Ia menemukan Yoga di ruang pemanasan, sendirian, mengayuh pelan di atas roller statis untuk melemaskan kaki. Arka berdiri di pintu beberapa saat, mengumpulkan keberanian yang tak pernah ia butuhkan sebanyak ini. Lebih mudah meledak keluar dari banking empat puluh dua derajat daripada mengucapkan kalimat yang akan ia ucapkan.
"Yoga," katanya. "Aku harus cerita sesuatu. Dan aku butuh kamu mendengarkan sampai selesai sebelum kamu menjawab."
Yoga menghentikan rollernya dan menoleh. Ada sesuatu di nada Arka yang membuatnya langsung serius.
Maka Arka menceritakannya. Semuanya. Lutut yang berdenyut sejak penyisihan. Pos medis pagi tadi. Diagnosis ligamen yang teriritasi. Risiko permanen kalau ia memaksa di final. Saran dokter untuk menarik diri. Dan—ini bagian yang membuat suaranya hampir tersangkut—pikirannya selama berjam-jam pagi ini untuk menyembunyikannya, untuk menanggungnya sendiri, untuk turun dengan rahasia dan membiarkan Yoga melemparnya tanpa tahu apa-apa.
"Aku hampir tidak cerita," kata Arka jujur. "Aku hampir membungkusnya dan turun seolah tidak ada apa-apa. Karena aku takut kalau aku cerita, kamu akan kehilangan kepercayaan, atau kasihan, atau kita ditarik dari final." Ia menatap kedua tangannya. "Tapi Hasan menceritakan padaku apa yang dia lakukan tiga puluh tahun lalu. Dia mengubah rencana di lap terakhir tanpa memberi tahu partnernya, karena serakah, dan dia menghancurkan keduanya. Dan aku sadar—kalau aku turun besok dengan rahasia ini, aku melakukan hal yang sama persis. Aku membiarkan kamu melempar orang yang bisa runtuh, tanpa kamu tahu. Itu bukan tim. Itu kebohongan yang menyamar jadi pengorbanan."
Ia menelan ludah. "Jadi aku cerita. Lututku mungkin tidak akan sanggup final penuh. Aku tidak tahu pasti. Tapi kamu pantas tahu, karena apa pun yang terjadi besok, kamu menanggungnya juga."
Lama Yoga tak berkata apa-apa. Ia turun dari roller, menyeka tangannya dengan handuk, dan duduk di bangku menghadap Arka. Wajahnya—biasanya tertutup, pendiam—kini terbuka oleh sesuatu yang Arka tak duga.
Bukan kecewa. Bukan kasihan. Sesuatu yang lebih seperti hormat.
"Kamu tahu kenapa aku dulu tidak mau jadi partnermu?" tanya Yoga akhirnya. "Bukan karena kamu anak panti. Bukan karena kamu mentah." Ia menatap lurus. "Karena partner madisonku yang dulu, di kota asalku, menyembunyikan cedera dariku. Persis seperti yang hampir kamu lakukan. Dia turun di lomba dengan punggung yang sakit, tidak cerita, dan di tengah balapan dia tidak bisa menjemputku di handsling yang kami sepakati. Aku terlempar. Aku patah tulang selangka. Dan yang paling menyakitkan bukan tulangnya—tapi kenyataan bahwa dia tahu, dan dia membiarkan aku melempar diriku pada orang yang dia tahu tidak bisa menangkapku."
Arka terdiam. Ia tak tahu itu.
"Sejak itu aku tidak percaya partner mana pun," lanjut Yoga. "Aku pikir semua orang menyembunyikan sesuatu. Aku pikir percaya itu cara cepat untuk dikhianati. Itu sebabnya aku dingin padamu di awal. Aku menunggu kamu menunjukkan bahwa kamu sama seperti dia." Ia menarik napas. "Dan sekarang, hari sebelum final terbesar dalam hidup kita, kamu datang dan menceritakan kelemahanmu, hal yang bisa membuat kita ditarik, padahal kamu bisa saja diam dan tak ada yang akan tahu. Kamu melakukan persis kebalikan dari apa yang dia lakukan."
Yoga mengulurkan tangan dan menepuk bahu Arka—gerakan kecil yang berarti besar dari orang sependiam dia.
"Itu yang aku tunggu dua bulan ini," katanya. "Bukti bahwa aku bisa percaya padamu. Dan kamu memberikannya dengan cara yang paling sulit."
Arka merasa sesuatu yang sesak di dadanya melonggar. "Jadi kita tetap turun?"
"Kita tetap turun," kata Yoga, dan sekarang ada api di matanya. "Tapi kita ubah rencananya. Bersama, terbuka, bukan rahasia." Ia mengambil botol air dan menggambar dengan jari basah di bangku, sebuah diagram kasar lintasan. "Rencana Hasan: kamu menyimpan diri sepanjang balapan, lalu satu serangan tunggal tiga lap dari akhir. Itu butuh kamu mengeluarkan seluruh tenaga sekali besar. Beban penuh di lututmu, di sudut terburuk."
"Ya."
"Jadi kita balik." Yoga menatapnya. "Aku yang memikul beban berat sepanjang balapan. Aku yang ambil giliran lebih panjang di peloton, aku yang menjaga posisi, aku yang membakar tenaga menahan tempo. Kamu—" ia menunjuk Arka, "—kamu menghemat lututmu sepanjang lomba. Kamu cuma butuh satu hal. Satu ledakan, di akhir, di tempat yang Hasan pilih. Bukan banyak akselerasi. Satu. Aku melempar kamu sempurna sehingga kamu tidak perlu bekerja membangun kecepatan—aku berikan kecepatan itu lewat lemparan, kamu cuma melepas pelurunya. Satu kali. Lututmu cuma menanggung beban satu serangan, bukan ratusan."
Arka menatap diagram air yang mulai mengering di bangku, dan ia mengerti. Yoga menawarkan untuk memikul lebih banyak agar Arka menanggung lebih sedikit. Membagi beban tak sama rata, dengan sengaja, karena salah satu dari mereka terluka.
"Itu artinya kamu yang capek, kamu yang menanggung beban berat sepanjang balapan," kata Arka. "Itu tidak adil untukmu."
Yoga tertawa pendek—mungkin pertama kalinya Arka mendengarnya tertawa. "Itulah inti tim, anak panti," katanya. "Tidak selalu adil sama rata. Kadang satu orang menanggung lebih banyak supaya yang lain bisa memberi yang terbaik. Itu bukan kelemahan. Itu strateginya. Hari ini kamu yang terluka, jadi aku yang memikul. Lain hari mungkin sebaliknya." Ia menepuk bahu Arka lagi. "Kepercayaan sejati bukan berarti kita berdua sama kuat. Artinya aku membiarkan kamu menanggung untukku saat aku lemah, dan kamu membiarkan aku menanggung untukmu sekarang."
Arka menatap rekannya, partner yang dua bulan lalu menolak menyentuh tangannya, dan ia merasakan sesuatu yang asing dan hangat—rasa lega seorang yang seumur hidup menanggung sendiri, menemukan untuk pertama kalinya bahwa beban bisa dibagi tanpa runtuh.
Mereka pergi mencari Hasan bersama, untuk menceritakan semuanya—lutut, diagnosis, rencana baru. Dan saat Hasan mendengar bahwa Arka memilih jujur alih-alih menyembunyikan, mata tua itu basah, karena pria itu tahu persis betapa sulitnya, dan persis berapa banyak nyawa yang dulu hancur karena seseorang memilih sebaliknya.