Velodrom nasional di ibu kota membuat Rajawali terlihat seperti gubuk yang dilupakan. Arka berdiri di mulut terowongan masuk dan menatap ke dalam, dan untuk beberapa detik ia lupa cara bernapas.
Lintasannya bukan kayu tua yang catnya mengelupas. Ini kayu Siberia mengilap, dipoles sampai memantulkan lampu sorot seperti danau, dua ratus lima puluh meter sempurna dengan banking yang naik mulus tanpa cacat. Lampu LED menggantung dalam grid rapi di langit-langit, menghapus setiap bayangan, membuat lintasan bercahaya seperti panggung. Tribun-tribun melingkar, bukan beberapa puluh kursi berdebu seperti di rumah, tapi ribuan, menjulang ke atas dalam warna biru dan merah. Papan skor digital raksasa menggantung di tengah, menampilkan jadwal dan waktu dalam angka-angka yang berkedip rapi.
"Tutup mulutmu," gumam Yoga di sampingnya, tapi suaranya juga sedikit serak. "Kamu seperti anak kampung yang baru lihat lampu kota."
"Aku memang anak kampung yang baru lihat lampu kota," balas Arka. Tapi mereka berdua tahu Yoga sama terpananya.
Mereka mendorong sepeda madison melewati paddock, dan di sinilah jurang itu terasa paling tajam. Di kanan-kiri, tim-tim besar membangun markas mereka. Tenda-tenda dengan logo sponsor mengkilap. Deretan sepeda mahal, masing-masing dengan roda cakram aerodinamis seharga sepeda motor. Mekanik berseragam berdiri di samping kompresor portabel dan layar laptop yang menampilkan grafik tenaga. Ada pelatih dengan tablet, ada ahli fisiologi dengan alat ukur laktat, ada masseur memijat paha atlet di meja lipat. Satu tim bahkan punya tenda pendingin dengan AC portabel, tempat para pembalapnya duduk dengan rompi es untuk menjaga suhu tubuh sebelum lomba.
Arka dan Yoga menemukan sudut kecil di ujung paddock—dua bangku lipat, satu kotak peralatan, satu termos teh yang dibawa Hasan dari rumah. Itu saja. Hasan menyandarkan tongkatnya ke dinding dan mulai menata kunci-kunci dengan tenang, seolah ini garasi Rajawali, seolah tak ada apa pun di sekitar mereka yang lebih besar atau lebih mengkilap.
Seorang pembalap dari tim sebelah—jersey penuh logo, kacamata mahal di dahi—melirik sepeda mereka dan ban yang dilem tangan, lalu tersenyum tipis sebelum berpaling. Bukan permusuhan. Lebih buruk. Pengabaian. Mereka tak dianggap ancaman. Mereka bahkan tak dianggap.
Arka merasa wajahnya panas. Ia mengenal tatapan itu—tatapan yang sama yang dulu diberikan pembalap klub berbaju mengkilap padanya di perempatan lampu merah, sebelum ia menyalip mereka. Tatapan yang bilang kamu bukan dari sini.
"Mereka tidak takut pada kita," kata Arka pelan, lebih ke Hasan daripada Yoga.
Hasan tak mendongak dari kunci-kuncinya. "Bagus," katanya.
"Bagus?"
"Lawan yang tidak takut padamu tidak menyiapkan diri untukmu." Hasan akhirnya menatap mereka berdua. "Mereka punya staf, teknologi, roda seharga motor, masseur, AC. Kalian punya satu hal yang tidak mereka punya: tidak ada yang menonton kalian. Tidak ada yang merancang strategi untuk menghentikan kalian. Mereka sibuk saling mengukur di antara unggulan. Kalian tak ada di radar mereka." Ia mengetuk papan skor dengan dagunya. "Di madison, balapan kacau dengan dua puluh pasang pembalap, hal paling berbahaya adalah pembalap yang tak diperhitungkan. Karena waktu dia menyerang, tak ada yang sudah bersiap menutupnya."
Yoga menyilangkan tangan, memikirkannya. "Jadi ketidakberbiayaan kita jadi senjata."
"Ketidakberbiayaan kalian jadi kamuflase," koreksi Hasan. "Kalian masuk sebagai bayangan. Kalian main sabar, kalian sembunyi di tengah peloton, kalian tidak menarik perhatian. Dan di satu momen yang aku pilih—" ia mengangkat satu jari, "—kalian keluar dari bayangan, satu serangan, di tempat yang tak ada yang menjaga. Itu satu-satunya cara tim seperti kita mengalahkan tim seperti mereka. Bukan dengan bertarung terbuka. Dengan kesabaran dan satu pisau yang tajam."
Arka menatap lintasan mengkilap yang membentang seperti danau cahaya, lalu menatap ban tubular yang dilem tangan oleh Mei semalam, lalu menatap dua bangku lipat yang jadi seluruh markas mereka. Sesuatu di dadanya yang tadi panas oleh malu perlahan mengeras jadi sesuatu yang lain. Bukan kemarahan. Ketenangan. Sebuah niat dingin.
Ia pernah jadi bayangan seumur hidupnya. Anak panti yang dilewati orang. Kurir yang tak diperhatikan di antara macet. Anak jalanan beruntung yang diremehkan Senna. Selama ini bayangan terasa seperti kutukan. Sekarang, untuk pertama kali, Hasan mengajarinya bahwa bayangan bisa jadi tempat sembunyi yang mematikan.
"Mereka kira kita di sini cuma untuk ikut serta," kata Arka.
"Biarkan mereka berpikir begitu sampai bel terakhir," kata Hasan. Lalu, untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di gedung megah itu, pria tua itu tersenyum—senyum tipis penuh ancaman lama seorang mantan pembalap. "Sekarang dorong sepeda kalian ke pemanasan. Kita akan jadi tim termiskin di paddock ini, dan kita akan membuat tim-tim kaya itu menyesal tak pernah menoleh."
Mei, yang baru tiba dengan kartu akreditasinya sendiri—ia juga lolos di nomor endurance, dan akan turun lusa—berjalan menghampiri sambil membaca papan jadwal. "Penyisihan madison besok sore," katanya. "Keirin individual besok pagi." Ia menatap Arka. "Senna ada di daftar keirin."
Arka mengangguk pelan. Tentu saja Senna ada di sana. Menang individual, demi gengsi klub, demi ayahnya. Jalan yang Arka tinggalkan. Ia memikirkan rivalnya berdiri sendirian di lintasan mengkilap ini, dikelilingi staf yang dibayar ayahnya, dengan mata yang Arka tahu pasti akan kosong.
"Aku mau menemuinya sebelum dia balapan," kata Arka, lebih ke dirinya sendiri.
Yoga meliriknya. "Dia rivalmu."
"Dulu," kata Arka. Ia mendorong sepeda madisonnya ke arah ruang pemanasan, ban tubular yang dilem tangan berdesir pelan di lantai mengkilap arena besar yang tak menganggap mereka ada. "Sekarang dia cuma orang yang lupa caranya tidak sendirian. Aku pernah jadi orang itu."