Mereka pulang ke Bandung di sore yang kelabu, dan velodrom menyambut mereka dengan baunya yang khas—kayu tua, debu, sedikit minyak rantai. Arka langsung naik ke papan untuk meregangkan kaki yang kaku setelah perjalanan, tapi Hasan memanggilnya turun. Pria tua itu duduk di bangku reparasi, di bawah lampu gantung yang satu bohlamnya mati, dan di tangannya ada sesuatu yang belum pernah Arka lihat: sebuah amplop cokelat lusuh, sudutnya keriting dimakan tahun.
"Kamu memilih madison," kata Hasan. Bukan pertanyaan. "Dan waktu kamu mengumumkannya, aku menepuk bahumu. Kamu lihat aku gemetar."
Arka mengangguk pelan. Ia memang melihatnya, di kualifikasi itu—tangan tua yang menyentuh bahunya sejenak terlalu lama, lalu menarik diri seolah tersengat.
Hasan membuka amplop dan mengeluarkan kliping koran yang menguning. Foto buram: dua pemuda di atas sepeda lintasan, lengan saling kait di mulut banking, salah satunya tersenyum lebar dengan rambut basah keringat. Arka mengenali yang kiri. Wajah Hasan tiga puluh tahun lebih muda, tanpa garis pahit, tanpa pincang.
"Namanya Broto," kata Hasan. Suaranya rendah, datar, seperti orang membaca daftar barang. "Pasangan madisonku. Kami tumbuh di lintasan ini bersama. Dia yang mengajariku handsling pertama kali, di papan yang sama yang kamu injak tiap hari." Ia berhenti, jarinya menelusuri foto. "Tahun sembilan puluh enam, kejuaraan nasional. Kami unggulan. Aku yang punya kaki, dia yang punya kepala."
Arka duduk perlahan di bangku seberang. Mei, yang sedang menggulung selang kompresor di sudut, berhenti dan diam.
"Tiga lap terakhir," lanjut Hasan, "kami di posisi dua. Rencananya dia melempar aku ke serangan, aku menahan sampai bel, dia menjemputku. Itu yang kami latih ribuan kali." Ia menelan ludah. "Tapi di lap terakhir aku melihat celah. Celah yang tak kami rencanakan. Kalau aku menyerang sekarang, sendirian, tanpa menunggu Broto, aku bisa menang. Aku—" suaranya tersendat untuk pertama kali, "—aku tidak mau membaginya. Aku ingin garis itu jadi milikku saja. Aku menyerang lebih cepat dari yang disepakati."
"Dan?" Arka bertanya, meski sesuatu di dadanya sudah tahu.
"Broto datang menjemputku di tempat yang kami sepakati, di kecepatan yang kami sepakati. Tangannya terulur. Tapi aku sudah di depan, melaju lebih kencang dari yang ia kira, dan ketika tangan kami bertemu—" Hasan menutup matanya, "—timing-nya salah setengah detik. Karena aku. Roda belakangnya menyentuh roda depanku di mulut banking empat puluh dua derajat."
Arka merasa perutnya dingin. Ia tahu apa yang terjadi pada roda yang bersentuhan di banking. Semua orang di lintasan tahu.
"Kami berdua terlempar ke pagar," kata Hasan. "Aku kehilangan kaki kiriku—bukan amputasi, tapi tak pernah benar lagi, kamu lihat sendiri tiap hari. Broto lebih parah. Tulang punggungnya. Ia tak pernah naik sepeda lagi. Tak pernah berjalan tanpa tongkat lagi." Ia melipat kliping itu dengan hati-hati, seolah kertas itu bisa pecah. "Dia tak pernah menyalahkanku. Itu bagian terburuknya. Dia menjengukku di rumah sakit dan bilang, 'Bukan salahmu, San, itu balapan.' Tapi aku tahu. Aku yang mengubah timing. Aku yang serakah. Aku menghancurkan kami berdua karena tak mau membagi satu garis finis."
Lama tak ada yang bicara. Lampu yang satu mati berkedip pelan. Di luar, suara motor lewat di jalan, lalu sunyi lagi.
"Sejak itu aku menjaga papan ini," kata Hasan akhirnya. "Seperti menjaga makam. Dan setiap kali ada anak masuk ke lintasan ini, aku menanamkan satu hal di kepalanya sampai bosan: balap lintasan bukan tentang kaki. Bukan tentang menang sendirian. Tangan yang kamu sambut di banking adalah nyawamu dan nyawa rekanmu, dan kalau kamu serakah satu detik saja, kamu bisa membunuh orang yang percaya padamu." Ia menatap Arka lurus. "Aku tidak mengajarimu tim karena itu indah. Aku mengajarimu tim karena aku tahu persis apa yang terjadi kalau kamu melupakannya."
Arka menatap pria tua di hadapannya, dan untuk pertama kalinya seluruh keras kepala Hasan, seluruh omelannya soal kepercayaan dan sabar dan handsling yang harus diulang ratusan kali—semuanya masuk akal. Itu bukan teori pelatih. Itu luka yang berjalan dengan tongkat selama tiga puluh tahun.
"Waktu kamu memilih madison di kualifikasi," kata Hasan, suaranya melembut, "kamu memilih nomor yang menghancurkan hidupku. Tapi kamu memilihnya karena alasan yang benar. Kamu memilih membagi cahaya, bukan merebutnya. Itu sebabnya aku gemetar, Arka. Bukan karena takut. Karena untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun aku melihat seseorang masuk ke nomor itu dengan kepala yang benar."
Arka tak tahu harus berkata apa. Maka ia melakukan hal yang tak pernah ia lakukan: ia mengulurkan tangan ke pundak pria tua itu, persis seperti Hasan menepuk bahunya di kualifikasi. Hasan tak menarik diri kali ini.
"Broto masih hidup?" tanya Arka.
"Masih. Di Cimahi. Aku belum berani menemuinya sejak sepuluh tahun lalu." Hasan memandang papan kayu yang miring di kegelapan. "Mungkin kalau madison-mu di kejuaraan utama nanti bagus—mungkin aku akan berani." Ia tersenyum tipis, getir. "Aku tahu satu medali tidak menyembuhkan tulang punggung. Tapi mungkin ia bisa menyembuhkan sesuatu yang lain. Pada keduanya."
Malam itu Arka tidur di garasi, di kasur tipis di sudut, dan ia lama menatap papan kayu yang samar diterangi cahaya jalan dari jendela atas. Ia memikirkan Yoga, tangan yang akan ia sambut di banking ibu kota nanti, dan ia berjanji pada dirinya sendiri—dengan kejujuran yang menusuk—bahwa apa pun yang terjadi, ia tak akan pernah, satu detik pun, menjadi orang yang serakah di mulut banking. Madison-nya akan membawa luka pelatihnya pulang, bukan menambah luka baru. Itu, ia mulai mengerti, adalah arti sebenarnya dari menang bersama.