Kabar pilihan Arka menyebar di kalangan atlet kualifikasi seperti angin yang menempel di banking. Anak panti dari velodrom sekarat melepas keirin individual—di mana ia sudah kedua nasional—demi madison beregu. Sebagian menganggapnya bodoh. Membuang jalur bintang demi membagi cahaya. Sebagian lain tak peduli. Tapi satu orang tak bisa berhenti memikirkannya, dan orang itu adalah Senna Rais.
Senna mendengarnya dari seorang atlet lain di paddock, dan untuk sesaat ia mengira itu lelucon. Arka melepas keirin? Arka, yang setengah roda di belakangnya di final meski tubuhnya terkuras dua nomor dalam sehari? Arka, yang punya kaki yang—Senna mengakuinya diam-diam—kalau utuh mungkin bisa mengalahkannya? Anak itu membuang kesempatan menjadi bintang nasional, demi balapan tim dengan partner yang baru ia kenal dua bulan.
Senna mencari Arka dan menemukannya di tepi lintasan, sedang memeriksa sepeda madisonnya bersama Yoga. Ia berdiri di kejauhan beberapa saat, mengamati. Dua pria itu bekerja dalam keheningan yang nyaman, mengecek baut, tekanan ban, posisi handsling—gerakan-gerakan kecil dari orang yang saling percaya. Senna merasakan sesuatu yang asing dan tak nyaman di dadanya, dan butuh beberapa saat baginya untuk mengenali apa itu.
Iri.
Ia tak pernah punya itu. Selama ini ia menyebut kesendiriannya sebagai kekuatan, baju zirah, cara untuk tak pernah dikecewakan setelah timnya meninggalkannya saat ia cedera junior dulu. Ia membangun seluruh kariernya di atas keyakinan bahwa percaya pada orang lain adalah kelemahan yang berakhir dengan ditinggalkan. Dan ia menang. Ia menang banyak. Sendirian. Tapi berdiri di sana, menonton Arka dan Yoga, ia menyadari bahwa ia tak pernah, satu kali pun, merasakan apa yang dua orang itu rasakan sekarang. Tak pernah punya tangan yang ia tahu pasti akan menangkapnya di mulut banking.
Ketika Arka mendongak dan melihatnya, Senna mendekat. Yoga, membaca situasi, mengangguk pendek dan menjauh untuk memberi mereka ruang.
"Kamu melepas keirin," kata Senna. Bukan pertanyaan, lebih seperti tuduhan, atau mungkin pengakuan.
"Ya," kata Arka.
"Kenapa." Suara Senna keras, hampir marah, dan Arka menyadari kemarahan itu bukan ditujukan padanya. "Kamu bisa mengalahkanku. Kalau kamu fokus, kalau kamu segar, di kejuaraan utama—aku tahu kamu bisa. Kamu membuang itu. Kenapa?"
Arka meletakkan kunci pasnya dan menatap rivalnya. "Kamu ingat waktu kamu datang ke klinik waktu aku cedera?" katanya pelan. "Kamu bilang timmu meninggalkanmu waktu kamu cedera junior. Itu sebabnya kamu menang sendirian."
Wajah Senna mengeras. "Itu tidak ada hubungannya—"
"Aku tumbuh di panti," potong Arka, tenang. "Anak yang digenggam selalu dilepaskan. Orang datang, mengangkat anak lain, pergi. Aku belajar untuk tidak bersandar pada siapa pun. Sama sepertimu. Kita punya luka yang sama, Senna. Kamu bilang itu sendiri." Ia berhenti. "Bedanya, aku capek hidup begitu. Kamu belum."
Senna terdiam. Sesuatu bergerak di balik matanya—pertahanan yang retak, baju zirah yang dipertanyakan untuk pertama kali.
"Menang sendirian itu aman," lanjut Arka. "Tidak ada yang bisa mengecewakanmu kalau kamu tidak pernah bersandar. Tidak ada yang bisa meninggalkanmu kalau kamu tidak pernah punya tim. Aku mengerti itu, Senna. Aku hidup di dalamnya bertahun-tahun. Tapi itu bukan kekuatan. Itu ketakutan yang kita sebut kekuatan supaya tidak malu." Ia mengangkat sepeda madisonnya. "Aku memilih madison karena aku tidak mau menang dengan mata kosong sepertimu. Maaf. Tapi itu jujur."
Senna membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya kembali. Kata-kata itu menancap terlalu dalam untuk dilawan.
Malam itu, di kamar penginapannya, telepon Senna berdering. Ayahnya. Suara dingin, menuntut, yang sudah Senna kenal seumur hidup. "Aku dengar anak panti itu melepas keirin," kata ayahnya. "Bagus. Satu pesaing kurang. Sekarang kamu menang keirin di kejuaraan utama. Emas. Untuk nama klub. Kamu dengar aku? Emas individual, tidak ada alasan."
Senna memandang ke luar jendela, ke lampu lintasan yang masih menyala samar di kejauhan. "Ya, Pak," katanya otomatis, seperti yang selalu ia katakan.
Tapi setelah telepon ditutup, ia tetap berdiri di jendela, dan kata-kata Arka terus berputar di kepalanya. Menang dengan mata kosong. Ketakutan yang kita sebut kekuatan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Senna mempertanyakan jalan yang selama ini ia anggap satu-satunya. Ia akan menang keirin di kejuaraan utama—ia hampir pasti akan menang, sekarang tanpa Arka di lintasan. Emas individual. Gengsi klub. Kebanggaan ayahnya.
Dan ia tak tahu, untuk pertama kalinya, apakah ia menginginkannya.
Ia memikirkan Arka dan Yoga di tepi lintasan, dua orang yang saling percaya, kemenangan yang dibagi terasa lebih penuh daripada semua emas yang pernah ia menangkan sendirian. Ia memikirkan tim juniornya yang dulu meninggalkannya, dan bagaimana ia bersumpah tak akan pernah memberi siapa pun kesempatan menyakitinya lagi. Sumpah yang membuatnya menang. Sumpah yang membuat matanya kosong.
Senna tak tahu apa yang akan ia lakukan di kejuaraan utama nanti. Tapi untuk pertama kalinya, retakan kecil muncul di keyakinan yang ia bangun seumur hidup—retakan yang ditanam anak panti yang memilih membagi cahayanya. Dan retakan, Senna mulai curiga, kadang adalah tempat masuknya hal-hal yang tak pernah kita izinkan masuk sebelumnya.
Di kamar sebelah, Arka tidur nyenyak untuk pertama kali sejak kualifikasi dimulai. Ia sudah memilih. Madison. Yoga. Menang bersama, bukan sendiri. Dan besok pagi mereka akan pulang ke Bandung, ke velodrom kayu yang mulai bernapas dari bawah, ke panti yang masih harus diperjuangkan dengan kertas dan banyak tangan kecil, ke Doni yang menunggu, ke kejuaraan utama yang menanti di ujung jalan. Pertarungan masih panjang. Lututnya masih rapuh. Tanah panti masih terancam. Tapi untuk pertama kalinya sejak hari pertama di papan kayu sekarat itu, Arka tahu satu hal dengan pasti: ke mana pun ia melaju selanjutnya, ia tidak akan melaju sendirian.