Malam terakhir sebelum berangkat ke ibu kota, garasi velodrom menyala lebih terang dari biasanya. Hasan telah mengganti bohlam yang mati, dan cahaya kuning hangat menumpahi meja kerja yang penuh ban, kaleng lem, kunci pas, dan tabung-tabung sealant. Bau lem tubular yang tajam dan manis mengisi ruangan—bau yang bagi Arka kini terasa seperti rumah lebih dari apa pun.
Yoga datang jam tujuh, membawa tas roda dan wajah seriusnya yang biasa. Ia tinggal di kota lain, tapi malam ini ia memutuskan menyiapkan sepeda di Rajawali, bersama. Itu sendiri sebuah pernyataan; dua bulan lalu ia tak sudi menginjak lintasan kayu tua ini. Sekarang ia menggelar handuk di meja, menata kunci-kuncinya berderet rapi, dan mulai bekerja di samping Arka tanpa banyak kata.
"Tekanan ban madison," kata Yoga, memeriksa manometer. "Lintasan ibu kota lebih halus dari ini. Kita bisa naikkan sedikit, kurangi rolling resistance."
"Berapa?"
"Delapan koma lima bar di belakang. Depan delapan." Yoga menatapnya. "Tapi kalau lintasan dingin pas final, turunkan setengah bar. Karet keras di lintasan dingin gampang selip di banking."
Arka mengangguk, menyimpan angka itu. Inilah hal yang dulu ia remehkan—obrolan gigi dan bar dan derajat—dan kini ia menyerapnya seperti orang haus. Mei sudah mengajarinya bahwa keputusan di garasi bisa sepenting kaki, dan ia tak ingin kalah karena lupa setengah bar.
Mei sendiri sibuk di ujung meja, mengelem tubular cadangan. Ia bekerja dengan ketelitian yang membuat Arka iri—mengoleskan lem tipis-tipis di dasar pelek dan di pita ban, menunggunya setengah kering, lalu memasang ban dengan ibu jari yang kuat, memutar pelek perlahan sambil menekan agar lem merata tanpa gelembung. "Ban yang dilem buru-buru bisa lepas di banking," katanya tanpa diminta, lebih untuk Doni yang menonton daripada untuk Arka. "Dan ban yang lepas di empat puluh dua derajat sama dengan tulang yang patah. Jadi kita tidak pernah buru-buru di sini."
Doni duduk di kursi plastik, matanya tak lepas dari tangan Mei. Empat anak panti lain berdesakan di belakangnya, mengintip dari balik bahu, sesekali berbisik. Bocah empat belas tahun itu sudah datang ke velodrom hampir tiap sore sejak Arka mulai melatihnya, dan malam ini ia datang membawa adik-adiknya, seolah menyiapkan sepeda untuk kejuaraan nasional adalah upacara yang tak boleh dilewatkan.
"Kak Arka," kata Doni, "kalau handsling-nya gagal di lomba beneran, gimana?"
Arka berhenti memutar pedal yang sedang ia periksa. Pertanyaan itu menusuk tepat di tempat yang sakit—ketakutannya sendiri, dan luka Hasan. Ia menatap Yoga sebentar. Yoga membalas tatapannya, tenang.
"Kami latih supaya tidak gagal," kata Arka akhirnya. "Tapi kalau gagal, kami sudah sepakat satu hal. Yang melempar tidak boleh serakah, dan yang dijemput tidak boleh ragu. Dua-duanya salah kalau cuma satu yang dipercaya." Ia mengusap rambut Doni. "Itu yang membuat tim, Don. Bukan tangan yang kuat. Tangan yang jujur."
Dari sudut ruangan, Hasan mendengarkan tanpa berkomentar, tapi Arka melihat sesuatu melembut di wajah tuanya.
Mereka bekerja sampai larut. Arka memeriksa setiap baut sepeda madisonnya satu per satu, mengencangkan dengan kunci momen sampai bunyi klik—stem, sadel, crank, hub. Ia memeriksa rantai, menghitung gigi sproket, mencocokkan rasio yang sudah ia dan Yoga sepakati: lebih ringan dari keirin, karena madison butuh akselerasi berulang ratusan kali, bukan satu ledakan tunggal. Empat puluh sembilan belas, gear yang cukup ringan untuk melontar keluar dari handsling tapi cukup berat untuk menahan kecepatan di sprint poin. Yoga memeriksa ulang setelahnya, dan Arka memeriksa milik Yoga, dan tak satu pun dari mereka tersinggung. Itu juga bagian dari kepercayaan: membiarkan orang lain memeriksa pekerjaanmu, dan memeriksa pekerjaannya, tanpa merasa diragukan.
Menjelang tengah malam, dua sepeda madison berdiri bersandar di rak, mengilap di bawah lampu kuning, ban baru direkat sempurna, setiap baut dikencangkan, setiap rasio dihitung. Anak-anak panti sudah tertidur di bangku tribun, berhimpitan seperti anak kucing. Mei menyelimuti mereka dengan jaket-jaket. Hasan menuang teh dari termos ke gelas-gelas kaleng dan membagikannya.
"Tiga puluh tahun," kata Hasan pelan, menatap velodrom yang dulu sunyi seperti makam. "Tiga puluh tahun aku menyiapkan sepeda di garasi ini sendirian. Tak ada suara. Tak ada anak. Cuma aku dan papan kayu yang menghitung mundur hari kehancurannya." Ia menyeruput tehnya. "Sekarang lihat. Garasi penuh. Anak-anak tidur di tribun. Dua sepeda siap berangkat ke panggung tertinggi." Suaranya tercekat sedikit. "Aku tidak tahu kalian akan menang. Tapi malam ini saja, ruangan ini, ini sudah lebih dari yang aku berani harapkan dalam tiga dekade."
Arka memegang gelas tehnya yang hangat dan menatap sekeliling—Yoga yang serius mengelap tangannya, Mei yang tersenyum lelah, Doni yang tidur dengan mulut terbuka, Hasan dengan matanya yang basah. Untuk seorang anak yang tumbuh belajar tak bersandar pada siapa pun, ruangan ini terasa hampir terlalu penuh, hampir terlalu hangat. Ia teringat kurir yang dulu mengayuh sendirian di antara macet, mengira sendiri adalah satu-satunya cara aman untuk hidup.
"Besok kita berangkat," kata Arka, lebih untuk dirinya sendiri daripada siapa pun. "Tapi apa pun yang terjadi di sana—" ia berhenti, menelan sesuatu di tenggorokannya, "—aku sudah menang malam ini. Tempat ini hidup lagi. Itu yang aku perjuangkan."
Hasan mengangkat gelasnya, dan satu per satu mereka menyentuhkan gelas kaleng yang berdenting pelan, tak membangunkan anak-anak. Di luar, Bandung tertidur. Di dalam, velodrom kayu yang sekarat bernapas, penuh, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun.