Bel pertama membelah udara arena seperti pisau, dan dua puluh pasang pembalap melepas diri dari pagar.
Arka merasakan papan kayu Siberia menelan rodanya, mengkilap dan keras di bawah ban tubular yang ia lem sendiri dua malam lalu. Begitu kakinya mulai berputar, dunia menyusut menjadi lingkaran dua ratus lima puluh meter. Suara tribun yang tadi membakar telinganya melebur jadi gemuruh tunggal di belakang detak jantungnya. Di depannya, di belakangnya, di kiri kanan—roda dan roda dan roda, sembilan belas pasang lawan yang seumur hidup berlatih untuk membuatnya tersingkir.
Madison. Lomba yang dulu mustahil ia bayangkan. Dua orang per tim, hanya satu yang berlomba penuh tenaga di lintasan pada satu waktu, yang lain mengayuh santai tinggi di banking untuk pulih, lalu bergantian lewat handsling—lemparan tangan yang melontarkan rekan kembali ke pertarungan. Puluhan lap, sprint berpoin setiap sepuluh putaran, dan kekacauan yang tak pernah berhenti.
Hasan sudah menggambarkannya berkali-kali. Bayangkan dua puluh sungai yang mengalir di selokan yang sama, katanya. Yang panik tenggelam. Yang sabar membaca arusnya.
"Tahan," suara Yoga terdengar di sampingnya, datar dan pendek, saat mereka menempel ke rombongan tengah. "Jangan ke depan dulu."
Arka mengangguk meski Yoga tak melihat. Mereka punya rencana, dan rencana itu bunyinya sederhana: jadi hantu. Tim biru sudah memimpin di depan, mesin enam tahun bersama yang menarik rombongan dengan tempo merata yang menyakitkan. Tim merah menempel di belakangnya, dua sprinter berbahu lebar yang mendorong-dorong mencari ruang. Tim hijau bermain di sisi dalam, sabar, menunggu. Tiga predator. Dan di antara mereka, Rajawali—jersey merah polos tanpa logo, sepasang anak yang tak satu pun tim besar anggap layak ditakuti.
Itulah senjatanya. Tak diperhitungkan.
Sprint pertama datang di lap kesepuluh. Bel berdentang dua kali, tanda sprint poin, dan rombongan depan meledak. Tim biru melepas satu pembalapnya ke depan, tim merah membalas dengan dorongan brutal, dan untuk sepersekian detik selokan itu menjadi air bah. Arka merasakan tarikan untuk ikut, ledakan di kakinya yang ingin bicara—dan ia menahannya, persis seperti yang dilatih, menggigit bagian dalam pipinya. Tim biru mengambil lima poin, merah tiga, hijau dua. Rajawali tak mengambil apa-apa. Itu disengaja.
"Bagus," gumam Yoga saat ia melontarkan Arka tinggi ke banking untuk pulih dan ia sendiri turun mengambil giliran. "Simpan."
Dari tribun yang kelam di seberang lampu sorot, Arka tahu Hasan duduk dengan papan kecil dan pensil di tangan, menghitung lap demi lap, membaca pola seperti membaca punggung lawan tiga puluh tahun lamanya. Pria tua itu sudah berjanji: ia akan memberi isyarat satu kali, dan satu kali saja, ketika momennya tiba. Tiga lap dari akhir. Sampai saat itu, tugas mereka cuma satu—bertahan hidup dan tetap tak terlihat.
Lututnya berdenyut. Bukan jeritan, belum—hanya bisikan tumpul di sisi dalam, tempat ligamen yang dulu tertarik mengingatkannya bahwa ia tak sepenuhnya utuh. Ia menempelnya ke pinggang, naik tinggi di banking empat puluh dua derajat, membiarkan gravitasi dan momentum menahannya seperti tangan raksasa. Di bawah sana Yoga mengayuh keras di rombongan, memikul beban yang seharusnya dibagi dua, memikulnya sendiri agar lutut Arka bisa diam.
Di handsling berikutnya, tangan mereka bertemu. Telapak Yoga menampar telapaknya, jari mengunci di pergelangan, dan dengan satu hentakan kasar yang terlatih ratusan kali di garasi berdebu Rajawali, Yoga melontarkannya kembali ke arus. Mulus. Tak ada keraguan, tak ada jeda satu detik pun yang dulu hampir membunuh mereka. Tangan kalian harus tahu satu sama lain dalam tidur, kata Hasan. Sekarang tangan itu tahu.
Arka meluncur turun ke rombongan, menyelip di antara dua roda dengan ketenangan yang dulu tak ia punya, dan menemukan tempatnya kembali di tengah. Di depan, tim biru masih menarik dengan tempo mesin. Di belakang, tim merah menggeram. Lap demi lap berlalu, sprint demi sprint, dan poin terkumpul di papan—biru memimpin, merah dan hijau berkejaran di belakangnya. Rajawali bertahan di posisi yang tak menarik perhatian siapa pun: cukup tinggi untuk tak tersingkir, cukup rendah untuk diabaikan.
Separuh balapan habis. Keringat mengucur ke mata Arka, asin dan pedih, dan ia mengusapnya dengan punggung tangan saat naik ke banking. Napasnya dalam, terkendali, dada terbuka penuh. Bukan panik. Bukan rakus. Untuk pertama kalinya di panggung sebesar ini, ia merasa dirinya membaca lomba alih-alih diseret olehnya. Ia melihat bahu pembalap biru menegang sepersekian detik sebelum ia menyerang. Ia melihat kayuhan pembalap hijau mengendur, memancing. Semua yang Hasan ajarkan—membaca punggung, membaca napas—mengalir masuk seperti bahasa yang akhirnya ia kuasai.
Di seberang lintasan, jauh di tribun, ada satu titik diam di tengah lautan suara. Arka tak bisa melihatnya, tapi ia tahu Senna di sana, sendirian, menonton. Dan di Bandung, di depan TV warung Pak Udin, ia tahu anak-anak panti berkumpul dengan spanduk RAJAWALI di tangan kecil mereka. Dan dari ranjang sakit, seorang ibu tua menggenggam ponsel.
Garis harus tetap hidup, pikir Arka. Bukan aku. Garis.
Lututnya berdenyut lagi. Ia membiarkannya. Masih jauh ke depan. Masih ada lap yang harus dilalui, dan satu serangan yang harus disimpan utuh, dingin, dan siap. Ia menunduk lebih rendah ke setang, menempel pada roda di depannya, dan menghilang ke dalam arus.