Denyut itu tak hilang malam itu. Arka berbaring di kamar penginapan sederhana yang mereka sewa—satu kamar untuk berempat, Hasan, Yoga, Mei tidur di kamar sebelah—dan ia menekuk-lurus lututnya pelan di bawah selimut, berkali-kali, berharap denyut tajam di sisi dalam itu hanya pegal yang akan pergi dengan tidur. Tapi setiap kali ia menekuknya melewati sudut tertentu, rasa nyeri yang familiar dan menakutkan itu menjalar—nyeri yang sama persis yang ia rasakan berbulan-bulan lalu, di ranjang klinik, saat seluruh mimpinya terasa bisa lenyap dalam satu detik ceroboh.
Ligamen. Ia tahu rasanya. Ia sudah hidup dengan lutut ini sejak cedera itu, sudah belajar membaca sinyal-sinyalnya seperti orang membaca cuaca dari langit. Dan sinyal malam ini berkata bahaya.
Pagi berikutnya, ia bangun lebih awal dari yang lain dan menyelinap ke pos medis kejuaraan, berpura-pura sekadar minta plester. Dokter tim medis—seorang perempuan paruh baya dengan tatapan tajam—memeriksanya, menekan titik-titik di sekitar lututnya, memintanya menekuk dan meluruskan, dan wajahnya mengeras dengan cara yang Arka tak suka.
"Ligamen kolateral medial," kata dokter itu. "Bekas cedera lama. Sekarang teriritasi lagi, kemungkinan dari beban penyisihan kemarin. Ada peradangan." Ia menatap Arka lurus. "Kamu turun di final madison?"
"Besok."
Dokter itu menghela napas. "Aku akan jujur padamu, karena kamu pantas tahu. Saat ini kondisinya bukan darurat. Tapi madison itu balapan brutal—sprint berulang, akselerasi mendadak ratusan kali, beban tinggi di banking. Setiap kali kamu meledak keluar dari handsling, kamu membebani ligamen ini di sudut terburuknya." Ia melepas sarung tangannya. "Kalau kamu memaksa besok, ada kemungkinan nyata kamu memperburuk ini secara permanen. Bukan cedera berminggu-minggu seperti dulu. Permanen. Artinya karier sprint penuhmu bisa selesai."
Arka duduk diam. Di luar, suara arena yang mulai bangun—roda diputar, kompresor mendesis, panggilan jadwal lewat pengeras suara.
"Tapi kalau aku tidak memaksa?" tanyanya.
"Kalau kamu istirahat total, kompres, anti-radang, kemungkinan besar pulih dalam beberapa minggu tanpa kerusakan permanen." Dokter itu menatapnya dengan sesuatu seperti simpati. "Saranku sebagai dokter: jangan turun besok. Tarik diri. Lututmu lebih panjang umur dari satu kejuaraan."
Arka menatap kakinya sendiri. Kaki yang Hasan pungut dari perempatan lampu merah. Kaki yang membawanya dari kurir ke final nasional. Kaki yang sekarang, mungkin, harus memilih antara satu balapan dan seluruh masa depannya.
"Apakah kamu wajib melaporkan ini?" tanyanya pelan. "Ke pelatih, ke panitia?"
Dokter itu memandangnya lama. "Tidak, kecuali kamu menyatakan diri tak fit. Ini lututmu, keputusanmu. Aku hanya memberitahumu risikonya." Ia mencatat sesuatu. "Tapi anak muda—satu nasihat di luar medis. Kamu tidak turun sendirian besok, kan? Madison itu beregu."
"Berdua. Aku dan partnerku."
"Maka ini bukan cuma keputusanmu," kata dokter itu, dan kata-kata itu menusuk lebih dalam dari diagnosis. "Apa pun yang kamu putuskan, kamu memutuskannya untuk dia juga."
Arka berjalan keluar dari pos medis dengan kepala penuh, dan untuk beberapa jam ia menyimpannya sendiri. Ia ikut sarapan, ikut briefing pagi Hasan, ikut sesi peregangan ringan, dan tak satu kali pun ia menyebut lututnya. Ia tahu persis kenapa. Kalau ia bilang, Hasan mungkin menariknya. Kalau ia bilang, Yoga mungkin kehilangan kepercayaan—atau lebih buruk, mengasihaninya. Kalau ia bilang, final yang mereka perjuangkan selama dua bulan, final yang membawa Rajawali ke panggung tertinggi untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, bisa lenyap.
Dan ada suara lama di kepalanya, suara anak panti yang belajar tak pernah menunjukkan kelemahan pada siapa pun, karena kelemahan adalah hal yang membuat orang melepaskanmu. Sembunyikan. Tanggung sendiri. Jangan jadi beban. Itu cara ia bertahan hidup selama sembilan belas tahun.
Sepanjang pagi, ia memilah dua jalan di kepalanya, dan keduanya menyakitkan.
Jalan pertama: sembunyikan. Bungkus lutut, minum anti-radang, turun di final, lepas serangan yang disimpan, menangkan medali untuk Rajawali—dan pertaruhkan karier seumur hidupnya pada satu balapan. Pilihan egois yang menyamar jadi pengorbanan. Atau mungkin pengorbanan yang menyamar jadi keegoisan. Ia tak bisa membedakannya lagi.
Jalan kedua: jujur. Beri tahu Yoga, beri tahu Hasan, biarkan mereka memutuskan bersama—dan terima kemungkinan ditarik, kemungkinan mengecewakan satu-satunya partner yang baru ia pelajari percayai, kemungkinan membuang final yang membawa luka Hasan pulang.
Ia duduk di sudut paddock yang sepi, menatap lututnya yang dibungkus celana balap, dan ia teringat dua hal sekaligus. Ia teringat kata dokter: kamu memutuskannya untuk dia juga. Dan ia teringat seluruh perjalanannya—Hasan yang mengajarinya bahwa serakah di mulut banking bisa membunuh orang yang percaya padamu. Yoga yang berkata dua bulan lalu aku tidak mau menyentuh tanganmu, sekarang aku akan melempar kamu ke serangan yang menentukan. Ia teringat bahwa seluruh arc hidupnya, seluruh yang ia pelajari di velodrom kayu sekarat itu, adalah tentang ini: belajar percaya, belajar membagi beban, belajar tidak menang—atau kalah—sendirian.
Dan menyembunyikan lutut ini, ia perlahan sadar, adalah persis kebalikan dari semua yang ia pelajari. Itu adalah anak panti lama yang menanggung sendiri. Itu adalah Hasan muda yang serakah di lap terakhir, mengubah rencana tanpa memberi tahu partnernya, dan menghancurkan keduanya.
Kalau ia turun besok dengan rahasia di lututnya, ia tak hanya mempertaruhkan dirinya. Ia mempertaruhkan Yoga, yang akan melemparnya ke serangan tanpa tahu bahwa orang yang ia lempar bisa runtuh di tengah lintasan. Ia akan mengulang dosa Hasan persis. Mengubah persamaan diam-diam, dan membiarkan partnernya menanggung akibat dari rahasia yang tak pernah ia bagi.
Arka menutup matanya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, dan itu adalah hal tersulit yang pernah diminta darinya—lebih sulit dari banking pertama, lebih sulit dari handsling, lebih sulit dari memilih madison atas keirin. Ia harus menunjukkan lukanya pada orang lain.
Ia harus jujur pada Yoga.