Penyisihan madison dimulai pukul empat sore, dan saat namanya dipanggil ke lintasan, Arka merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan di lintasan mana pun: kakinya gemetar bukan karena lelah, tapi karena gugup. Arena besar itu penuh. Ribuan suara berdengung di tribun, lampu sorot membakar lintasan jadi danau cahaya, dan dua puluh pasang pembalap berbaris di garis start, masing-masing pasangan diidentikkan dengan nomor punggung dan warna jersey yang sama.
Arka dan Yoga memakai jersey paling sederhana di lintasan—merah polos Rajawali, tanpa logo sponsor besar, hanya tambalan kecil dari komunitas sepeda yang mendanai mereka lewat crowdfunding. Di antara jersey-jersey penuh logo mengkilap, mereka terlihat seperti murid yang lupa memakai seragam.
Format penyisihan: dua heat, masing-masing sepuluh pasang, balapan tiga puluh kilometer dengan sprint poin tiap sepuluh lap. Empat pasang teratas tiap heat lolos ke final. Sederhana di atas kertas. Brutal di lintasan.
Bel berbunyi dan peloton bergerak.
Di sepuluh lap pertama, Arka melakukan persis yang ia takutkan. Gugup membuat tangannya kaku, dan handsling pertama mereka—Yoga melempar Arka untuk bergiliran di depan—canggung. Tangan mereka bertemu setengah detik terlambat, momentum tak tertransfer mulus, dan Arka keluar dari lemparan dengan kecepatan yang lebih lambat dari seharusnya. Mereka kehilangan tiga posisi seketika. Dari pinggir lintasan, Arka sekilas menangkap wajah Hasan yang mengeras.
"Tenangkan tanganmu!" teriak Yoga saat mereka berpapasan di lap berikutnya, Yoga kini di peloton sementara Arka berputar pelan di atas, menunggu giliran. "Kamu memikirkannya terlalu keras! Berhenti berpikir, rasakan saja!"
Arka menelan ludah. Yoga benar. Ia memperlakukan handsling seperti ujian, mengkalkulasi setiap gerakan, dan kalkulasi membuatnya kaku. Ia teringat Hasan: tangan kalian harus tahu satu sama lain dalam tidur. Bukan dipikir. Diketahui.
Sprint poin pertama lewat tanpa mereka—tim biru dan tim merah berebut di depan seperti yang Hasan ramalkan, si monster merah meledak dan merebut poin penuh. Arka dan Yoga membiarkannya. Mereka peserta. Mereka bayangan.
Di lap kedua belas, Arka memutuskan untuk berhenti berpikir. Saat Yoga melayang turun dari banking untuk melemparnya kembali ke peloton, Arka tak mengkalkulasi. Ia hanya melihat tangan rekannya, dan ia ingat ratusan lemparan di garasi Rajawali, ribuan di kepalanya, dan ia membiarkan tubuhnya melakukan apa yang sudah ia latih. Tangan mereka bertemu—telapak menggenggam telapak, Yoga menarik dan melontarkan, momentum mengalir dari satu tubuh ke tubuh lain seperti air—dan Arka meluncur keluar ke dalam peloton dengan kecepatan penuh, mulus, sempurna.
Sesuatu klik di dadanya. Itu dia. Itulah rasanya.
Dari lap itu, sesuatu berubah. Handsling mereka menemukan ritmenya. Bukan sempurna seperti tim biru yang enam tahun bersama, tapi cukup—mulus, dapat diandalkan, percaya. Arka berhenti memperlakukan tangan Yoga sebagai ancaman dan mulai memperlakukannya sebagai kepastian. Mereka bergiliran, satu di peloton sementara yang lain berputar pelan di atas memulihkan napas, lalu bertukar lewat lemparan, lagi dan lagi, seperti dua bagian dari satu mesin yang akhirnya menemukan irama.
Sepanjang balapan mereka tetap menyembunyikan diri di tengah peloton. Tak menyerang. Tak merebut sprint poin. Membiarkan tim-tim besar membakar tenaga. Tapi mereka bertahan, dan di olahraga ini bertahan adalah seni tersendiri—menjaga posisi di kerumunan, tak terjebak di belakang saat ada serangan, tak terlempar saat banking dipenuhi pembalap. Insting jalanan lama Arka, yang dulu berbahaya, kini berguna: ia bisa membaca celah di kerumunan, menyelip, menjaga posisi, persis seperti dulu menyalip macet.
Dengan lima lap tersisa, mereka di posisi delapan—di luar ambang lolos. Yoga, saat mereka berpapasan, memberi isyarat dengan dagunya: sekarang, satu serangan kecil, naik posisi. Bukan serangan besar yang disimpan untuk final—itu untuk nanti—tapi cukup untuk masuk empat besar heat ini.
Di lap ketiga dari akhir, Yoga melempar Arka, dan kali ini lemparan itu sempurna sejak detik pertama. Arka meledak keluar dari banking dengan seluruh tenaga yang telah ia simpan, kakinya—kaki sprinter alami yang Hasan pungut dari perempatan lampu merah—berputar dalam akselerasi mentah yang membuat tribun mendadak ramai. Pembalap-pembalap yang tak menganggapnya ancaman menoleh terlambat. Ia melewati tiga pasang dalam satu setengah lap, naik dari delapan ke lima, lalu ke empat, lalu—saat sprint poin terakhir penyisihan dibunyikan—ia merebut poin yang cukup untuk melempar mereka ke posisi lolos.
Bel terakhir. Mereka melewati garis di posisi empat heat mereka. Lolos. Tipis, dengan napas tersisa sehelai, tapi lolos.
Arka mengayuh pelan untuk mendinginkan napasnya, dadanya naik turun seperti tukang pukul, dan Yoga melayang di sampingnya. Tak ada kata-kata. Yoga hanya mengulurkan tinju, dan Arka membenturkannya, dan itu sudah cukup. Mereka lolos ke final madison Kejuaraan Nasional. Rajawali—velodrom kayu sekarat dengan dua bangku lipat dan termos teh—telah masuk ke final di panggung tertinggi.
Di pinggir lintasan, Hasan berdiri menyandar tongkatnya, dan wajah tuanya yang biasa keras itu retak oleh sesuatu yang nyaris seperti senyum. Di sampingnya Mei melompat-lompat, berteriak, melambai. Dan jauh di seberang, di tepi lintasan lain, Arka menangkap satu sosok berdiri sendirian menontonnya—Senna, yang keirin emasnya entah bagaimana telah usai pagi tadi, kini berdiri diam dengan ekspresi yang Arka tak bisa baca dari kejauhan.
Tapi Arka tak punya waktu memikirkannya. Karena saat ia mengayuh putaran pendinginan, ia merasakan sesuatu yang membuat darahnya membeku sejenak—sebuah denyut tajam dan asing di lutut kanannya, di tempat yang dulu cedera, sebuah peringatan kecil yang ia harap, dengan seluruh hatinya, hanya kelelahan biasa. Ia tak mengatakannya pada siapa pun. Belum. Final masih dua hari lagi. Mungkin tak ada apa-apa.
Mungkin.