Keirin individual digelar pagi itu, dan Arka berdiri di tepi lintasan untuk menontonnya, sepeda madisonnya bersandar di pagar. Ia tak harus ada di sini—penyisihannya sendiri baru sore nanti—tapi ia datang untuk satu alasan yang tak sepenuhnya ia mengerti. Ia ingin melihat Senna.
Ia menemukan rivalnya di area persiapan, dan apa yang ia lihat membuat dadanya terasa aneh. Senna duduk sendiri di tenda timnya—tenda termahal di paddock, penuh logo sponsor ayahnya—dikelilingi staf yang sibuk: seorang pelatih dengan tablet, seorang masseur, seorang mekanik yang mengelap roda cakramnya yang berkilau. Tapi tak satu pun dari mereka benar-benar bersama Senna. Mereka bekerja di sekitarnya, untuk-nya, seperti kru menyiapkan mesin. Senna duduk di tengah semua itu dengan tatapan yang Arka kenal terlalu baik. Kosong. Sendirian di tengah keramaian yang dibayar untuk melayaninya.
Arka mendekat. Salah satu staf hendak menghalanginya, tapi Senna mengangkat tangan, mengizinkannya lewat.
"Datang menonton aku menang?" tanya Senna. Nadanya hendak terdengar tajam, tapi tak ada tenaga di dalamnya.
"Datang melihat kamu," jawab Arka, dan duduk di bangku lipat di samping. "Penyisihanku sore. Aku punya waktu."
Mereka diam sebentar. Di lintasan, heat pertama keirin sedang berlangsung—motor derny menderu di depan, menarik para pembalap dalam barisan rapat, kecepatan naik perlahan sebelum motor minggir dan kaos mereka meledak dalam sprint terakhir. Senna menontonnya tanpa benar-benar melihat.
"Ayahku terbang dari Jakarta untuk menonton," kata Senna akhirnya, pelan. "Dia duduk di tribun VIP. Tadi dia mengirim pesan. Bukan 'semoga sukses'. Bukan 'jaga kondisimu'. Cuma satu kata." Senna menunjukkan layar ponselnya. Satu kata: Emas.
Arka membacanya dan tak berkata apa-apa.
"Aku hampir pasti menang," lanjut Senna, dan anehnya tak ada kebanggaan di suaranya, hanya kelelahan. "Kamu tidak di sini—maksudku, di nomor ini. Tomo si veteran kotor itu sudah tersingkir di kualifikasi. Tak ada yang bisa menandingiku di keirin hari ini. Aku akan menang. Aku akan dapat emas. Ayahku akan tersenyum di tribun VIP, untuk pertama kalinya dalam—aku tak ingat kapan." Ia menatap kedua tangannya. "Dan aku tak merasakan apa-apa."
Arka teringat kata-katanya sendiri di kualifikasi. Menang dengan mata kosong. Ia tak mengulanginya. Ia tak perlu. Mereka berdua tahu kalimat itu menggantung di udara di antara mereka.
"Kemarin malam aku menonton rekaman madison-mu yang akan turun sore," kata Senna, mengejutkan Arka. "Kamu dan Yoga. Latihan handsling kalian masih kasar. Kalian akan kesulitan melawan tim biru." Ia berhenti. "Tapi aku terus memutar ulang satu bagian. Bagian di mana Yoga melempar kamu, dan kamu—kamu tidak ragu menyambut tangannya. Tidak sedetik pun. Kamu menyerahkan rodamu pada orang lain seolah itu hal paling alami di dunia." Suara Senna menipis. "Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak pernah bisa. Aku sudah mencoba mempercayai satu orang seumur hidupku—timku waktu junior—dan mereka meninggalkanku saat aku jatuh. Sejak itu aku tak pernah lagi menyerahkan rodaku pada siapa pun."
"Dan kamu menang banyak," kata Arka.
"Dan aku menang banyak." Senna tertawa pendek, getir. "Dan tak satu pun terasa seperti apa pun."
Arka memandang rivalnya—pemuda dua puluh tahun dengan semua yang ia sendiri tak punya, sponsor, fasilitas, ayah yang hadir di tribun, dan tetap saja lebih sendirian dari Arka pernah merasa. Ia teringat panti, anak yang digenggam lalu dilepaskan, dan ia teringat malam-malam awal di velodrom saat ia masih mengira tim adalah kelemahan. Ia dan Senna memang punya luka yang sama, persis seperti yang ia katakan di kualifikasi. Bedanya hanya Arka sudah lelah lebih dulu.
"Aku tidak akan bilang menang itu salah," kata Arka pelan. "Kamu mungkin menang emas hari ini, dan itu bagus. Itu kerja kerasmu. Tapi—" ia memilih kata-katanya hati-hati, "—aku cuma mau kamu menanyakan satu hal pada diri sendiri saat kamu di garis start nanti. Bukan apakah kamu bisa menang. Kamu pasti bisa. Tapi apakah kamu menang untuk dirimu, atau untuk satu kata di layar ponsel itu."
Senna menatapnya lama.
"Aku tidak punya hak menyuruhmu apa-apa," lanjut Arka, berdiri dan mengambil sepeda madisonnya. "Aku cuma anak panti yang beruntung, kan begitu kamu dulu bilang. Tapi aku tahu satu hal yang kamu belum tahu. Menang yang kamu pilih sendiri terasa beda dari menang yang dipilihkan orang. Aku melepas keirin, jalur bintangku, dan itu sakit. Tapi itu pilihanku. Dan untuk pertama kalinya aku tidur nyenyak." Ia mendorong sepedanya. "Semoga sukses, Senna. Sungguh. Apa pun yang kamu pilih di garis itu nanti."
Ia berjalan pergi, dan ia tak menoleh, jadi ia tak melihat Senna menatap punggungnya lama sekali, lalu menatap layar ponselnya dengan satu kata yang dingin, lalu menatap lintasan mengkilap tempat ia hampir pasti akan menang emas demi gengsi orang lain.
Arka tak tahu—belum tahu—bahwa percakapan singkat di tenda itu telah menanam sesuatu yang akan tumbuh diam-diam di kepala rivalnya, dan mengubah sebuah keputusan besar di hari-hari mendatang. Ia hanya mendorong sepeda madisonnya kembali ke sudut paddock yang sempit tempat Yoga dan Hasan menunggu, ke penyisihan yang menanti sore nanti, ke handsling yang masih harus ia sempurnakan, ke seluruh pertarungannya sendiri yang sebentar lagi dimulai. Tapi sesuatu tentang melihat Senna sendirian di tengah semua kemewahan itu membuat Arka, untuk kesekian kalinya, bersyukur pada dua bangku lipat dan satu termos teh dan tiga orang yang menunggunya di sudut termurah arena besar itu.