Arka, dan suaranya tidak gemetar. "Dan ternyata itu bukan kekuatan. Itu cuma cara untuk tidak pernah dikecewakan. Senna memilih jalan itu dan dia menang segalanya dan matanya kosong." Ia menggeleng. "Aku tidak mau jadi orang yang menang sendirian, Yoga. Aku sudah cukup lama jadi orang itu. Kamu tidak meninggalkanku di mulut banking. Aku tidak akan meninggalkanmu di sini."
Yoga berdiri di ambang pintu, dan pria bermata keras yang dikhianati Bram selama sebelas tahun itu, untuk kedua kalinya sejak Arka mengenalnya, retak. Bukan air mata—Yoga tak akan membiarkan itu—tapi sesuatu di bahunya yang turun, beban yang dilepaskan, kepercayaan yang dikira tak akan pernah ia rasakan lagi tiba-tiba dikembalikan padanya.
"Kamu yakin," katanya, dan itu bukan pertanyaan, lebih seperti ia mencoba memercayainya.
"Lempar saja," kata Arka, mengulang kata-kata Yoga sendiri. "Aku yang menangkap."
Yoga menatapnya lama, lalu mengangguk—satu kali, dalam, sebuah perjanjian yang lebih kuat dari kontrak mana pun. "Kalau begitu," katanya, suaranya kembali mengeras tapi kini ada sesuatu yang hidup di baliknya, "kita punya kejuaraan untuk dimenangkan. Berdua."
Ketika Arka menyampaikan keputusannya pada Darma dan Hasan, Darma mengangguk profesional dan langsung bicara soal program latihan. Tapi Hasan—Hasan menatap Arka lama, dan sesuatu bergerak di wajah tua itu, sesuatu yang dalam, sesuatu yang hampir seperti pria yang melihat penebusannya sendiri berjalan di hadapannya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan tangannya yang berlumur lem bertahun-tahun di bahu Arka, dan menepuknya pelan, sekali. Dan dalam tepukan itu Arka merasakan sesuatu yang tak ia mengerti penuh—bahwa pilihan yang baru ia buat menyentuh luka lama Hasan, luka yang belum pernah pria itu ceritakan, dengan cara yang akan ia pahami nanti.