Hasan memberi isyarat tiga lap menjelang akhir, dan Arka melihatnya seperti melihat matahari terbit setelah malam panjang.
Di seberang lintasan, di antara lautan suara dan lampu, pria tua itu berdiri. Itu saja—berdiri dari bangku lipatnya, tongkat di satu tangan, tangan lain terangkat lurus ke atas. Tak ada teriakan, tak ada lambaian panik. Hanya satu tubuh tua yang bangkit di tengah ribuan orang, dan bagi Arka itu lebih keras dari segala suara di arena.
Sekarang.
Seluruh balapan—lima puluh menit menahan diri, lima puluh menit menjadi hantu, lima puluh menit Yoga memikul beban dua orang sementara Arka menjaga setiap denyut lututnya—semuanya menyempit ke satu titik di masa depan yang sangat dekat. Tiga lap. Tujuh ratus lima puluh meter. Satu serangan.
Arka turun dari banking, melaju ke arah Yoga di rombongan, dan ia tahu rekannya juga melihat isyarat itu karena Yoga sudah menarik garisnya, sudah memposisikan diri di tepi bawah lintasan, sudah menyiapkan tubuh untuk lemparan yang telah mereka latih sampai tangan mereka hafal di luar kepala.
Mereka tak butuh kata.
Arka mendekat dari belakang dan atas, meluncur turun dengan momentum banking, kecepatannya bertambah karena gravitasi, persis seperti yang dirancang. Yoga mengulurkan tangan kanannya ke belakang tanpa menoleh—percaya, sepenuhnya percaya, bahwa tangan Arka akan ada di sana. Dan tangan Arka ada di sana. Telapak bertemu telapak, jari mengunci di pergelangan, dan untuk sepersekian detik mereka terhubung, dua tubuh menjadi satu sistem, satu mesin yang dibangun dari dua orang yang sama-sama pernah takut percaya.
Lalu Yoga melontarkannya.
Bukan handsling biasa. Ini lemparan dengan seluruh tenaga yang tersisa di tubuh Yoga—seluruh beban yang ia pikul sepanjang lomba sekarang diubah menjadi dorongan tunggal, hentakan yang melempar Arka ke depan seperti batu dari ketapel. Arka merasakan dirinya ditembakkan keluar dari rombongan, kecepatannya melonjak, kakinya menemukan pedal, dan untuk pertama kalinya sejak bel pertama berbunyi, ia melepas.
Semuanya.
Ledakan yang ia simpan selama lima puluh menit—ledakan mentah anak kurir yang dulu menyalip tiga pembalap klub di perempatan tanpa tahu ada yang menonton—keluar sekaligus. Kakinya berputar dengan kecepatan yang membuat rantai mendengung, gigi 49 melawan 19 berubah dari beban menjadi sayap, dan ia melesat ke depan rombongan dengan jarak yang melebar setiap detik.
Di belakangnya, kekacauan. Tim biru, yang sepanjang lomba mengontrol tempo dengan presisi mesin, sama sekali tak menduga serangan dari Rajawali—tim yang mereka abaikan, hantu di jersey merah polos. Untuk sepersekian detik yang menentukan, mereka ragu. Siapa itu? Dari mana? Dan keraguan sepersekian detik di lintasan adalah selisih antara mengejar dan tertinggal.
Tim merah bereaksi lebih cepat, dua sprinter berbahu lebar melepas diri untuk mengejar, kaki mereka membakar lintasan. Tapi Arka sudah punya jarak. Sudah punya momentum. Dan—ini yang tak mereka tahu—ia punya alasan yang tak satu pun dari mereka punya.
Lututnya menjerit. Setiap putaran pedal mengirim paku panas ke sisi dalam sendi, ke ligamen yang dokter peringatkan bisa rusak permanen kalau ia memaksa. Karier sprint habis, kata dokter itu. Tapi Arka tak mendengar dokter sekarang. Ia mendengar Doni yang menyapu lintasan kayu di Bandung. Ia mendengar Bu Ningsih dari ranjang: kamu sudah cukup. Ia mendengar Hasan, tiga puluh tahun memikul rasa bersalah karena dulu menyerang sendirian tanpa mengabari rekan—dan sekarang, di sini, lemparan rekan justru yang melontarkannya ke serangan ini. Penebusan yang berputar penuh.
Ia tak menyerang sendirian. Itu bedanya. Yoga yang melemparnya. Yoga yang membangun momentum ini dengan punggungnya selama lima puluh menit. Serangan ini milik mereka berdua, dan itulah yang membuatnya bisa melepas seluruh dirinya tanpa takut—karena ke mana pun ia melaju sekarang, ia tak melaju sendirian.
Dua lap tersisa. Bel berbunyi panjang menandai sprint poin berikutnya akan jatuh di lap terakhir. Arka menunduk lebih rendah, dagu hampir menyentuh setang, dan mengubah seluruh rasa sakit menjadi kecepatan. Di belakangnya, dua sprinter merah mengejar, jarak menutup perlahan tapi pasti karena mereka segar dan ia membakar lutut yang nyaris habis.
Ia tak menoleh. Hasan mengajarinya itu sejak awal—jangan menoleh, menoleh memperlambatmu, percaya pada garismu. Ia menatap lurus ke depan, ke lengkung banking yang menanti, dan menghitung. Satu lap lagi setelah ini. Lalu bel terakhir. Lalu dua ratus meter yang akan menentukan apakah velodrom kayu sekarat itu pulang dengan medali pertamanya dalam tiga dekade, atau pulang dengan tangan kosong.
Kakinya berputar. Tak ada rem. Tak ada cara untuk berhenti. Hanya ke depan, ke depan, ke depan—dan untuk pertama kalinya, ia tahu persis ke mana ia melaju.