Bel lap terakhir berdentang, dan suaranya menembus segala sesuatu.
Arka mendengarnya melebihi gemuruh tribun, melebihi denyut darah di telinganya sendiri, melebihi jeritan lututnya. Satu lap. Dua ratus lima puluh meter. Sprint poin terakhir, yang nilainya berlipat ganda, jatuh di garis akhir lap ini—dan poin itu, Hasan sudah hitung di papannya, adalah selisih antara podium dan tribun penonton.
Ia memimpin. Tapi jaraknya menipis.
Dua sprinter tim merah telah menutup separuh jarak yang ia bangun, kaki segar mereka melawan lutut yang ia bakar sampai habis. Di belakang mereka, tim biru akhirnya bangun dari keraguan dan mengirim mesinnya ke depan, tempo merata yang mematikan kini berubah jadi pengejaran penuh. Dan dari sudut matanya, jersey ungu—tim yang nyaris tak ia perhatikan sepanjang lomba—muncul di garis dalam, menyimpan tenaga untuk momen ini persis seperti yang dilakukan Rajawali, dan sekarang melepasnya.
Empat tim. Satu garis. Satu lap.
Arka memasuki banking utara untuk terakhir kalinya. Ia menarik garisnya tinggi, membiarkan gravitasi memberinya kecepatan gratis di tikungan, lalu turun di sisi keluar dengan momentum yang melontarkannya ke trek lurus belakang. Insting jalanan—membaca sudut, mencuri setiap inci—mengalir dalam dirinya, tapi kini dijinakkan oleh kepala yang Hasan latih selama berbulan-bulan. Ia bukan lagi anak kurir yang meledak buta. Ia tahu persis berapa banyak yang tersisa di kakinya, berapa banyak yang harus ia keluarkan, dan kapan.
Kapan adalah sekarang.
Di tikungan terakhir, dua sprinter merah datang di sampingnya, satu di kiri, satu menempel di garis bawah. Salah satunya—berbahu lebar, wajah mengeras—menggeser garisnya sedikit ke luar, menutup ruang Arka, taktik kotor klasik untuk memaksanya melebar dan kehilangan kecepatan. Dulu Arka akan panik. Dulu Arka akan terpancing, melawan kasar, dan jatuh. Tapi ia ingat repechage seleksi berbulan-bulan lalu, ingat bagaimana ia belajar memakai banking untuk merebut ruang seperti yang dulu Senna lakukan padanya.
Ia tak melawan. Ia naik. Setengah meter ke atas banking, mencuri garis di atas bahu sprinter merah, dan turun lagi dengan momentum ekstra dari ketinggian—keluar dari tikungan terakhir setengah roda di depan, di garis yang bersih, dengan dua ratus meter lintasan lurus terbentang di hadapannya.
Dan kemudian ia melepas sisa terakhirnya.
Kaki yang dulu mentah, kaki kurir yang tak pernah dilatih, kaki yang sekarang dipandu kepala dan dijaga lutut yang nyaris hancur—berputar dengan kecepatan yang membuat seluruh tubuhnya menjadi satu garis lurus dari pedal ke setang. Setiap putaran membakar. Setiap detik mengirim paku ke lututnya. Tapi ia tak merasakannya lagi, atau merasakannya dan tak peduli, karena di dua ratus meter terakhir ini tak ada ruang untuk apa pun selain kecepatan.
Seratus lima puluh meter. Sprinter merah di belakangnya, menutup. Tim ungu melesat di garis dalam, datang seperti peluru.
Seratus meter. Arka menunduk lebih rendah, mengubah setiap serat ototnya menjadi tenaga, dan untuk satu detik panjang ia merasakan apa yang Hasan dulu coba jelaskan dan ia tak pernah mengerti—momen ketika kaki dan kepala dan napas dan alasan menyatu jadi satu hal tunggal, ketika kau tak lagi mengayuh sepeda melainkan menjadi sepeda, menjadi kecepatan, menjadi garis yang melaju.
Spanduk RAJAWALI di tangan anak-anak panti. Doni menyapu lintasan kayu. Bu Ningsih dari ranjang. Hasan dan Broto tiga puluh tahun lalu. Mei yang membawa minuman dingin. Yoga yang melemparnya. Semua orang yang membuatnya bisa berada di dua ratus meter terakhir ini, melaju di lintasan yang menyelamatkan hidupnya.
Lima puluh meter. Sprinter ungu di sampingnya sekarang, roda melawan roda, keduanya menunduk, keduanya membakar habis.
Garis.
Arka tak tahu. Untuk sepersekian detik, di kecepatan ini, di kelelahan ini, ia sungguh tak tahu siapa yang lebih dulu—roda depannya atau roda ungu di sampingnya. Ia melewati garis sprint dengan dada terangkat, paru-paru meraung, dan dunia melebar kembali dari titik tunggal menjadi arena penuh suara yang meledak.
Ia terus mengayuh karena tak ada cara untuk berhenti, melambat perlahan di banking, dan menoleh akhirnya—mencari papan, mencari Yoga, mencari kepastian. Yoga melaju ke arahnya dari rombongan, wajahnya yang biasa datar pecah oleh sesuatu yang Arka belum bisa baca. Di papan, angka-angka masih berubah, petugas masih menghitung.
Lututnya menyerah saat itu juga, denyut berubah jadi api, dan Arka harus menahan diri di setang agar tak meluncur jatuh. Tapi ia tersenyum, separuh meringis, karena apa pun hasilnya—ia telah melepas seluruh dirinya di waktu yang persis benar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tak menyesali satu pun putaran kaki.