Malam sebelum final, Arka tak bisa tidur. Ia berbaring di kamar penginapan dengan lutut dibungkus es, mendengar napas teratur Yoga di ranjang sebelah, dan menatap langit-langit yang asing. Pikirannya berputar tak henti—rencana baru, lemparan tunggal, lutut, tim biru yang sempurna, tribun yang penuh, ribuan suara. Akhirnya ia menyerah pada tidur, mengambil ponselnya, dan keluar ke koridor sepi.
Ia menelepon Bandung.
Mei sudah lebih dulu menelepon panti sore tadi untuk memberi kabar mereka lolos final, tapi Arka ingin mendengar suara mereka sendiri. Telepon berdering beberapa kali, lalu diangkat, dan suara yang menjawab membuat tenggorokannya tercekat.
"Arka?" Suara Bu Ningsih—lemah, serak dari ranjang sakit, tapi hangat seperti yang selalu ia ingat sejak kecil. "Ini kamu, Nak?"
"Ibu," katanya, dan satu kata itu saja hampir membuatnya runtuh. "Ibu harusnya istirahat. Kok belum tidur?"
"Mana bisa Ibu tidur," Bu Ningsih terkekeh pelan, lalu terbatuk. "Anak Ibu besok turun di final nasional. Tiga puluh tahun velodrom itu sepi, dan besok anak yang Ibu besarkan turun di sana. Ibu mau dengar suaramu dulu."
Arka menyandar ke dinding koridor, memejamkan mata. Ia teringat panti yang masih terancam, tanah yang masih diincar pengembang lewat celah hukum, Bu Ningsih yang jatuh sakit karena tekanan. Ia teringat bahwa medali besok—menang atau kalah—tak akan menyelamatkan tembok rumah itu. Hasan sudah lama mengajarinya: olahraga bukan sihir, ia hanya memberi panggung, bukan keajaiban.
"Ibu," katanya pelan, "aku mau jujur. Mungkin besok kami menang, mungkin kalah. Lawan kami lebih hebat, lebih kaya, sudah balapan bertahun-tahun bersama. Dan lututku—" ia berhenti, tak mau membuat ibu tuanya khawatir, lalu memutuskan jujur juga, "—lututku tidak seratus persen. Aku tidak janji medali. Aku takut mengecewakan semua orang."
Hening sebentar di seberang. Lalu suara Bu Ningsih, tenang dan pasti meski lemah.
"Arka. Dengar Ibu." Napasnya tertahan sedikit. "Waktu kamu kecil, kamu paling sering ditolak orang yang datang mau mengangkat anak. Kamu ingat? Mereka datang, melihat-lihat, dan selalu memilih yang lain. Kamu pulang ke kamar dan tidak nangis, cuma diam. Dan Ibu tahu kamu belajar satu hal yang salah: kamu pikir kamu harus jadi luar biasa supaya pantas dicintai. Kamu pikir kalau kamu tidak cukup hebat, orang akan melepasmu."
Arka menelan sesuatu yang panas di tenggorokannya.
"Ibu mau bilang sekali ini, dan kamu dengar baik-baik," lanjut Bu Ningsih. "Ibu bangga padamu. Bukan karena kamu lolos final. Bukan karena kamu mungkin menang medali. Ibu bangga padamu sejak sebelum kamu naik sepeda balap. Apa pun yang terjadi besok—menang, kalah, lutut sakit, mengecewakan siapa pun—kamu tetap anak Ibu, dan Ibu tetap bangga. Tidak ada yang bisa kamu lakukan besok yang membuat Ibu lebih sayang atau kurang sayang padamu. Kamu sudah cukup. Kamu selalu cukup. Kamu cuma belum pernah percaya."
Arka menutup matanya rapat-rapat di koridor sepi penginapan, dan untuk beberapa saat ia tak bisa bicara. Seumur hidupnya ia balapan untuk membuktikan sesuatu—pada Hasan, pada Senna, pada federasi, pada dirinya sendiri, pada setiap orang yang dulu melewatinya. Untuk membuktikan bahwa anak panti bisa, bahwa ia pantas, bahwa ia tak akan dilepaskan kalau ia cukup hebat. Dan di sini, di koridor asing malam sebelum final terbesar dalam hidupnya, ibu tuanya dari ranjang sakit melepaskan beban itu dari pundaknya dengan beberapa kalimat sederhana.
Kamu sudah cukup.
"Terima kasih, Bu," katanya akhirnya, suaranya pecah. "Cepat sembuh, ya. Aku pulang setelah ini."
"Pulanglah. Tapi menang dulu kalau bisa," Bu Ningsih terkekeh lagi. "Sebentar, Doni mau bicara."
Ada gerusan di seberang, lalu suara bocah empat belas tahun, bersemangat dan sedikit gugup. "Kak Arka!"
"Doni. Belum tidur juga, kamu?"
"Mana bisa tidur, Kak!" Suaranya meledak. "Besok aku nonton di warung Pak Udin, yang ada TV-nya. Semua anak panti ikut. Kami bawa spanduk, Kak, tulisannya RAJAWALI. Mei kak yang kasih ide." Lalu nadanya melembut, jadi serius dengan cara yang menyentuh. "Kak, aku janji satu hal. Sambil Kakak di sana, aku jaga velodrom. Tiap hari aku sapu lintasannya, aku cek kayu yang mengelupas, aku kunci pintunya. Pak Hasan kan ikut ke Jakarta, jadi aku yang jaga. Garis itu tidak putus selama aku di sini. Aku janji."
Sesuatu bergetar di dada Arka. Garis itu tidak putus. Kata-kata yang ia sendiri ajarkan, kini diucapkan kembali padanya oleh anak yang ia latih—anak panti seperti dirinya dulu, yang membaca garis lintasan dengan mata lapar yang sama.
"Doni," katanya pelan. "Kamu tahu, kan, kenapa aku turun besok? Bukan untuk medali. Bukan untuk membuktikan apa-apa lagi."
"Kenapa, Kak?"
Arka menatap koridor sepi, lampu redup, malam ibu kota yang asing. Dan untuk pertama kalinya ia tahu jawabannya dengan jelas, tanpa keraguan.
"Untuk garis itu," katanya. "Supaya tetap tersambung. Supaya ada velodrom untuk kamu, dan untuk anak-anak setelah kamu. Aku tidak balapan untuk diriku lagi, Don. Aku balapan untuk garis yang harus tetap hidup. Itu saja."
Mereka bicara sebentar lagi, lalu Arka menutup telepon dan berdiri lama di koridor. Ia tak lagi gugup. Beban membuktikan diri telah lepas dari pundaknya, dan yang tersisa hanya satu hal sederhana dan kokoh: garis yang harus tetap tersambung. Bukan untuk dirinya. Untuk Doni, untuk Bu Ningsih, untuk Hasan, untuk papan kayu sekarat yang menyelamatkannya. Ia kembali ke kamar, berbaring di samping Yoga yang tidur, dan untuk pertama kalinya sejak penyisihan, lututnya yang dibungkus es terasa tak terlalu penting. Ia tidur, akhirnya, dengan damai aneh seorang yang tak lagi punya apa pun untuk dibuktikan.