Pagi-pagi, sebelum keirin Senna dan sebelum penyisihan mereka sendiri, Hasan mengumpulkan Arka dan Yoga di sudut paddock dengan sebuah tablet pinjaman dari Mei. Di layarnya ada rekaman-rekaman madison dari kejuaraan tahun lalu, dan catatan tulisan tangan Hasan di buku tipis yang sudutnya sudah lecek. Pria tua itu mungkin tak punya staf analis, tapi ia punya tiga puluh tahun mata yang membaca lintasan.
"Ada tiga tim yang harus kalian khawatirkan," kata Hasan, membuka bukunya. "Sisanya peserta. Tiga ini predator."
Ia memutar rekaman pertama. Dua pembalap dalam jersey biru tua, bergerak seperti satu organisme—handsling mereka begitu mulus sampai nyaris tak terlihat, tangan bertemu dan melepas dalam sepersekian detik tanpa kehilangan kecepatan sedikit pun. "Tim ibu kota. Pasangan ini sudah balapan bersama enam tahun. Mereka tidak punya kelemahan teknis. Handsling mereka seperti bernapas. Strategi mereka: kontrol balapan dari depan, diktekan tempo, buat semua orang lelah mengejar."
"Bagaimana cara mengalahkannya?" tanya Yoga.
"Tidak bisa, dengan teknik," jawab Hasan jujur. "Mereka lebih baik dari kalian dalam segala hal yang bisa dilatih dalam dua bulan. Tapi enam tahun bersama membuat mereka bisa ditebak. Mereka selalu menyerang di lap dua puluh sesuatu, selalu mengambil sprint poin di interval yang sama, selalu satu pembalap di depan satu di belakang dengan pola yang sama. Mereka mesin. Mesin tidak melakukan hal gila. Kalian bisa melakukan hal gila."
Ia memutar rekaman kedua. Jersey merah, satu pembalap jauh lebih besar dari yang lain. "Tim ini punya satu sprinter monster. Strateginya kasar: simpan si monster, lempar dia di sprint-sprint poin besar, kumpulkan poin dari kekuatan murni. Bahaya mereka bukan taktik, tapi tenaga mentah. Kalau si monster keluar di sprint, jangan coba lawan langsung. Kalian akan kalah dan buang tenaga."
Rekaman ketiga: jersey hijau, dua pembalap kurus yang tak pernah di depan, selalu menempel di belakang, hemat tenaga. "Tim penyabar. Mereka bersembunyi sepanjang balapan, biarkan yang lain berkelahi, lalu mencuri di lap terakhir saat semua sudah lelah. Mirip rencana kita, sebenarnya. Itu yang berbahaya—mereka bermain permainan yang sama dengan kita, dan mereka lebih berpengalaman memainkannya."
Arka menatap layar, menyerap pola-pola itu. Inilah dirinya yang baru, yang lahir dari cedera dan dari bulan-bulan menonton dari pinggir lintasan saat lututnya tak bisa balapan. Dulu ia hanya percaya kaki. Sekarang ia membaca punggung, membaca pola, membaca rencana orang lain seperti membaca papan catur. Cedera, ironisnya, telah menajamkan kepalanya.
"Jadi tiga predator," kata Arka. "Mesin biru yang sempurna tapi bisa ditebak. Monster merah yang kuat tapi kasar. Pencuri hijau yang sabar seperti kita tapi lebih berpengalaman." Ia mengangkat wajah. "Kelebihan kita cuma satu, kan? Aku tidak terprediksi."
Hasan menutup bukunya dan menatapnya. "Bukan cuma kamu tidak terprediksi. Kamu tidak ada di rencana siapa pun. Tiga tim itu sudah saling pelajari berbulan-bulan. Mereka punya rencana untuk satu sama lain. Tak satu pun punya rencana untuk kalian, karena tak ada yang menganggap kalian bisa sampai akhir." Ia mencondongkan badan. "Inilah strategi kita, dan ini satu-satunya yang bisa menang. Sepanjang balapan, kalian jadi peserta. Kalian menempel di tengah peloton, kalian ambil handsling dengan aman, kalian tidak pernah menyerang, kalian tidak pernah mengambil sprint poin. Kalian boring. Kalian numpang lewat. Biarkan tiga predator itu saling membakar tenaga berkelahi memperebutkan poin di depan."
"Dan kapan kita menyerang?" tanya Yoga.
"Sekali," kata Hasan, mengangkat satu jari seperti kemarin. "Tiga lap menjelang akhir. Saat tiga predator sudah lelah saling berkelahi, saat semua mata mengawasi satu sama lain dan tak ada yang mengawasi bayangan di tengah—aku akan memberi isyarat. Yoga melempar Arka ke serangan tunggal, satu-satunya serangan kita sepanjang balapan, di tempat yang tak ada yang menjaga. Arka melepas seluruh pelurunya yang sudah ia simpan sepanjang lomba. Sekali. Sempurna. Di waktu yang persis benar."
Arka merasakan sesuatu mengerut di perutnya—campuran takut dan haus. Satu serangan. Satu lemparan. Seluruh balapan bertumpu pada satu handsling yang harus mulus dan satu ledakan kaki yang harus tepat. Tak ada margin untuk salah. Tak ada kesempatan kedua. Dan itu adalah handsling, gerakan yang dulu nyaris membunuhnya, gerakan yang menghancurkan Hasan dan Broto tiga puluh tahun lalu.
"Kalau lemparannya gagal," kata Arka pelan, "kita kehilangan satu-satunya kesempatan."
"Ya," kata Hasan, tak melembutkannya. "Itu sebabnya kalian latih lagi malam ini. Bukan ratusan. Sampai tangan kalian tahu satu sama lain dalam tidur." Ia menatap mereka berdua bergantian. "Tim biru bisa handsling karena enam tahun bersama. Kalian punya dua bulan. Tapi kalian punya sesuatu yang mereka tidak punya. Mereka handsling karena terbiasa. Kalian handsling karena kalian memilih untuk percaya, dengan susah payah, dari nol. Itu lebih kuat. Kepercayaan yang dipilih lebih kuat dari kebiasaan."
Yoga menatap Arka, dan untuk pertama kalinya sejak mereka dipasangkan, tak ada keraguan di matanya. "Dua bulan lalu aku tidak mau menyentuh tanganmu," kata Yoga datar. "Sekarang aku akan melempar kamu ke serangan yang menentukan seluruh balapan kita." Ia mengulurkan tangan. "Aneh."
Arka menjabatnya. Genggaman seorang partner. "Aneh," ia setuju.
Di belakang mereka, Hasan menyimpan bukunya yang lecek, dan untuk sesaat matanya melayang ke kliping menguning yang masih ada di saku jaketnya—Broto, tangan terulur, senyum lebar. Tiga puluh tahun lalu sebuah handsling menghancurkan dua hidup. Besok, mungkin, sebuah handsling akan mulai menyembuhkan apa yang bisa disembuhkan. Ia tak mengatakannya pada kedua anak muda itu. Ia hanya menatap mereka berlatih membayangkan lemparan di udara, dan berdoa diam-diam pada papan kayu yang telah ia jaga seumur hidupnya.