Kekacauan datang tanpa peringatan, seperti selalu.
Satu lap setelah sprint kelima, di mulut banking utara, roda belakang seorang pembalap tim kuning—tim kecil dari kota timur yang sepanjang lomba berjuang menempel—menyentuh roda depan pembalap di sebelahnya. Sentuhan kecil. Di jalan biasa ia akan dikoreksi dalam sekejap. Tapi di papan kayu empat puluh dua derajat, pada kecepatan lima puluh kilometer per jam, tanpa rem, sentuhan kecil adalah kalimat kematian.
Arka melihatnya terjadi seolah waktu mengental. Roda belakang kuning itu tergelincir ke samping, melompat, dan pembalapnya kehilangan garis—tubuhnya terlempar ke atas banking, lalu meluncur turun, menabrak dua pembalap di belakangnya. Suara benturan, logam dan kayu dan daging, naik melebihi gemuruh tribun. Tiga, empat, lima tubuh tumpang tindih di lintasan bawah, sepeda berputar dengan roda yang masih berputar di udara, dan di belakang mereka rombongan datang dengan kecepatan penuh dan tak ada cara untuk berhenti.
Insting jalanan Arka menyala lebih cepat dari pikirannya.
Bertahun-tahun menyalip macet Bandung, menerobos celah antara bus dan truk yang menutup dalam setengah detik, membaca arah ban motor sebelum pengendaranya sendiri tahu—semua itu, yang dulu hampir membunuhnya di banking pada hari pertama, sekarang menyelamatkannya. Tanpa berpikir ia menarik garisnya tinggi ke atas, ke pinggir banking, jauh dari tumpukan tubuh di bawah. Ia merasakan ban belakangnya menggigit kayu di sudut yang nyaris mustahil, beban tubuhnya melawan gravitasi, dan untuk satu detik panjang ia berkendara di tepi atas lintasan seperti sebutir kelereng di dinding mangkuk.
"YOGA!" teriaknya, tak yakin rekannya mendengar.
Tapi Yoga di sana. Di depannya, sedikit ke kiri, telah membaca hal yang sama dan menarik garis yang sama—dua anak yang berlatih ratusan jam sampai gerakan mereka jadi bayangan satu sama lain. Mereka melewati banking utara di tepi atas, melayang di atas kekacauan, dan turun di sisi lain ke lintasan yang tiba-tiba lapang, dibersihkan oleh jatuhan yang menyapu separuh tim di depan.
Di belakang mereka, bel berbunyi panjang—lomba dihentikan sementara, lap dinetralkan, petugas berlari ke lintasan dengan tandu dan kotak alat. Tiga tim tak akan melanjutkan; satu pembalap dibawa keluar memegangi bahunya, dua lagi berjalan pincang menuntun sepeda dengan pelek bengkok. Tim kuning habis. Salah satu predator—tim hijau—kehilangan satu pembalapnya yang terjepit di tepi tumpukan, tersingkir dengan sepeda patah.
Arka mengayuh pelan di lintasan netral, dadanya naik turun, dan baru sekarang adrenalin surut dan rasa sakit menyusul masuk. Lutut kanannya menjerit. Bukan denyut lagi—jeritan tajam yang menembus ke tulang, dari menarik garis ekstrem itu dengan seluruh beban tubuhnya di sisi kanan. Ia menggertakkan gigi, menahan ekspresi datar, tak mau ada yang melihat.
Yoga melaju ke sampingnya, napas berat. "Lutut."
Bukan pertanyaan.
"Masih bisa," kata Arka.
"Aku ambil giliran lebih panjang," kata Yoga, dan suaranya tak menyisakan ruang untuk debat. "Kau diam di banking sampai aku bilang. Kita masih punya rencana. Jangan habiskan sebelum tiga lap akhir."
Arka menatap rekannya—pemuda pendiam dari kota lain yang dua bulan lalu menyalahkannya saat handsling pertama mereka gagal, yang dingin karena pernah dikhianati rekan yang menyembunyikan cedera sampai Yoga patah selangka. Dan sekarang pemuda itu, dengan mengetahui persis luka Arka, memilih memikulnya. Bukan karena terpaksa. Karena percaya.
Kepercayaan sejati berarti membiarkan orang lain menanggung untukmu. Arka dulu tak mengerti kalimat itu. Sekarang ia mengerti, dan tenggorokannya tercekat di tengah napas yang terbakar.
"Oke," katanya. "Kuserahkan padamu."
Dan ia sungguh menyerahkannya—roda, beban, kepercayaan, semua. Anak yang dulu hidup sendirian, yang menanggung setiap luka dalam diam karena begitulah cara bertahan di panti, menyerahkan punggungnya pada orang lain di tengah lomba paling penting dalam hidupnya.
Lomba dimulai kembali. Petugas memberi aba-aba, rombongan yang tersisa—dari dua puluh tim, kini tinggal empat belas—mengumpul lagi, dan bel melepas mereka. Yoga turun ke arus dengan kayuhan yang lebih keras dari sebelumnya, memikul, menarik, menempel pada tim biru yang masih utuh dan masih memimpin. Arka naik ke banking, menjaga lututnya, mengayuh hanya secukupnya untuk tetap di lintasan.
Dari atas sana ia memandang ke bawah, ke punggung rekannya yang membungkuk di setang, dan menghitung lap di papan. Tiga puluh lap tersisa. Lalu dua puluh delapan. Posisi mereka, anehnya, naik—jatuhan itu menyapu dua tim di atas mereka, dan ketenangan mereka di tengah kekacauan membuat Rajawali kini berada di posisi keempat poin.
Keempat. Sebuah angka yang sebulan lalu mustahil. Dan di depan, tim biru, tim merah, dan satu tim ungu yang nyaris tak mereka perhatikan sepanjang lomba. Tiga tembok di antara mereka dan podium.
Arka menyeka keringat, menatap papan poin, dan untuk pertama kalinya membiarkan dirinya berpikir kata itu. Bisa. Kalau serangannya tepat. Kalau lututnya bertahan. Kalau Yoga melontarkannya di waktu yang persis benar.
Dua puluh lima lap. Ia menunggu isyarat Hasan.