Pagi final, ruang pemanasan velodrom nasional berdengung seperti sarang lebah. Dua puluh pasang pembalap dan kru mereka mengisi ruangan besar itu—deretan roller statis berbaris, kompresor mendesis, masseur bekerja di meja lipat, pelatih berbisik instruksi, suara roda yang berputar di silinder roller menciptakan gemuruh rendah yang konstan. Tegangan di udara terasa seperti sebelum badai.
Di sudut ruangan, Arka dan Yoga punya dua roller dan satu termos teh. Itu saja. Hasan menyandar tongkatnya ke dinding, duduk di bangku lipat menghadap mereka, tenang di tengah keriuhan seperti batu di tengah arus.
"Mulai pelan," kata Hasan. "Dua puluh menit naikkan denyut bertahap. Jangan paksa. Hari ini kita tidak butuh kaki yang panas terlalu cepat. Kita butuh kepala yang dingin."
Arka naik ke rollernya dan mulai mengayuh pelan. Roller statis—dua silinder belakang, satu depan, sepeda berdiri di atasnya tanpa penyangga, menuntut keseimbangan sempurna karena satu gerakan kasar bisa membuatmu meluncur jatuh. Dulu ia membenci roller, alat menyiksa kesabaran yang ia paksa kuasai saat memulihkan lutut. Sekarang ia mensyukurinya. Roller mengajarinya gerakan halus, ritme merata, ketenangan dalam diam—persis yang ia butuhkan pagi ini.
Lututnya dibungkus rapi dengan pita kompresi, anti-radang sudah diminum, es sudah ditempelkan tadi pagi. Tak akan sempurna. Tapi rencana sudah disusun—Yoga memikul beban berat sepanjang balapan, Arka menghemat untuk satu serangan tunggal. Mereka sudah membahasnya berkali-kali sampai keduanya bisa membayangkannya dengan mata tertutup.
"Ingat satu hal," kata Hasan, suaranya rendah dan stabil di bawah gemuruh ruangan. "Tim biru sempurna, tapi mereka mesin. Tim merah kuat, tapi kasar. Tim hijau sabar, tapi tak punya ledakan. Kalian punya satu hal yang tak satu pun dari mereka punya." Ia menatap mereka bergantian. "Kalian punya alasan. Mereka balapan untuk menang. Kalian balapan untuk garis yang harus tetap hidup. Itu membuat kepala kalian lebih jernih saat lelah menyerang, karena kalian tahu persis kenapa kalian di sini."
Arka mengayuh, napasnya mulai dalam dan teratur, dan ia membiarkan kata-kata itu masuk. Ia memikirkan Doni yang menyapu lintasan kayu di Bandung pagi ini. Memikirkan spanduk RAJAWALI yang akan dibawa anak-anak panti ke warung Pak Udin. Memikirkan Bu Ningsih dari ranjang sakitnya: kamu sudah cukup. Memikirkan Hasan dan Broto, tiga puluh tahun lalu, dan handsling yang menghancurkan keduanya—dan handsling yang hari ini, mungkin, akan membawa sesuatu pulang.
Di roller sebelah, Yoga mengayuh dengan ekspresi tenang yang berbeda dari kekakuan pendiamnya dua bulan lalu. Sesekali mereka bertukar pandang, mengangguk pendek—bahasa tanpa kata dari dua orang yang akhirnya saling percaya. Tangan kalian harus tahu satu sama lain dalam tidur, kata Hasan dulu. Sekarang, akhirnya, tangan itu tahu.
Mei menyelinap masuk membawa dua botol minuman dingin, menyelipkannya ke kerangka sepeda mereka. "Tribun penuh," katanya pelan pada Arka. "Aku sudah lihat. Dan—" ia ragu sebentar, "—Senna ada di tribun. Bukan di area tim ayahnya. Dia duduk sendiri, di tribun biasa. Aku tidak tahu kenapa."
Arka mengangguk, menyimpannya. Ada cerita di balik itu—keirin Senna kemarin, sesuatu yang Arka belum tahu utuh—tapi pagi ini bukan waktunya.
Dua puluh menit pemanasan hampir habis. Denyut jantung Arka stabil di zona yang ia inginkan, kakinya hangat tapi tak terbakar, lututnya berdenyut samar tapi tertahankan. Hasan memberi isyarat untuk berhenti, dan keduanya turun dari roller, mengelap keringat, meminum sedikit air. Di luar, pengeras suara mengumumkan bahwa final madison akan dimulai dalam dua puluh menit. Para pembalap mulai mendorong sepeda mereka ke arah lintasan.
Saat Arka dan Yoga mendorong sepeda madison mereka melewati keramaian ruang pemanasan menuju terowongan lintasan, seseorang melintas dari arah berlawanan—sosok dalam jaket tim, berhenti tepat di jalur mereka. Senna.
Arka berhenti. Mereka berhadapan sejenak di tengah lalu-lalang. Senna tak berseragam balap; ia tak turun di nomor apa pun hari ini. Wajahnya berbeda dari yang Arka lihat di tenda dua hari lalu—masih lelah, tapi tak lagi kosong. Ada sesuatu yang baru di sana. Sesuatu yang nyaris seperti ketenangan, atau awal dari ketenangan.
Senna tak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arka, lalu menatap Yoga, lalu menatap sepeda madison sederhana dengan ban yang dilem tangan dan jersey merah polos tanpa logo besar. Dan kemudian—pelan, sengaja, dengan berat seseorang yang memberikan sesuatu yang tak pernah ia berikan pada siapa pun—Senna mengangguk.
Satu anggukan. Bukan tantangan rival. Bukan ejekan anak jalanan beruntung. Sebuah pengakuan. Dari pembalap yang dulu menghancurkan Arka di sprint pertama mereka dengan taktik, dari rival yang menyebutnya anak jalanan beruntung, dari pemuda yang menang sendirian seumur hidup dengan mata kosong—sebuah anggukan yang berkata aku melihatmu, dan kamu pantas berada di sini.
Arka membalasnya. Satu anggukan. Aku melihatmu juga, Senna.
Lalu Senna melangkah ke samping, memberi jalan, dan Arka serta Yoga mendorong sepeda mereka masuk ke terowongan menuju lintasan. Di ujung terowongan, cahaya arena membakar terang—danau kayu mengkilap, ribuan suara di tribun, lampu sorot yang menghapus setiap bayangan. Final madison Kejuaraan Nasional menanti, dan di suatu tempat di tribun penuh itu, seorang rival yang akhirnya mengerti duduk sendirian, dan di Bandung anak-anak panti berkumpul di depan TV warung dengan spanduk, dan dari ranjang sakit seorang ibu tua berdoa, dan papan kayu sekarat yang menyelamatkan seorang kurir bernapas menunggu kabar.
Arka menarik napas panjang—tarikan napas sebelum gemuruh—dan mendorong sepedanya ke mulut lintasan. Lututnya berdenyut. Tangan Yoga di sampingnya, kokoh dan pasti. Dan untuk pertama kalinya sejak ia naik papan kayu sekarat itu di hari pertama, Arka tak merasa takut sedikit pun. Ke mana pun ia melaju sekarang, ia tak melaju sendirian. Bel pertama menunggu untuk dibunyikan.